Selama bertahun-tahun, saya mengira belajar terjadi ketika seorang anak duduk tenang di kelas, mendengarkan guru, lampau mengerjakan tugas nan diberikan. Karena itu, ketika berjumpa seorang siswa nan nyaris tidak pernah nyaman berada di kelas, saya menganggapnya sebagai masalah nan kudu segera diperbaiki. Baru belakangan saya menyadari kemungkinan lain nan tidak pernah terpikir sebelumnya: mungkin masalahnya bukan pada anak itu. Mungkin kita terlalu sempit mendefinisikan apa itu belajar.
Murid tersebut nyaris setiap hari keluar masuk kelas. Saat pelajaran berlangsung, dia bisa melangkah ke ruang guru, menyapa petugas administrasi, berbincang dengan kepala sekolah, lampau melanjutkan langkahnya ke perspektif lain sekolah.
Sebagai guru, saya tentu berupaya membuatnya lebih lama memperkuat di kelas. Saya mengingatkan, membikin kesepakatan, dan mencoba beragam pendekatan nan saya pelajari selama mengajar. Sebagian berhasil, sebagian tidak. Namun semakin lama saya mendampinginya, semakin kuat emosi bahwa ada sesuatu nan belum saya pahami.
Perubahan langkah pandang saya terjadi ketika saya mulai memperhatikan bukan hanya apa nan tidak bisa dia lakukan, melainkan juga apa nan sebenarnya sedang berkembang dalam dirinya.
Suatu hari seorang tamu datang ke sekolah. Sebelum saya sempat menyapanya, siswa itu sudah lebih dulu mendekat. Ia mengucapkan salam, menunjukkan arah ruangan nan dituju, lampau mengobrol dengan santuy seolah sudah lama mengenalnya. Saya memperhatikannya dari kejauhan. Anak nan kesulitan duduk tenang di kelas itu tampak begitu percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain.
Pengalaman-pengalaman mini seperti itu terus berulang. Ia mengenal nyaris semua orang di sekolah. Ia hafal nama petugas kebersihan, mengetahui siapa pembimbing nan sedang sibuk, dan sering menjadi orang pertama nan menyambut tamu nan datang. Saat itulah saya mulai bertanya pada diri sendiri: Bagaimana jika nan sedang berkembang pada anak ini bukan keahlian duduk diamnya, melainkan keahlian membangun hubungan dengan orang lain?
Pertanyaan itu membawa saya pada refleksi nan lebih besar tentang langkah sekolah memandang proses belajar. Sebagian besar sistem pendidikan kita tetap dibangun di atas dugaan bahwa belajar terjadi ketika anak duduk rapi, mendengarkan penjelasan guru, lampau menunjukkan pemahamannya melalui tugas alias ujian.
Model ini tentu efektif bagi banyak anak, tetapi tidak bagi semua anak. Ketika ada anak nan lebih banyak bergerak, kita segera bertanya gimana membuatnya diam. Ketika ada anak nan susah memperkuat lama di kursi, kita bertanya gimana membuatnya lebih patuh. Jarang sekali kita bertanya apa nan sebenarnya sedang dipelajari anak tersebut melalui langkah nan berbeda.
Gagasan tentang keragaman langkah belajar sebenarnya bukan perihal baru. Psikolog Harvard, Howard Gardner, sejak lama mengingatkan bahwa kepintaran manusia tidak hanya datang dalam corak keahlian bahasa dan logika. Ada anak nan berkembang melalui hubungan sosial, mobilitas tubuh, produktivitas visual, musik, alias pengamatan terhadap lingkungan.
Terlepas dari beragam perdebatan akademik mengenai teorinya, pesan krusial nan bisa kita ambil adalah bahwa manusia belajar dengan langkah nan beragam. Masalah muncul ketika sekolah tanpa sadar menganggap satu langkah belajar sebagai standar, sementara langkah lainnya diperlakukan sebagai penyimpangan.
Namun semakin lama mengajar, saya justru merasa bahwa inti persoalannya bukan terletak pada teori kecerdasan. Persoalannya terletak pada kecenderungan kita untuk lebih sigap memandang kekurangan daripada kekuatan. Ketika seorang anak tidak sesuai dengan ekspektasi sekolah, perhatian kita langsung tertuju pada apa nan perlu diperbaiki. Kita jarang bertanya potensi apa nan sedang tumbuh di kembali perilaku nan dianggap mengganggu itu.
Pengalaman mendampingi siswa tersebut mengajarkan sesuatu nan tidak pernah saya temukan dalam training guru. Terkadang tugas pembimbing bukan segera memperbaiki perilaku anak, melainkan menahan diri cukup lama untuk memahami apa nan sedang ditunjukkan anak itu kepada kita.
Mengapa dia selalu bergerak? Mengapa dia tampak lebih hidup ketika berinteraksi dengan banyak orang? Mengapa dia belajar dengan ritme nan berbeda? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering kali lebih berfaedah daripada sekadar mencari langkah agar anak menjadi sama dengan teman-temannya.
Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa semua perilaku kudu dibiarkan. Anak tetap perlu belajar menghargai aturan, mengembangkan keahlian mengelola diri, dan memahami tanggung jawab. Namun, membimbing berbeda dengan menyeragamkan. Mendidik berbeda dengan memaksa semua anak tumbuh melalui jalur nan sama. Ada perbedaan krusial antara membantu anak berkembang dan memaksa anak menjadi orang lain.
Hari ini saya tetap percaya bahwa siswa tersebut perlu belajar duduk lebih lama ketika situasi menuntutnya. Namun saya juga percaya bahwa kami para pembimbing perlu belajar sesuatu darinya.
Bahwa tidak semua pembelajaran terjadi di dalam kelas. Bahwa tidak semua kepintaran tecermin dalam nomor rapor. Dan bahwa tidak semua siswa nan susah dipahami sedang bermasalah. Sebagian mungkin sedang menunjukkan kepada kita bahwa langkah belajar manusia jauh lebih luas daripada nan selama ini kita bayangkan.
Sekian lama, saya berupaya mengajari siswa itu agar lebih nyaman di kelas. Hari ini saya justru bertanya-tanya: jangan-jangan siswa itulah nan sedang mengajari saya bahwa belajar tidak selalu terjadi di dalam kelas.
Dan mungkin, pelajaran itu adalah salah satu pelajaran terpenting nan saya terima sebagai guru.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·