Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberi peringatan cuaca ekstrem kepada masyarakat Indonesia, terutama beberapa wilayah di Sumatra dan Jawa dalam sepekan ke depan. Hasil kajian BMKG, meski saat ini Indonesia sudah memasuki periode musim kemarau, tetapi potensi terjadinya hujan lebat hingga angin kencang tetap cukup tinggi.
Sebelumnya, BMKG mencatat, hingga akhir Maret 2026, sebanyak 7% Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Jumlah ini bakal terus bertambah signifikan. Prakiraan BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia bakal mulai memasuki musim tandus pada bulan April, Mei, dan Juni 2026.
Pada periode 2 - 5 April 2026, BMKG mencatat sejumlah wilayah di Indonesia mengalami hujan dengan intensitas kencang. Artinya, potensi hujan ekstrem tetap terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Dijelaskan, kondisi ini dipengaruhi oleh tetap aktifnya gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) di beberapa wilayah, serta kejadian MJO nan melintasi sebagian besar Sumatra. Selain itu, masa peralihan dari Monsun Asia ke Monsun Australia juga turut membentuk pola sirkulasi udara dan wilayah konvergensi di sejumlah wilayah.
Faktor lain seperti perlambatan angin dan pemanasan permukaan nan cukup kuat pada siang hari semakin mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif nan berpotensi menimbulkan hujan. Di sisi lain, BMKG memantau adanya sirkulasi siklonik di Perairan barat daya Aceh, Samudra Hindia barat daya Lampung, Laut Banda, dan Laut Arafuru nan memicu terbentuknya wilayah pertemuan angin, konvergensi, dan konfluensi nan dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan, baik di sekitar pusat sirkulasi maupun di sepanjang wilayah nan terdampak pola angin tersebut.
Potensi Cuaca Sepekan ke depan
Dalam sepekan ke depan, BMKG memprediksi kondisi cuaca di Indonesia tetap dipengaruhi oleh dinamika atmosfer skala global, regional, dan lokal.
Pada skala global, kejadian El Niño-Southern Oscillation (ENSO) berada pada fase netral terlihat dari indeks NINO 3.4 sebesar -0,42, nan tidak memberikan peningkatan nan signifikan terhadap aktivitas konvektif di wilayah Indonesia. Sementara, nilai Dipole Mode Index (DMI) sebesar -0,25 dan berada pada fase netral nan menunjukkan tidak adanya aliran udara signifikan dari Samudra Hindia timur Afrika ke wilayah Indonesia, khususnya bagian barat, sehingga pengaruhnya terhadap pengedaran curah hujan di Indonesia juga tetap terbatas.
Adapun pada skala regional, Monsun Australia terpantau semakin menguat dan diprakirakan tetap bakal terus menguat dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini mendorong peningkatan massa udara dari Australia menuju Indonesia nan umumnya berkarakter lebih kering. Konsisten dengan perihal tersebut, kajian menunjukkan kekuasaan angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia, nan mengindikasikan bahwa sejumlah wilayah mulai mengalami masa peralihan menuju musim kemarau.
"Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan melintasi sebagian besar wilayah Sumatra, sebagian Kalimantan Barat, dan sebagian Papua, sehingga berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut," demikian penjelasan BMKG dalam rilis Potensi Hujan di Indonesia Sepekan ke depan, periode tanggal 7-13 April 2026, dikutip Kamis (9/4/2026).
Selain itu, gelombang Rossby Equatorial nan berpropagasi ke arah barat juga diprakirakan aktif melintasi sebagian wilayah Sumatra, Jawa, Bali, NTB, NTT, dan sebagian wilayah Pulau Papua. Sementara itu, gelombang Kelvin nan berpropagasi ke arah timur diprakirakan turut aktif dan melintasi sebagian besar wilayah Sumatra.
Selain aspek tersebut, sirkulasi siklonik juga berpotensi terbentuk di Laut Cina Selatan, Perairan utara Aceh, Samudra Hindia barat daya Lampung, Laut Jawa, Laut Sulawesi, dan Laut Banda. Sistem-sistem ini membentuk wilayah konvergensi dan konfluensi nan berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.
Pada skala lokal, labilitas atmosfer juga terpantau cukup kuat di sejumlah wilayah, nan turut mendukung proses konvektif. Adapun wilayah-wilayah tersebut meliputi Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Peringatan Dini BMKG
Berikut wilayah di Indonesia nan berpotensi dilanda hujan sedang hingga lebat dalam sepekan ke depan.
Periode 7 - 9 April 2026
1. Hujan dengan intensitas sedang-lebat berpotensi terjadi di:
Sumatra Utara,
Sumatra Barat,
Riau,
Jambi,
Sumatra Selatan,
Kepulauan Bangka Belitung,
Bengkulu,
Lampung,
Banten,
DKI Jakarta,
Jawa Barat,
Jawa Tengah,
DI Yogyakarta,
Jawa Timur,
Bali,
Nusa Tenggara Barat (NTB),
Nusa Tenggara Timur (NTT),
Kalimantan Barat,
Kalimantan Tengah,
Kalimantan Timur,
Kalimantan Utara,
Kalimantan Selatan,
Sulawesi Utara,
Sulawesi Tengah,
Sulawesi Barat,
Sulawesi Selatan,
Sulawesi Tenggara,
Maluku Utara,
Maluku,
Papua Barat,
Papua Tengah,
Papua,
Papua Pegunungan,
Papua Selatan
2. Hujan dengan intensitas sangat lebat berpotensi terjadi di:
Sumatra Utara,
Lampung,
Banten,
Jawa Barat,
Jawa Timur,
Nusa Tenggara Timur (NTT),
Sulawesi Tengah,
Maluku,
Papua Pegunungan,
Papua Selatan.
3. Angin kencang berpotensi terjadi di:
Bengkulu,
Papua,
Papua Barat.
Periode 10 - 13 April 2026
1. Hujan dengan intensitas sedang-lebat berpotensi terjadi di:
Aceh,
Sumatra Utara,
Sumatra Barat,
Riau,
Jambi,
Sumatra Selatan,
Kepulauan Bangka Belitung,
Bengkulu,
Lampung,
Banten,
Jawa Barat,
Jawa Tengah,
D.I Yogyakarta,
Jawa Timur,
Bali,
NTB,
NTT,
Kalimantan Barat,
Kalimantan Tengah,
Kalimantan Timur,
Kalimantan Utara,
Kalimantan Selatan,
Sulawesi Utara,
Gorontalo,
Sulawesi Tengah,
Sulawesi Barat,
Sulawesi Selatan,
Sulawesi Tenggara,
Maluku Utara,
Maluku,
Papua Barat Daya,
Papua Barat,
Papua Tengah,
Papua Pegunungan,
Papua,
Papua Selatan.
2. Hujan dengan intensitas sangat lebat berpotensi terjadi di:
Aceh,
Jawa Timur,
Sulawesi Selatan,
Papua Pegunungan.
3. Angin kencang berpotensi terjadi di:
Papua,
Papua Barat.
BMKG mengimbau kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem nan dapat memicu musibah hidrometeorologi. Bagi pengendara motor, BMKG juga mengimbau untuk mewaspadai terhadap potensi hujan lebat nan dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, nan berpotensi mengganggu kelancaran perjalanan.
"Masyarakat diimbau mewaspadai potensi pohon alias cabang tumbang, iklan roboh, genangan, dan sambaran petir dengan menghindari berlindung di bawah pohon, papan reklame, alias gedung rapuh, serta membatasi aktivitas di ruang terbuka saat hujan disertai angin kencang dan petir," terang BMKG.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·