Ilustrasi(Dok MUI)
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), M. Cholil Nafis, menyampaikan pesan kebangsaan dalam menyambut momentum Tahun Baru 1448 Hijriah. Dia menekankan bahwa dalam konteks bernegara, persatuan merupakan tulang punggung utama nan tidak boleh goyah agar Indonesia bisa mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan.
Cholil membujuk umat Islam untuk meneladani Rasulullah SAW saat membangun peradaban di Madinah. Kala itu, langkah awal nan diambil Nabi Muhammad SAW bukanlah menyeragamkan perbedaan, melainkan mengikat seluruh komponen masyarakat dalam satu ikatan persatuan.
"Nabi Muhammad SAW ketika membentuk negara Madinah, Piagam Madinah pada pasal pertama menyerukan persatuan: Innahum ummatun wahidatun min duunin naas. Karena tidak mungkin membangun kesejahteraan dan kemajuan tanpa persatuan," ungkapnya dilansir dari keterangan resmi, Selasa (16/6).
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini memaparkan bahwa prinsip Piagam Madinah membuktikan bahwa perbedaan suku, ras, hingga kepercayaan adalah fitrah kemanusiaan nan kudu dibiarkan tumbuh. Namun, semua perbedaan itu wajib disatukan oleh satu komitmen besar, ialah cinta Tanah Air.
"Perbedaan agama, suku, ras itu dibiarkan sesuai dengan fitrahnya kita berbeda. Tapi kita ada satu kata, satu kesepakatan ialah memihak tanah air. Jadi nasionalisme cinta tanah air menjadi referensi untuk membangun persatuan kita," tegas Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI tersebut.
Guna mewujudkan persatuan nan kokoh di tengah masyarakat, Cholil membagikan tiga tahapan krusial nan saling berkesinambungan, ialah tafahum (saling memahami), ta'wun (saling menolong), dan takaful (saling melindungi).
Rais Syuriah PBNU ini mengingatkan bahwa spirit hijrah di era modern kudu ditarik ke dalam ranah sosial-ekonomi. Terlebih di tengah impitan ekonomi saat ini, umat Islam dituntut untuk berdikari secara finansial agar tidak membebani orang lain, lampau menggunakan kelebihan tersebut untuk menyejahterakan sesama.
"Maka setelah itu tidak ada hijrah tempat, tapi hijrah gimana dari keburukan menjadi kebaikan, dari spirit sifatnya perseorangan menjadi kepentingan umum, spirit nan hanya temporal menjadi untuk nan selamanya," tambahnya.
Seraya mengucap syukur atas hidayah umur panjang hingga bisa memasuki tahun 1448 Hijriah, Kiai Cholil berambisi momentum ini membawa keberkahan bagi bangsa Indonesia.
"Mudah-mudahan tambah umur, tambah kebaikan, tambah keberkahan, tambah dekat dengan Allah SWT," pungkasnya.(H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·