Seskab Teddy Dinilai Responsif Jelaskan Kenaikan Harga Pertamax

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Seskab Teddy Indra Wijaya menerima CEO GoTo, Hans Patuwo, di instansi Sekretariat Kabinet, Jumat (22/5/2026). Foto: Instagram/ @sekertariat.kabinet

Pengamat politik sekaligus founder Lembaga Survei KedaiKOPI Hendri Satrio (Hensa) mengapresiasi langkah Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya nan memberikan penjelasan mengenai kenaikan nilai Pertamax melalui akun IG Sekretariat Kabinet.

Menurutnya, langkah itu menunjukkan adanya upaya pemerintah untuk berkomunikasi dengan masyarakat di tengah sorotan publik terhadap kenaikan nilai bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi tersebut.

Hensa menilai penjelasan nan disampaikan Teddy menjadi corak respons pemerintah.

“Apa nan dilakukan Teddy itu meski bagus, tetapi itu minimum banget dan lagi-lagi Teddy nan pasang badan,” kata Hensa, dikutip dari Antara, Selasa (16/6).

Hensa menilai komunikasi pemerintah mengenai kenaikan nilai Pertamax dapat dilakukan lebih optimal. Menurutnya, kebijakan nan berakibat langsung terhadap masyarakat semestinya disampaikan secara terbuka dengan penjelasan nan komprehensif.

Ia menekankan masyarakat perlu mendapatkan info nan utuh mengenai argumen kenaikan harga, sistem penetapan harga, hingga dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

“Harusnya kenaikan Pertamax ini diumumkan secara lisan, ada konvensi persnya dan dijelaskan secara rinci kenapa harganya naik, apa dampaknya ke masyarakat,” ujar Hensa.

Hendri Satrio saat aktivitas Launching & Bedah Buku: Estafet Ideologi Sumitro ke Prabowo (Komunikasi Politik, Ekonomi, dan Momentum Perubahan di Peralihan Zaman) karya Dr. Hendri Satrio, Universitas Paramadina, Jakarta (10/6/2026). Foto: Dok. KedaiKOPI

Sebelumnya, Teddy menjelaskan bahwa Pertamax merupakan BBM nonsubsidi sehingga nilai jualnya mengikuti perkembangan nilai minyak dunia. Penjelasan itu disampaikan melalui unggahan di akun IG Sekretariat Kabinet menyusul kenaikan nilai Pertamax nan bertindak sejak Rabu (10/6) lalu.

Dalam unggahan tersebut, Teddy juga menegaskan pemerintah tidak meningkatkan nilai BBM bersubsidi meskipun terjadi gejolak nilai daya global.

“Pertamax adalah BBM nonsubsidi. Artinya, nilai Pertamax kudu mengikuti nilai minyak dunia. Apa saja BBM bersubsidi? Pertalite dan Solar. Harga BBM subsidi tidak naik,” kata Teddy.

Ia menjelaskan, nilai BBM nonsubsidi di Indonesia tetap relatif lebih rendah dibandingkan nilai BBM RON 92/95 di sejumlah negara Asia Tenggara seperti Filipina, Laos, Thailand, Myanmar, dan Singapura.

Kenaikan nilai Pertamax terjadi di tengah lonjakan nilai minyak bumi nan dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik internasional. Dalam beberapa waktu terakhir, nilai minyak mengalami tekanan akibat perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

Meski demikian, pemerintah memutuskan untuk mempertahankan nilai BBM subsidi. Harga Pertalite tetap berada di level Rp 10.000 per liter, sedangkan Solar subsidi dipatok Rp 6.800 per liter.

Sementara itu, nilai Pertamax sebagai BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian dari sebelumnya Rp 12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan