Miskin bukan karena Malas

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Miskin bukan lantaran Malas (Dok. Pribadi)

STIGMA ‘rakyat miskin tetap miskin lantaran malas’ tetap cukup kuat dalam diskursus publik, apalagi kerap mewarnai perumusan kebijakan dan percakapan akademik. Sekilas, pandangan tersebut tampak masuk logika lantaran menawarkan penjelasan nan sederhana, tetapi sesungguhnya menyesatkan. Kenyataannya, jutaan rakyat miskin bekerja keras setiap hari, tetapi tetap terjebak dalam kemiskinan lantaran kesempatan untuk memperbaiki taraf hidup mereka tidak pernah betul-betul setara.

KERJA KERAS SAJA TIDAK CUKUP

Cobalah memandang kehidupan petani guram, pekerja harian, nelayan tradisional, pedagang kaki lima, alias pekerja informal. Hari kerja mereka sering kali dimulai sebelum mentari terbit dan berhujung ketika sebagian besar orang telah beristirahat. Mereka bekerja lebih lama daripada banyak pekerja formal. Namun, kerja keras itu belum tentu mengubah keadaan hidup mereka. nan mereka hadapi bukan sekadar persoalan kemauan, melainkan keterbatasan kesempatan dan sempitnya pilihan.

Abhijit Banerjee dan Esther Duflo mengonfirmasi perihal tersebut melalui penelitian lapangan di sejumlah negara, termasuk Indonesia, nan dirangkum dalam Poor Economics: A Radical Rethinking of the Way to Fight Global Poverty (2011; jenis revisi 2025). Mereka menemukan bahwa family miskin hidup dalam situasi nan nyaris tidak memberi ruang untuk membikin kesalahan. Keputusan nan bagi orang bisa tampak sederhana dapat menjadi ‘persoalan hidup dan mati’ bagi family miskin. Menggunakan tabungan untuk membeli pupuk berfaedah mengambil akibat tidak mempunyai biaya berobat. Menyekolahkan anak berfaedah mengurangi konsumsi family hari ini. Pilihan-pilihan tersebut bukan lahir dari kemalasan, melainkan dari kelangkaan sumber daya.

Akibat hidup dalam segala keterbatasan, rakyat miskin sering mengambil keputusan nan berorientasi jangka pendek. Mereka memilih kepastian hari ini daripada faedah nan belum tentu diperoleh besok hari. Dari luar, pilihan itu mungkin tampak tidak rasional. Namun, dalam kondisi nan serba tidak pasti, justru itulah keputusan nan paling masuk akal.

KEMISKINAN BUKAN SEKADAR KEKURANGAN PENDAPATAN

Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat Amartya Sen dalam Development as Freedom (1999). Ia mengingatkan bahwa kemiskinan bukan semata-mata rendahnya pendapatan, melainkan hilangnya kapabilitas (capability deprivation), ialah keahlian seseorang untuk menjalani kehidupan nan dia nilai berharga. Pendapatan memang penting, tetapi bukan satu-satunya penentu kesejahteraan. Pendidikan nan rendah, kesehatan nan buruk, terbatasnya akses terhadap pekerjaan produktif, serta terbatasnya perlindungan sosial sama-sama mempersempit pilihan hidup seseorang. Dengan demikian, persoalannya bukan lagi kenapa orang miskin tidak bekerja keras, melainkan kenapa mereka tidak mempunyai kesempatan nan setara untuk memperbaiki kehidupannya.

Sayangnya, pergeseran langkah pandang seperti itu belum sepenuhnya terjadi, baik dalam ruang publik maupun dalam perumusan kebijakan. Kemiskinan tetap sering dibicarakan dalam bahasa moral: malas alias rajin, irit alias boros, gigih alias lekas menyerah. Bahasa seperti ini memang mudah dipahami, tetapi miskin penjelasan. Ia kandas menjawab kenapa orang nan bekerja keras tetap miskin, alias kenapa kemiskinan kerap diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

KETIKA KORBAN DIPERSALAHKAN

Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed (1970), menjelaskan bahwa masyarakat nan mengalami penindasan sering diyakinkan penyebab penderitaan mereka terletak pada diri mereka sendiri. Ketika kepercayaan itu diterima sebagai kebenaran, perhatian terhadap struktur sosial nan melahirkan deprivasi pun menghilang. Korban dipersalahkan, sementara penyebabnya tetap tidak tersentuh.

Gejala itulah nan tetap terasa dalam diskursus kita hari ini. Alih-alih mempertanyakan kualitas pendidikan, akses terhadap jasa kesehatan, kesempatan kerja, alias pengedaran aset, kita lebih sibuk memperdebatkan karakter dan perilaku orang miskin. Kemiskinan pun dipandang sebagai persoalan individu, bukan masalah sosial dan struktural. Padahal, beragam penelitian menunjukkan bahwa family miskin umumnya menghadapi beragam keterbatasan secara bersamaan—mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga akses terhadap kesempatan ekonomi—yang saling memperkuat dan membentuk lingkaran setan kemiskinan nan susah diputus.

Bagaimana kita memahami kemiskinan pada akhirnya bakal menentukan langkah kita menanganinya. Jika kemiskinan dipahami sebagai keterbatasan kapabilitas dan kesempatan, maka upaya penanggulangannya pun kudu memperluas kapabilitas dan kesempatan tersebut secara bersamaan.

MEMPERLUAS KESEMPATAN, MEMPERKUAT KAPABILITAS

Cara pandang inilah nan melandasi Pendekatan Graduasi (Graduation Approach), sebuah pendekatan penanggulangan kemiskinan nan dikembangkan BRAC—salah satu LSM terbesar di dunia—di Bangladesh lebih dari dua dasawarsa lalu. Sejak itu, pendekatan ini telah diterapkan di beragam negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, dengan penyesuaian terhadap beragam konteks lokal. Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan program perlindungan sosial, melainkan memperkuatnya melalui rangkaian intervensi multidemensi nan terpadu, berurutan, adaptif, dan berbatas waktu, umumnya selama 24–36 bulan.

Perlindungan sosial menjadi fondasi nan memastikan kebutuhan dasar family tetap terpenuhi sekaligus menjaga ketahanannya ketika menghadapi beragam guncangan. Berangkat dari fondasi tersebut, peserta memperoleh support berupa aset produktif—baik dalam corak tunai maupun barang—yang dilengkapi dengan training keahlian dan pendampingan intensif. Kombinasi intervensi ini dirancang untuk memungkinkan peserta membangun mata pencarian nan produktif dan berkelanjutan.

Yang menjadi karakter unik Pendekatan Graduasi bukan hanya paket intervensinya, tetapi juga langkah pandangnya terhadap family miskin. Mereka diposisikan sebagai pelaku utama perubahan nan didampingi untuk memperkuat kapabilitas, memperluas pilihan hidup, dan secara berjenjang keluar dari jebakan kemiskinan (poverty trap).

Berbagai pertimbangan menunjukkan bahwa Pendekatan Graduasi lebih efektif dalam mendorong peningkatan kesejahteraan nan berkelanjutan, terutama di kalangan miskin ekstrem, jika dibandingkan dengan intervensi tunggal, lantaran mengombinasikan beragam corak support nan saling melengkapi. Konsistensi hasil di beragam negara, termasuk melalui uji coba eksperimental, menjadikan Pendekatan Graduasi sebagai salah satu pendekatan penanggulangan kemiskinan dengan pedoman bukti paling kuat saat ini, dengan lebih dari 100 studi nan mendokumentasikan dampaknya di lebih dari 40 negara (BRAC International, 2026).

Hal tersebut menunjukkan bahwa Pendekatan Graduasi merupakan salah satu instrumen krusial dalam penanggulangan kemiskinan. Efektivitasnya tetap berjuntai pada komitmen politik, kesesuaian dengan konteks dan potensi lokal, serta ekosistem kebijakan, kapabilitas kelembagaan, dan ruang fiskal nan memadai.

Pada akhirnya, kemiskinan bukanlah persoalan kurangnya kemauan rakyat miskin untuk bekerja keras, melainkan terbatasnya pilihan dan kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan potensi demi mewujudkan kehidupan nan lebih sejahtera dan bermartabat.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia