Nabung Puluhan Tahun dari Hasil Jualan Daun Pisang Antarkan Painah ke Tanah Suci

Sedang Trending 48 menit yang lalu
Painah dan anaknya saat di bus menuju ke Makkah. Foto: MCH 2026

Sosoknya tak lagi muda. Kerutan di wajahnya terlihat jelas. Meski begitu, langkahnya terlihat tegas dan gesit saat Painah (65) tiba di Bandara King Abdulaziz Jeddah Arab Saudi.

Painah merupakan salah satu jemaah asal embarkasi Yogyakarta (YIA 22) nan berhaji tahun 2026 ini. Profesinya nan membikin dirinya spesial: berdagang daun pisang.

Dari Dusun Ngegok Wonosobo, Painah berjuang puluhan tahun menabung dari lembaran daun pisang nan dia jual. Tujuannya satu: demi menginjakkan kaki di tanah suci.

Painah terbang berbareng 360 orang terdiri atas 354 jemaah dan enam petugas dengan pesawat Garuda Indonesia GA-6522 dari Yogyakarta International Airport Minggu (17/5) pukul 05.40 WIB. Ia tiba sore hari di Saudi. Painah tercatat di rombongan 6, nan ditempatkan di Sektor 8 Makkah, tepatnya di Number One Hotel 1.

Berjualan Daun Pisang

Sejak pukul 01.30 awal hari setiap harinya, Painah sudah berangkat membawa ikatan daun pisang untuk dijual ke Pasar Pagi Wonosobo. Aktivitas itu telah dia lakoni selama puluhan tahun sebagai sumber penghidupan sekaligus jalan mengumpulkan biaya haji.

“Saya itu buruh. Buruh memetik daun, setiap hari tidak pernah telat. Itu sudah lebih dari 40 tahun,” ujar Painah.

Dia menuturkan, daun pisang nan dipetik kemudian dilipat, ditimbang per kilogram, lampau dimasukkan ke dalam karung sebelum dibawa ke pasar. Selama ini, hasil dari berdagang daun pisang menjadi satu-satunya sumber pendapatan nan dia andalkan.

“Kalau sekarang memetik, lampau dilipat, ditimbang satu kilo satu kilo, lampau dimasukkan ke karung terus dijual ke pasar. Dari itu jualan daun, tidak lain-lain,” ujarnya.

Ilustrasi Jemaah Haji. Foto: SAMAREEN/Shutterstock

Harga daun pisang nan dijual berkisar Rp 2 ribu hingga Rp 5 ribu per kilogram.

Penghasilannya pun tidak menentu. Dalam sehari, dia kadang hanya membawa pulang Rp 15 ribu, namun pada hari tertentu bisa mencapai Rp 200 ribu.

Painah menyisihkan sebagian duit hasil jualannya untuk tabungan haji. Dia mengaku mulai mendaftar haji sejak tahun 2012 dan terus menabung sedikit demi sedikit dari hasil berbisnis di pasar.

"Uangnya dikumpulkan di rumah. Kalau jualan kadang dapat Rp 200 ribu, kadang Rp 100 ribu, kadang Rp 50 ribu, kadang Rp 15 ribu. Saya jualan berangkat jam separuh dua awal hari sampai menjelang Subuh,” tuturnya.

Setelah berbisnis pagi hari, dia menitipkan daun pisang ke sejumlah warung hingga siang. Jika dulu stok daun diambil dari pengepul, sekarang sebagian kebutuhan jual beli sudah berasal dari kebun pisang miliknya sendiri.

Selama 14 tahun menunggu antrean keberangkatan, Painah mengaku sempat cemas tidak sempat berangkat ke Tanah Suci lantaran aspek usia.

Dia apalagi sempat berpikir tabungan hajinya mungkin hanya bakal digunakan untuk biaya perawatan jika sakit alias meninggal sebelum berangkat.

"Remen sanget (senang sekali) bisa sampai tanah suci menjalankan ibadah haji," ungkap Painah dengan rasa penuh syukur.

Painah pergi haji tak sendiri. Ia ditemani sang putra, Sabar Munasir, 33 tahun. Sabar menggantikan Bapaknya lantaran dinyatakan tidak istithaah.

"Saya menggantikan Bapak. Bapak tidak lolos istithaah," ucap Sabar.

Sabar menambahkan, ibunya menabung selama ini pakai duit recehan.

"Daftar haji pakai duit receh. Uang receh dikumpulkan untuk menabung haji. Ibu sudah bertahun-tahun (puluhan tahun) menabung demi untuk haji," tambahnya.

Painah sendiri mengaku menabung 20 tahun untuk bisa bayar setoran awal. Setelahnya pundi-pundi hasil berdagang daun pisang dikumpulkan sebagai pelunasan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan