Multaqa Daiyah Nasional untuk Palestina nan digelar KDIQP berbareng KPIPA di Jakarta, Minggu (22/6).(MI/HO)
KOALISI Daiyah untuk Al-Quds dan Palestina (KDIQP) berbareng Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al-Aqsha (KPIPA) sukses menggelar Multaqa Daiyah Nasional untuk Palestina di Jakarta, Minggu (22/6).
Mengusung tema "Suara Daiyah, Harapan untuk Palestina", agenda strategis nan perdana digelar di tingkat nasional ini mempertemukan perwakilan 10 ormas muslimah serta utusan daiyah dari beragam wilayah Indonesia, mulai dari Aceh hingga Kalimantan Utara.
Pertemuan ini dikemas dalam corak Focus Group Discussion (FGD) untuk menjaring masukan konkret dari para daiyah nan bergerak di akar rumput.
Ketua KPIPA, Nurjanah Hulwani, menegaskan bahwa hasil dari pertemuan ini bakal langsung diintegrasikan ke dalam program kerja nyata.
"Multaqa Daiyah hari ini menghasilkan rekomendasi nan bakal dimasukkan ke dalam program. Selanjutnya kita bakal corak forum daiyah dan melaksanakan pertemuan secara rutin, baik secara daring maupun luring," ujar Nurjanah.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya menyelipkan edukasi Palestina ke dalam kajian Majelis Taklim (MT) secara taktis. Menurutnya, materi kudu dikemas secara elastis agar mudah dipahami oleh beragam lapisan jemaah, baik masyarakat menengah ke bawah, ibu-ibu sosialita, hingga MT perkantoran.
Senada dengan perihal itu, Ketua Panitia Erika Suryani berambisi forum ini bisa melahirkan aktivitas riil nan dipelopori oleh para pendakwah perempuan.
"Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kita peduli dan berkontribusi dalam upaya menyelamatkan kerabat nan sedang tertindas. Kami berharap, bunyi da'i menjadi cerobong nan bakal memberi masukan untuk kita bergerak bagi Palestina," ucap Erika.
Pesan Kebangsaan dan Tiga Peran Daiyah
Hadir sebagai pembicara kunci (keynote speaker), Wakil Ketua Ikatan Ulama Muslim Sedunia (IUMS), Dr. Salim Segaf Al Jufri, memberikan apresiasi tinggi atas inisiasi ini. Ia menantang para daiyah untuk merumuskan timeline nan jelas menuju kemerdekaan Palestina, sejalan dengan petunjuk konstitusi Indonesia.
"Permasalahan Palestina nan mendasar adalah gimana mereka meraih kemerdekaan. Ini nan paling penting. Seperti nan tercantum dalam pembukaan UUD 45, salah satu tujuan negara Indonesia adalah ikut melaksanakan ketertiban bumi berasas kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Maka, tanggungjawab kita untuk menyuarakan kemerdekaan Palestina," tegas Salim.
Lebih lanjut, Salim memaparkan tiga peran utama nan kudu diemban oleh bunyi para daiyah:
-
Suara Kebenaran: Tidak berdiam diri di hadapan kezaliman.
-
Suara Persatuan Umat: Memperkuat ukhuwah islamiyah, wathaniyah (kebangsaan), dan insaniyah (kemanusiaan).
-
Suara Harapan: Selalu menumbuhkan optimisme di tengah umat.
Untuk memperkaya perspektif peserta, forum ini juga membedah empat topik utama nan dibawakan oleh para pakar:
-
Militansi Pimpinan dan Masyarakat Zionis dalam Upaya Menghancurkan Masjid Al Aqsa oleh Mohammad Novel Ariyadi.
-
Kedudukan Masjid Al Aqsa dan Peran Umat oleh Dr. Saiful Bahri.
-
Peran Daiyah dalam Membela Palestina oleh Eva Muzlifah.
-
Kondisi Palestina Terkini oleh Nurjanah Hulwani.
7 Poin Rekomendasi Multaqa Daiyah Nasional 2026
Sebagai output konkret dari FGD, Multaqo Daiyah Nasional untuk Palestina 2026 resmi menyepakati tujuh butir rekomendasi. Edukasi Palestina ke depan bakal disusun secara bertahap, menyesuaikan karakter jemaah, serta dikaitkan dengan rumor kedekatan family (perempuan, anak, dan remaja).
Berikut adalah 7 poin rekomendasi nan disepakati:
-
Penguatan Kapasitas: Meningkatkan wawasan kepalestinaan para ustadzah/daiyah melalui pembekalan materi dasar secara rutin.
-
Struktur Organisasi: Membentuk bagian alias bagian unik kepalestinaan di setiap ormas dan lembaga Muslimah.
-
Standardisasi Bahan Ajar: Menyusun bahan ajar Palestina serta mengadakan Training for Trainer (TFT) untuk seluruh lembaga dan organisasi di bawah pedoman KDIQP dan KPIPA.
-
Skala Prioritas Materi: Menyusun materi kurikulum berasas tingkatan (materi dasar dan materi unik sesuai segmen jemaah) nan dilengkapi dengan pembaruan kondisi terkini di Palestina.
-
Kontekstualisasi Isu: Menyusun materi Palestina nan dikaitkan dengan tema kedekatan jemaah, khususnya rumor keteladanan keluarga, perempuan, anak, dan remaja.
-
Konsistensi Dakwah: Melaksanakan kajian tentang kepalestinaan secara rutin di beragam forum.
-
Advokasi Kebijakan: Melakukan kunjungan audiensi strategis ke Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama. (Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·