
MSCI Beri Catatan ke BEI (Foto: Okezone)
JAKARTA - Morgan Stanley Capital International (MSCI) memberikan setidaknya dua catatan untuk pasar modal Indonesia menyangkut transparansi dalam Global Market Accessibility Review 2026.
Dalam riset terbaru Henan Sekuritas dan Henan Asset, disebutkan bahwa dalam tinjauan MSCI tahun ini nan paling menarik perhatian adalah kriteria Information Flow (Arus Informasi). Jika pada tahun sebelumnya kriteria ini tidak bermasalah, sekarang MSCI memberikan tanda minus untuk pasar modal Indonesia.
"Pemicu utama perubahan penilaian tahun ini adalah kekhawatiran tentang transparansi kepemilikan saham dan adanya indikasi aktivitas perdagangan terkoordinasi nan mengganggu sistem pembentukan nilai wajar," tulis riset Henan Sekuritas diikutip Sabtu (20/6/2026).
Sementara itu, satu catatan minus lainnya terletak pada kriteria Foreign Exchange Market Liberalization. Namun, Henan menilai perihal ini bukan buletin baru bagi pasar. Keterbatasan pasar valas offshore merupakan bagian dari arsitektur kebijakan Bank Indonesia untuk mempertahankan stabilitas Rupiah nan saat ini berada di kisaran Rp 17.794 per dolar AS dengan BI Rate di level 5,75 persen.
Meski mempunyai dua catatan minus, posisi Indonesia dinilai tetap cukup kompetitif dibandingkan negara Emerging Market lainnya. Sebagai perbandingan, India tercatat mempunyai tujuh kriteria minus. Dengan 16 dari 18 kriteria nan bersih (nilai ++), pengelompokkan Indonesia dalam golongan Emerging Market diprediksi tetap sangat layak dipertahankan.
"Mayoritas kriteria Indonesia tetap solid. Kita berada di posisi nan setara dengan Malaysia alias apalagi lebih baik dari India dalam konteks aksesibilitas pasar per Juni 2026 ini," tambah riset tersebut.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·