Jakarta -
Anggota MPR RI dari Kelompok DPD RI Habib Said Abdurrahman mengatakan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI merupakan salah satu metode sosialisasi nan dirancang MPR RI untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda. Metodenya ialah melalui format kejuaraan nan edukatif.
"Lomba ini tidak hanya menguji pengetahuan peserta mengenai Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, tetapi juga melatih daya nalar, ketajaman berpikir, serta keahlian bekerja sama dalam suasana kompetitif nan sehat," jelas Habib Said dalam keterangan tertulis, Sabtu (13/6/2026).
Ia menegaskan, aktivitas tersebut menjadi wahana pembelajaran sekaligus sarana pembentukan karakter agar peserta tumbuh sebagai generasi nan cerdas, berintegritas, dan mempunyai komitmen kuat terhadap persatuan bangsa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini dia katakan saat membuka secara resmi Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah di Kalawa Convention Hall, Palangka Raya, hari ini.
Kegiatan nan menjadi bagian dari metode Sosialisasi Empat Pilar MPR RI tersebut dihadiri Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah beserta jejeran Sekretariat Jenderal MPR RI, perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, serta perwakilan Kantor DPD RI Kalimantan Tengah.
Sebanyak sembilan sekolah mengikuti kejuaraan tingkat provinsi ini, ialah SMAN 2 Sampit, SMAN 2 Danau Sembuluh, SMAN 1 Pangkalan Bun, SMAN 1 Dusun Tengah, SMAN 2 Katingan Kuala, SMAN 1 Kuala Kurun, SMAN 1 Buntok, MAN Barito Utara, dan SMAN 3 Palangka Raya.
Pemenang lomba bakal mewakili Kalimantan Tengah pada Grand Final LCC Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat nasional.
Habib Said menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak nan terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan, mulai dari Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, kepala sekolah, pembimbing pembina, majelis juri, hingga panitia pelaksana.
Habib Said juga menjelaskan penyelenggaraan LCC Empat Pilar tahun ini sempat mengalami penundaan selama sekitar tiga minggu. Namun, penundaan tersebut dilakukan sebagai bagian dari proses pertimbangan dan penyempurnaan sistem guna meningkatkan kualitas penyelenggaraan lomba dari sisi teknis maupun substansi.
Habib Said mengungkapkan sembilan sekolah nan berkompetensi pada tingkat provinsi merupakan hasil seleksi terbuka secara daring nan diikuti 129 sekolah dari beragam kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah.
Menurutnya, sistem seleksi tersebut menjadi bukti komitmen penyelenggara dalam menerapkan prinsip keterbukaan, objektivitas, dan kesetaraan kesempatan bagi seluruh peserta.
"Proses seleksi ini tidak hanya menegaskan keterbukaan dan transparansi, tetapi juga menghadirkan representasi generasi muda nan unggul, siap berkompetisi dengan semangat kebangsaan dan kecintaan terhadap negeri," ujarnya.
Ia menambahkan, para peserta nan sukses lolos merupakan representasi generasi muda terbaik nan telah melewati proses seleksi ketat. Karena itu, keikutsertaan mereka tidak semata-mata untuk meraih kemenangan, tetapi juga menjadi bentuk kecintaan terhadap bangsa dan negara.
Habib Said menilai pemahaman terhadap Empat Pilar MPR RI menjadi semakin krusial di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus info nan dihadapi generasi Z dan generasi Alpha saat ini.
Pancasila, lanjutnya, kudu terus menjadi pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Sementara pemahaman terhadap UUD NRI Tahun 1945 krusial untuk membangun kesadaran norma dan tanggung jawab sebagai penduduk negara.
Selain itu, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia kudu terus dijaga bersama, sedangkan semangat Bhinneka Tunggal Ika menjadi fondasi dalam merawat keberagaman suku, agama, ras, dan budaya di Indonesia.
"Kami berambisi melalui aktivitas ini lahir generasi penerus bangsa nan cerdas, berkarakter, berintegritas, dan mempunyai semangat kebangsaan nan tinggi," pungkasnya.
(anl/ega)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·