Jakarta, CNBC Indonesia - Para menteri finansial dari golongan tujuh negara maju (G7) menjadwalkan pertemuan darurat di Paris untuk membahas situasi di Timur Tengah nan telah memperlihatkan sungguh rapuhnya perekonomian dunia nan saling terhubung terhadap guncangan eksternal. Mengutip laporan CNBC International pada Senin (18/05/2026), konsentrasi utama pertemuan ini adalah meredam akibat perang ekonomi nan kian meluas.
Otoritas moneter Benua Biru mendesak dibukanya kembali jalur perdagangan vital internasional tersebut. Ini dilakukan demi memitigasi akibat jelek terhadap stabilitas finansial global.
"Membuka Selat Hormuz dan membawa bentrok ini ke akhir nan langgeng adalah perihal nan paling krusial dalam memitigasi akibat terhadap perekonomian," kata Presiden Eurogroup Kyriakos Pierrakakis dalam sebuah pernyataan.
Eurogroup sendiri merupakan sebuah badan nan menyatukan para menteri dari area euro dan diwakili dalam pertemuan G7 oleh Pierrakakis, nan juga menjabat sebagai Menteri Keuangan Yunani. Meskipun wilayahnya tetap bisa memperkuat dari guncangan awal krisis, pemimpin finansial Yunani tersebut tetap memberikan catatan merah mengenai prospek ekonomi ke depan jika bentrok terus berlanjut.
"Perekonomian Eropa telah terbukti handal dalam menghadapi krisis daya ini. Namun, perekonomian dunia bakal merasakan tekanannya - apalagi jika bentrok diselesaikan dengan cepat," ujar Pierrakakis.
Kekhawatiran pasar modal dunia sekarang semakin nyata setelah biaya pinjaman jangka panjang di beberapa negara ekonomi G7 melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir akibat kekhawatiran penanammodal terhadap lonjakan inflasi. Kondisi ini dipicu oleh ketatnya pasokan daya akibat perang Iran nan mencekik pasokan minyak dan gas melalui Selat Hormuz nan sangat krusial.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS apalagi dilaporkan melonjak drastis pada hari Jumat lampau menyusul rilis info inflasi nan kacau dan respons pelaku pasar terhadap kebijakan suku kembang di bawah Ketua Federal Reserve nan baru, Kevin Warsh. Tercatat, yield obligasi jangka panjang 30 tahun AS melompat nyaris 11 pedoman poin ke level 5,121%, nan merupakan nomor tertinggi sejak 22 Mei 2025 dan mendekati rekor tertinggi sejak Oktober 2023.
Situasi serupa juga melanda Eropa dan Asia, di mana imbal hasil obligasi pemerintah Inggris berjangka 30 tahun diperdagangkan pada level tertinggi sejak akhir 1990-an akibat kombinasi ketidakstabilan politik dan kekhawatiran inflasi. Jepang, sebagai negara importir daya utama nan sangat sensitif terhadap tekanan inflasi akibat perang Iran, juga menyaksikan yield obligasinya meningkat sangat drastis dalam beberapa hari terakhir.
Di sisi lain, nilai minyak mentah bumi terpantau tetap bertengger di level nan sangat tinggi di pasar komoditas global. Minyak mentah berjangka Brent untuk perjanjian Juli melesat lebih dari 3% ke level US$ 109,26 (Rp 1.912.050) per barel pada Jumat lalu, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk perjanjian Juni naik lebih dari 4% menjadi US$ 105,42 (Rp 1.844.850) per barel.
Secara kumulatif, nilai minyak mentah Brent tercatat telah meroket hingga 74% sejak awal tahun ini, meskipun nomor tersebut tetap berada di bawah level tertinggi US$ 118 (Rp 2.065.000) per barel nan sempat disentuh pada akhir April lalu.
Kondisi pasokan kian kritis lantaran persediaan minyak dunia merosot dengan kecepatan rekor demi menutupi gangguan pasokan besar di Timur Tengah, dan diprediksi bakal segera mendekati level kritis jika Selat Hormuz tidak kunjung dibuka kembali.
Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanan terbarunya pekan lampau pun sudah mengeluarkan sinyal ancaman mengenai potensi lonjakan nilai nan jauh lebih mengerikan menjelang puncak permintaan pada musim panas ini.
"Menyusutnya penyangga pasokan dengan sigap di tengah gangguan nan terus berlanjut, dapat menjadi pertanda lonjakan nilai di masa depan," tulis rilis resmi IEA memperingatkan.
(tps/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·