Ketua MPR Ahmad Muzani menegaskan sikap Indonesia terhadap Palestina tidak pernah berubah. Indonesia, kata dia, bakal terus mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk memperoleh kemerdekaan.
“Dalam persoalan Palestina, sikap Indonesia tidak pernah berubah dan tidak bergeser. Dukungan atas Perjuangan Palestina bukanlah permusuhan terhadap suatu kepercayaan alias bangsa. Dukungan terhadap kemerdekaan Palestina berakar pada sejarah perjuangan bangsa dan konstitusi,” ujar Muzani saat menyampaikan Pidato Sidang Tahunan MPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).
Muzani menuturkan Indonesia mempunyai pengalaman panjang dalam menghadapi penjajahan. Karena itu, Indonesia tidak dapat tinggal tak bersuara ketika tetap ada bangsa lain nan hidup di bawah pendudukan dan kekerasan.
“Bangsa Indonesia mengalami sendiri pahitnya kolonialisme panjang. Karena itulah kita tidak dapat berdiam diri ketika bangsa lain tetap hidup di bawah pendudukan dan kekerasan. Kita mendukung kewenangan rakyat Palestina untuk merdeka, berdaulat, dan hidup secara terhormat di tanah airnya sendiri. Rakyat dan bangsa Indonesia bakal terus berdiri berbareng rakyat Palestina,” ujarnya.
Menurut Muzani, support terhadap Palestina juga berangkaian erat dengan prinsip kedaulatan nan menjadi dasar hubungan antarnegara.
“Kedaulatan adalah keahlian bangsa menentukan jalannya sendiri, menjaga wilayahnya, melindungi rakyatnya, mengelola kekayaannya, serta mengambil sikap berasas kepentingan nasional dan prinsip-prinsip nan diyakininya. Konstitusi kita memberikan arah nan sangat jelas,” tuturnya.
Dia menegaskan konstitusi Indonesia memberikan mandat agar Indonesia ikut menciptakan ketertiban bumi nan berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
“Indonesia bertanggung jawab ikut melaksanakan ketertiban bumi nan berasas kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Karena itu, politik luar negeri bebas-aktif berfaedah bebas menentukan pendirian berasas kepentingan nasional. Tidak memihak salah satu blok mana pun,” ungkapnya.
Muzani juga menekankan konsistensi Indonesia dalam menolak perang sebagai langkah untuk menyelesaikan perselisihan antarnegara. Menurutnya, setiap negara mempunyai kewenangan atas kedaulatan wilayah dan kemerdekaan politik nan kudu dihormati.
“Indonesia kudu tetap konsisten menolak perang sebagai langkah menyelesaikan perselisihan antarnegara. Dalam bahasa nan sederhana sering disampaikan oleh Presiden Prabowo seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak,” jelas Muzani.
“Serangan terhadap negara nan berdaulat, tidak dapat dibenarkan. Kedaulatan wilayah dan kemerdekaan politik setiap negara wajib dihormati,” sambungnya.
Muzani menegaskan tidak ada negara nan semestinya mempunyai kewenangan untuk menentukan nasib bangsa lain. Karena itu, dia menyerukan penghentian perang, termasuk bentrok nan tetap berjalan di area Timur Tengah.
“Tidak boleh ada negara mana pun nan merasa berkuasa untuk menentukan nasib bangsa lain. Karena itu melalui mimbar nan terhormat ini, kami menyerukan penghentian perang di area Timur Tengah dan bagian bumi lainnya,” katanya.
Dia juga mendorong penyelesaian bentrok melalui jalur diplomasi.
“Mengutamakan diplomasi sebagai jalan untuk membicarakan semua perbedaan,” tutur dia.
Muzani mengatakan proses menuju perdamaian memerlukan kesabaran dan kemauan untuk saling mendengarkan.
“Kita tidak boleh kehilangan kata dan kesabaran untuk mencari jalan perdamaian melalui meja perundingan. Perdamaian adalah keberanian untuk menahan diri, kesediaan mendengar, dan keahlian menempatkan kehidupan manusia di atas ambisi kekuasaan. Dunia tidak memerlukan perang, bumi memerlukan keberanian untuk berdamai,” pungkas dia.
46 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·