
Ilustrasi.
TEHERAN - Nota kesepahaman (MoU) nan baru ditandatangani antara Amerika Serikat (AS) dan Iran merupakan kemenangan diplomatik bagi Teheran nan diraih melalui kekuatan, kata pejabat Iran. MoU ini juga dipandang sebagai bukti bahwa Washington kandas mencapai tujuan militernya.
Dokumen 14 poin tersebut ditandatangani dari jarak jauh oleh Presiden Donald Trump dan mitranya dari Iran, Masoud Pezeshkian, pada Rabu (17/6/2026) malam dan langsung berlaku, menurut mediator Pakistan.
Pihak AS sangat tutup mulut dalam tanggapan publiknya. Gedung Putih juga belum menerbitkan teks akhir nota kesepahaman tersebut, meskipun seorang pejabat senior AS nan tidak disebutkan namanya membacakan arsip 14 poin tersebut kepada wartawan setelah berhari-hari dikritik lantaran kerahasiaan seputar kesepakatan tersebut.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran dan kepala negosiator dalam pembicaraan tersebut, Mohammad Ghalibaf, menggambarkan nota kesepahaman tersebut sebagai bukti penyerahan diri AS.
"Perjanjian ini adalah catatan kegagalan AS," kata Ghalibaf dalam sebuah wawancara televisi pada Rabu, sebagaimana dilansir RT. "Orang-orang bakal melihatnya dan menilai."
Teheran beranggapan bahwa arsip tersebut mencerminkan serangkaian konsesi dari Washington, termasuk pencabutan blokade angkatan laut AS, penghapusan hukuman untuk ekspor minyak Iran, akses ke biaya Iran nan dibekukan, dan rencana rekonstruksi ekonomi nan didukung AS senilai setidaknya USD300 miliar. Washington juga setuju untuk tidak memberlakukan hukuman baru alias mengerahkan pasukan tambahan di area tersebut sementara kedua pihak bermusyawarah untuk mencapai kesepakatan akhir.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·