Kurikulum Merdeka sebagai Harapan Baru Pendidikan
Kurikulum Merdeka membawa angan baru bagi bumi pendidikan Indonesia. Siswa diberikan ruang nan lebih luas untuk belajar sesuai minat dan kemampuannya, sementara pembimbing mempunyai kebebasan nan lebih besar dalam mengembangkan proses pembelajaran. Konsep ini dinilai bisa menciptakan pengalaman belajar nan lebih berarti dibandingkan sistem nan hanya berfokus pada nilai dan ujian.
Namun, kebebasan dalam belajar belum tentu berfaedah kesempatan nan sama bagi semua siswa. Di tengah beragam perbedaan fasilitas, kualitas sekolah, dan akses pendidikan nan tetap terjadi di Indonesia, muncul pertanyaan: Apakah faedah Kurikulum Merdeka betul-betul bisa dirasakan secara merata oleh seluruh peserta didik?
Ketimpangan Akses Pendidikan
Meski kurikulum ini banyak perihal positifnya, Merdeka Belajar tidak bisa dilepaskan dari persoalan lama nan tetap dihadapi pendidikan Indonesia, ialah ketimpangan akses pendidikan. Sampai hari ini, tetap ada perbedaan nan cukup besar antara sekolah di kota besar dan sekolah di wilayah terpencil.
Sebagian sekolah sudah mempunyai akomodasi nan lengkap, mulai dari laboratorium, perpustakaan, akses internet nan stabil, hingga beragam media pembelajaran digital. Namun di sisi lain, tetap ada sekolah nan kudu berjuang dengan keterbatasan ruang belajar, minim sarana pendidikan, apalagi kesulitan mendapatkan jaringan internet nan memadai terutama di wilayah 3T. Situasi seperti ini membikin kesempatan untuk memanfaatkan kebebasan belajar menjadi berbeda bagi setiap siswa.
Kurikulum dan Perubahan Sosial
Menurut Sosiologi Kurikulum, kurikulum tidak hanya dipahami sebagai daftar mata pelajaran alias materi nan kudu dipelajari siswa. Kurikulum juga lahir dari kebutuhan masyarakat. Karena ini lah perubahan dalam kurikulum biasanya berubah dengan menyesuaikan perubahan nan terjadi di lingkungan sosial, ekonomi, budaya, maupun perkembangan teknologi.
Hal nan sama juga bisa dilihat pada lahirnya Merdeka Belajar. Kebijakan ini datang ketika bumi sedang berubah dengan sangat cepat. Saat ini, keahlian menghafal saja tidak lagi cukup. Siswa juga dituntut untuk bisa berpikir kritis, bekerja sama, berkomunikasi, dan beradaptasi dengan beragam perubahan.
Oleh lantaran itu, Merdeka Belajar mencoba memberikan ruang nan lebih luas agar siswa bisa mengembangkan keahlian nan mereka butuhkan dalam kehidupan sehari-hari maupun di masa depan.
Ketimpangan Sosial dan Fungsi Pendidikan dalam Masyarakat
Menurut pandangan Pierre Bourdieu, keberhasilan pendidikan itu tidak hanya dipengaruhi oleh keahlian individu, tetapi juga oleh modal sosial, modal budaya, dan modal ekonomi nan dimiliki seseorang. Misalnya seperti siswa nan mempunyai modal alias mempunyai lingkungan nan mendukung, akomodasi nan mendukung, biasanya mempunyai kesempatan nan besar untuk memanfaatkan beragam kesempatan nan tersedia dalam pendidikan. Namun untuk siswa nan tidak mempunyai modal nan sama, peluangnya cukup minim. Dari sinilah ketimpangan itu terlihat sangat jelas.
Pemikiran Emile Durkheim juga relevan dalam memandang persoalan ini. Menurut Durkheim, pendidikan mempunyai peran krusial dalam mempersiapkan perseorangan agar dapat hidup dan berperan-serta di masyarakat. Karena itu, pendidikan semestinya bisa memberikan kesempatan nan setara bagi setiap orang untuk berkembang.
Kesetaraan (Equality) dan Keadilan (Equity)
Dalam pembahasan pendidikan, ada dua konsep nan sering dianggap sama, ialah kesetaraan (equality) dan keadilan (equity). Padahal, keduanya mempunyai makna nan berbeda. Kesetaraan berfaedah setiap siswa mendapatkan kesempatan nan sama untuk mengakses pendidikan. Misalnya, semua anak mempunyai kewenangan untuk bersekolah, menggunakan kurikulum nan sama, dan mengikuti proses pembelajaran nan sama.
Namun kenyataannya, kondisi setiap siswa tidak selalu setara. Ada nan belajar dengan akomodasi lengkap, akses internet nan mudah, dan support family nan kuat. Ada pula nan kudu belajar dengan keterbatasan. Karena itulah muncul konsep keadilan alias equity. Keadilan dalam pendidikan berfaedah memberikan support sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa agar mereka mempunyai kesempatan nan lebih seimbang untuk berkembang.
Jika dikaitkan dengan Merdeka Belajar, konsep ini menjadi krusial untuk diperhatikan. Memberikan kebebasan belajar nan sama kepada seluruh siswa memang merupakan corak kesetaraan. Namun, kebebasan itu belum tentu dapat dimanfaatkan secara optimal oleh semua siswa andaikan kondisi nan mereka hadapi berbeda-beda. Siswa nan mempunyai akomodasi komplit tentu bakal lebih mudah mengeksplorasi minat dan mengembangkan potensinya dibandingkan siswa nan tetap berjuang dengan beragam keterbatasan.
Contoh nan dapat kita lihat dalam Kurikulum Merdeka adalah penyelenggaraan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Dalam aktivitas ini, siswa didorong untuk membikin proyek, melakukan observasi, bekerja sama dalam kelompok, dan menghasilkan karya nan berangkaian dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi sekolah nan mempunyai akomodasi lengkap, akses internet nan baik, serta support sumber belajar nan memadai, aktivitas seperti ini tentu lebih mudah dilaksanakan. Namun, tidak semua sekolah berada dalam kondisi nan sama. Masih ada sekolah nan menghadapi keterbatasan fasilitas, teknologi, apalagi tenaga pendidik.
Akibatnya, pengalaman belajar nan diperoleh siswa dalam menjalankan P5 bisa berbeda-beda, meskipun mereka sama-sama menggunakan Kurikulum Merdeka. Dari sini terlihat bahwa kebijakan nan sama belum tentu memberikan kesempatan nan sama bagi semua siswa.
Karena itu, keberhasilan Merdeka Belajar tidak hanya berjuntai pada kebebasan nan diberikan kepada siswa dan guru, tetapi juga pada sejauh mana sistem pendidikan bisa menghadirkan keadilan. Ketika sekolah nan kekurangan akomodasi mendapatkan perhatian lebih, wilayah terpencil memperoleh akses pendidikan nan lebih baik, dan siswa nan memerlukan support memperoleh support nan memadai, tujuan pendidikan nan setara bakal lebih mudah terwujud.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·