MSCI Soroti Pasar Modal RI, Fundamental Ekonomi Domestik Dinilai Masih Kuat

Sedang Trending 6 jam yang lalu
Pekerja melintas di depan layar nan menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyoroti pasar modal Indonesia dalam Global Market Accessibility Review 2026. MSCI tetap mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market, namun menurunkan aspek arus info alias information flow.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, catatan MSCI justru menegaskan bahwa esensial ekonomi dan akses pasar Indonesia tetap kuat.

"Yang menjadi perhatian adalah aspek transparansi dan integritas pasar, dan di sinilah Pemerintah berbareng OJK dan BEI telah dan terus melakukan reformasi secara konkret, mulai dari penyesuaian free float, keterbukaan pemilik faedah akhir, hingga pendalaman pasar. Kami optimistis Indonesia tetap berada pada jalur emerging market, dan Pemerintah berkomitmen menuntaskan agenda reformasi ini untuk menjaga kepercayaan investor,” ujar Airlangga dalam keterangannya, Jumat (19/6), menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga kepercayaan penanammodal terhadap pasar modal nasional.

MSCI menggarisbawahi bahwa akses, ukuran, dan likuiditas pasar Indonesia tetap dinilai memadai, dan tidak terdapat rumor pembatasan kepemilikan asing nan menjadi sorotan pada tinjauan tahun ini. Ruang perbaikan nan disoroti berfokus pada peningkatan kualitas keterbukaan struktur kepemilikan saham dan penguatan integritas pembentukan harga, area nan justru tengah menjadi prioritas reformasi Pemerintah berbareng otoritas.

Menurutnya, catatan atas penyediaan info pasar dalam bahasa Inggris pun siap dioptimalkan guna meningkatkan kemudahan akses bagi penanammodal global.

Secara agregat, MSCI menyatakan bahwa pada siklus tahun ini terdapat lebih banyak perbaikan dibandingkan penurunan penilaian di golongan emerging markets. Penyesuaian penilaian aksesibilitas pasar pada 2026 hanya dialami oleh Indonesia dan Turki. Penting digarisbawahi bahwa penyesuaian ini tidak mengubah status Indonesia sebagai pasar negara berkembang. Keputusan pengelompokkan pasar secara resmi bakal diumumkan MSCI melalui Annual Market Classification Review pada 23 Juni 2026.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (19/3). Foto: Zamachsyari/kumparan

Global Chief Economist Juwai IQI, Shan Saeed, mengatakan bahwa perhatian MSCI terhadap pasar modal Indonesia dapat menjadi katalis positif untuk memperkuat daya saing pasar finansial nasional.

“Sejarah menunjukkan bahwa pasar modal nan sukses dibangun melalui proses perbaikan berkelanjutan. Korea Selatan dan India memperkuat daya saing pasar mereka melalui modernisasi regulasi, peningkatan tata kelola, dan transparansi nan lebih baik. Indonesia mempunyai kesempatan nan sama untuk melakukan perihal tersebut,” kata Shan dalam keterangannya, Kamis (19/6).

Dia melanjutkan, prospek ekonomi Indonesia tetap sangat menjanjikan. Ia memandang kombinasi pertumbuhan ekonomi nan kuat, struktur demografi nan produktif, disiplin fiskal, kekayaan sumber daya alam, serta berlanjutnya agenda reformasi menjadi modal krusial bagi Indonesia untuk terus berkembang.

“Di tengah ekonomi dunia nan semakin terfragmentasi, negara nan mempunyai kombinasi skala, stabilitas, demografi, sumber daya alam, dan momentum reformasi semakin langka. Indonesia tetap menjadi salah satu di antaranya,” jelasnya.

instagram embed

Shan menilai, kekuatan esensial ekonomi Indonesia tetap terjaga dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan prospek pertumbuhan paling menarik di kawasan.

“Ekonomi besar tidak ditentukan oleh seberapa besar sorotan nan mereka hadapi, tetapi oleh keahlian mereka mengubah sorotan tersebut menjadi reformasi, reformasi menjadi kepercayaan, dan kepercayaan menjadi pembentukan modal jangka panjang. Trajektori Indonesia menunjukkan bahwa negara ini sedang melakukan perihal tersebut,” katanya.

Optimisme tersebut didukung oleh capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia nan mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat, baik di area ASEAN maupun golongan G20.

Menurut Shan, si saat banyak negara maju hanya mencatatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 1-2 persen, Indonesia tetap bisa mempertahankan laju ekspansi ekonomi di atas 5 persen.

Shan menjelaskan, daya tahan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi domestik nan kuat, arus investasi nan terus masuk, serta kebijakan makroekonomi nan dinilai kredibel.

Konsumsi rumah tangga nan menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB) tercatat tumbuh 5,52 persen, sementara realisasi investasi pada kuartal pertama 2026 mencapai sekitar Rp498,8 triliun.

Selain itu, posisi persediaan devisa Indonesia nan mencapai sekitar USD146 miliar di akhir Mei 2026 dan rasio utang pemerintah nan tetap berada di bawah 40 persen terhadap PDB. Angka ini dinilai memberikan ruang nan cukup bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.

“Investor dunia mencari tiga hal, ialah pertumbuhan, stabilitas, dan skala. Indonesia menawarkan ketiganya. Pertumbuhan ekonomi tetap berada di atas 5 persen, stabilitas makroekonomi terjaga, dan pasar domestik berpenduduk sekitar 285 juta jiwa memberikan skala nan susah ditandingi oleh banyak negara berkembang lainnya,” jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyatakan hasil catatan MSCI tersebut merupakan arah reformasi pasar modal Indonesia untuk terus memperkuat kualitas transparansi dan identifikasi perdagangan terkoordinasi serta daya saing pasar.

“OJK mencermati hasil MSCI Global Market Accessibility Review 2026 nan secara umum kebanyakan aspek aksesibilitas pasar Indonesia tetap terjaga dan tidak mengalami perubahan nan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, namun juga ada catatan untuk arah perbaikan pasar modal ke depan,” ucap Hasan dalam keterangan tertulis.

Hasan menjelaskan, dari lima segmen Market Accessibility nan mencakup 18 kriteria penilaian, hasil asesmen MSCI pada dasarnya tetap sama seperti tahun sebelumnya. Perubahan hanya terjadi pada satu kriteria, ialah Information Flow di segmen Market Infrastructure.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan