Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi periode 2019–2024 Nadiem Makarim mengungkapkan argumen membawa tim pribadi dalam pengadaan program digitalisasi lantaran pegawai Kemendikbudristek tidak mempunyai kompetensi dalam membikin aplikasi.
Nadiem mengatakan dalam membangun beragam aplikasi, dibutuhkan tingkat kompetensi nan hanya bisa didapatkan dari orang-orang nan sudah mempunyai pengalaman membikin aplikasi dengan skala besar.
"Itulah kegunaan daripada tim teknologi, Tim Wartek, alias apa pun namanya GovTech dan lain-lain adalah untuk merealisasikan visi Pak Presiden dalam digitalisasi pendidikan dan hasilnya sangat jelas, pembuatan aplikasi-aplikasi nan digunakan jutaan guru," ucap Nadiem pada sidang pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (11/5/2026).
Ia menjelaskan dalam rapat kabinet paripurna pertama, terdapat pengarahan unik dari Presiden Ke-7 RI Joko Widodo kepada Kemendikbudristek untuk melaksanakan peran teknologi dalam pendidikan, salah satunya dengan membangun platform aplikasi.
Meskipun di Kemendikbudristek terdapat banyak pegawai dengan beragam keahlian dan kompetensi, Nadiem menilai belum ada stafnya kala itu nan mempunyai kompetensi dalam membangun aplikasi untuk skala besar dengan standar global.
Apalagi sistem pendidikan di Indonesia merupakan ke-4 terbesar di bumi sehingga dalam membangun aplikasi memerlukan kompetensi dari pihak nan mempunyai pengalaman dalam membikin aplikasi dengan skala besar.
"Jadi, ini argumen saya membawa talenta anak-anak muda nan idealis untuk membikin beragam software lantaran kompetensi tersebut tidak ada di dalam kementerian," ucapnya.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·