Tim Okezone
, Jurnalis-Kamis, 13 Agustus 2026 |16:42 WIB

Mahasiswa Demo (Foto: Okezone)
JAKARTA - Bulan kemerdekaan dinilai dapat menjadi momentum untuk memperkuat kehidupan demokrasi, sekaligus ruang bagi masyarakat, khususnya mahasiswa, menyampaikan kritik terhadap beragam persoalan bangsa.
Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas membujuk seluruh komponen masyarakat menjadikan Agustus 2026 bukan sekadar bulan seremoni kemerdekaan, tetapi juga momentum untuk merefleksikan perjalanan bangsa serta merumuskan pendapat bagi masa depan Indonesia.
Menurut Fernando, kritik merupakan bagian krusial dalam kehidupan demokrasi. Masyarakat, termasuk mahasiswa, mempunyai kewenangan menyampaikan pendapat, mengawasi jalannya pemerintahan, serta menyuarakan beragam persoalan nan dirasakan publik.
Namun, menurutnya, kritik bakal mempunyai daya sorong nan lebih kuat jika tidak berakhir pada penolakan alias tindakan massa. Kritik sebaiknya disertai data, argumentasi, kajian, dan pengganti solusi.
“Mahasiswa mempunyai posisi krusial dalam demokrasi. Karena itu, kritik kudu tetap hidup, tetapi idealnya kritik tersebut juga bisa menawarkan pendapat dan solusi,” kata Fernando.
Fernando menilai suasana bulan kemerdekaan dapat dimanfaatkan untuk membangun daya positif di tengah beragam persoalan nan tetap dihadapi bangsa.
Perbedaan pilihan politik maupun pandangan terhadap pemerintah dan kebijakan, kata dia, merupakan perihal nan wajar dalam demokrasi. Namun, perbedaan tersebut tidak semestinya menghilangkan kesadaran bahwa seluruh komponen masyarakat mempunyai tujuan nan sama, ialah membangun Indonesia.
“Berbeda pendapat adalah perihal biasa dalam demokrasi. nan penting, jangan sampai perbedaan membikin kita kehilangan persatuan,” ujarnya.
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·