Merawat Warisan Betawi, Haeda Jual Bir Pletok dari Pintu ke Pintu hingga Raup Cuan Besar

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Merawat Warisan Betawi, Haeda Jual Bir Pletok dari Pintu ke Pintu hingga Raup Cuan Besar Haeda tak menyerah memperkenalkan produk bir pletok miliknya.(MI/Insi Nantika Jelita)

SEBELUM produknya ramai diburu visitor bazar, Haeda lebih dulu menempuh jalan panjang memperkenalkan bir pletok buatannya. Berbekal semangat melestarikan cita rasa Betawi, dia memasarkan minuman rempah tersebut dengan langkah berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya, menawarkan langsung kepada calon pelanggan.

Bir pletok merupakan minuman unik masyarakat Betawi nan bebas alkohol dan dikenal mempunyai beragam faedah kesehatan. Racikan rempah seperti jahe, serai, kayu secang, kunyit, temulawak, hingga kencur dipercaya dapat membantu menghangatkan tubuh, serta meredakan indikasi masuk angin. Dari kecintaannya terhadap budaya Betawi itulah, Haeda memandang kesempatan untuk menjaga tradisi sekaligus membangun usaha.

Jualan dari Pintu ke Pintu 

Perjalanan upaya tersebut bermulai pada 2020, ketika pandemi covid-19 melanda Indonesia. Saat itu, penduduk di lingkungan tempat tinggalnya di Kampung Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur, memerlukan minuman herbal untuk menjaga daya tahan tubuh. Ketua RT setempat pun meminta Haeda untuk membikin jamu alias minuman rempah nan dapat dikonsumsi warga.

"Akhirnya muncul buahpikiran upaya tersebut dengan membikin bir pletok, empon-empon nan terbuat dari kunyit, temulawak, kencur, sereh," kata Haeda saat ditemui di Kedai Haeda, Klender, Jakarta Timur, Sabtu (6/6).

Dengan modal awal sekitar Rp300 ribu, Haeda membeli beragam bahan baku rempah, botol, serta bungkusan untuk memulai produksi. Kala itu, wilayah Kampung Rambutan termasuk area berstatus area merah covid-19. Kondisi tersebut membikin banyak penduduk menjalani karantina berdikari di rumah sehingga aktivitas di luar sangat terbatas.

Situasi itu justru melahirkan langkah pemasaran nan unik. Haeda menjajakan bir pletok secara door to door dengan meletakkan botol minuman di depan pagar alias pintu rumah warga. Produksi awalnya mencapai 50 botol berukuran 250 mililiter nan dijual seharga Rp15 ribu per botol. Hampir setiap hari, dia memasok bir pletok kepada tetangga sekitar selama masa pandemi berlangsung.

"Jadi, saya taruh minuman bir pletok di depan rumah mereka, di depan pintu alias pagar," kenang wanita berumur 51 tahun itu. 

Mengenal Rumah BUMN BRI 

Seiring berjalannya waktu, Haeda mulai memperluas jejaring usahanya. Ia mengenal BRI saat mengikuti aktivitas organisasi reuni di Universitas Trisakti. Dari sana, dia mendapat info mengenai Rumah BUMN bimbingan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk nan membuka beragam program training kewirausahaan bagi pelaku upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Rumah BUMN merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Kementerian BUMN nan dikelola BRI. Melalui program tersebut, Haeda memperoleh beragam pelatihan, mulai dari pengelolaan keuangan, strategi pemasaran, digitalisasi usaha, hingga ekspansi akses pasar. Ia mengaku, sejak aktif mengikuti training pada 2025, terjadi perubahan besar dalam pola pikirnya dalam menjalankan bisnis.

"Perubahan terasa pada gimana pola pikir alias mindset kita nan lebih terarah bisnisnya. Dari awalnya hanya jual-jual biasa, rupanya kita tahu segmen pasarnya ada di mana," ujarnya.

Menurut Haeda, pemasaran produknya sekarang dilakukan melalui dua jalur, ialah daring dan luring. Penjualan secara online dilakukan melalui aplikasi pesan singkat, sementara penjualan offline diperoleh melalui warung maupun beragam aktivitas bazar. Selain itu, Rumah BUMN BRI juga memberikan pendampingan mengenai pemasaran digital, sertifikasi halal, hingga kesempatan memasarkan produk melalui gerai bimbingan setelah melalui proses kurasi.

Dampak dari pendampingan tersebut dirasakan langsung oleh Haeda. Usaha nan semula dijalankan dari rumah perlahan naik kelas dan mulai tampil di beragam pagelaran berskala besar.

"Usaha saya dari nol menjadi naik kelas, nan tadinya hanya rumahan akhirnya meningkat ke bazar-bazar," kata Haeda.

Salah satu pengalaman nan paling berkesan baginya adalah saat mengikuti pagelaran dalam Pendekar Fest 2025, aktivitas peluncuran tim dan jersey Persita Tangerang untuk kejuaraan BRI Super League 2025/2026 pada tahun lalu. Dari aktivitas tersebut, Haeda sukses meraup pendapatan hingga jutaan rupiah. Ia juga pernah mengikuti beragam aktivitas serupa di luar Pulau Jawa, seperti di Semarang dan Surabaya. 

Omzet Melonjak 

Keaktifan mengikuti beragam pagelaran serta konsistensi memanfaatkan kanal penjualan digital membawa perubahan besar bagi perkembangan upaya Kedai Haeda. Kehadiran dalam beragam aktivitas pagelaran memberinya kesempatan untuk memperkenalkan bir pletok kepada konsumen baru dari beragam kalangan.

Di sisi lain, pemasaran secara digital menjadi salah satu strategi nan turut menopang pertumbuhan usahanya. Haeda memanfaatkan aplikasi pesan singkat dan media sosial untuk menjangkau pengguna secara lebih efektif. Upaya tersebut berbuah manis.

Haeda mengungkapkan omzet usahanya mengalami peningkatan nan cukup signifikan dibandingkan saat pertama kali merintis bisnis. Jika sebelumnya pendapatan nan diperoleh hanya berkisar antara Rp600 ribu hingga Rp700 ribu, sekarang omzet nan diraih dapat mencapai sekitar Rp6 juta.

"Jelas ada kenaikan omzet berkah bazar-bazar dari BRI nan saya ikuti dan dari penjualan online juga," tutur Haeda.

Selain bir pletok, Haeda juga menjual minuman kunyit asam, beras kencur, tapai ketan merah, kacang tojin, keripik pisang kepok dan lainnya. Dengan strategi pemasaran nan tepat serta kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi, Haeda optimistis usahanya dapat terus berkembang sembari memperkenalkan warisan kuliner Betawi kepada lebih banyak orang.

Pernah Ditipu, tapi tak Menyerah 

Meski demikian, perjalanan bisnisnya tidak selalu melangkah mulus. Haeda mengaku pernah menjadi korban penipuan oleh penyelenggara aktivitas alias event organizer (EO) dalam sebuah pagelaran di area Kuningan, Jakarta Selatan. Sekitar 300 pelaku UMKM ikut serta dalam aktivitas tersebut dan diminta bayar biaya sewa stan sebesar Rp200 ribu.

Haeda telah mempersiapkan stok dagangan secara komplit untuk aktivitas nan berjalan selama tiga hari itu. Namun, hingga aktivitas berakhir, visitor nyaris tidak ada dan pihak penanggung jawab aktivitas tidak dapat dihubungi. Para pelaku UMKM nan terlibat pun melayangkan protes atas kejadian tersebut.

"Bayangin sungguh kaget dan kecewanya kami ditipu seperti itu. Saya sudah bayar Rp600 ribu tapi tidak mendapatkan untung, malah mendapatkan rugi," ucapnya.

Namun, pengalaman pahit tersebut tidak menyurutkan langkah Haeda untuk terus mengembangkan usahanya. Ia justru menjadikannya sebagai pelajaran agar lebih selektif dalam memilih aktivitas pagelaran dan semakin giat meningkatkan kapabilitas diri. Bagi Haeda, pelaku UMKM tidak boleh mudah pesimis.

Menurutnya, penemuan produk, keberanian mengikuti bazar, serta kemauan untuk terus belajar menjadi kunci krusial dalam mengembangkan usaha. Melalui bazar, pelaku upaya dapat mengetahui sejauh mana produknya diterima pasar, sementara training membuka wawasan baru mengenai strategi upaya nan lebih efektif.

"Rumah BUMN BRI seperti sekolah cuma-cuma nan ilmunya luar biasa. Di sini kita mendapat pengetahuan nan sangat berfaedah secara gratis," ujar Haeda.

Ia juga menilai perkembangan teknologi digital perlu dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku UMKM.

Pemasaran melalui media sosial, kerjasama dengan influencer, hingga pemanfaatan platform seperti TikTok menjadi strategi nan sekarang semakin relevan untuk menjangkau konsumen nan lebih luas. Karena itu, hingga saat ini Haeda tetap aktif mengikuti beragam workshop dan training untuk terus memperbarui pengetahuan serta mengembangkan usahanya.

Bagi Haeda, membangun upaya bukan sekadar soal mencari keuntungan. Dari sebotol bir pletok nan dulu dititipkan di depan pagar rumah penduduk saat pandemi, dia belajar bahwa ketekunan, kemauan untuk terus belajar, serta keberanian beradaptasi dapat membawa upaya mini tumbuh dan menjangkau pasar nan lebih luas.

Teman Aktivitas Harian

Salah seorang pengguna asal Sumatra Utara, Rio, mengaku tertarik mencoba bir pletok Haeda setelah mengetahui produk tersebut tersedia dalam bungkusan sachet nan praktis.

Menurutnya, bungkusan tersebut memudahkan konsumen untuk menikmati minuman tradisional kapan saja tanpa perlu proses penyajian nan rumit. Setelah mengonsumsi produk tersebut, Rio mengaku merasakan sensasi hangat di tubuh. Bagi dirinya nan telah memasuki usia 53 tahun, minuman berbahan rempah itu menjadi salah satu pilihan untuk menemani aktivitas sehari-hari.

"Bir pletok rasanya lezat dan hangat di badan, cocok menemani aktivitas saya nan berumur 53 tahun. Dan juga minuman ini bisa mencegah masuk angin, badan pegal-pegal, dan bisa mengurangi stres lantaran capek bekerja," terangnya.

Ia juga menilai bir pletok mempunyai karakter nan berbeda dibandingkan minuman lain nan menggunakan istilah bir. Menurutnya, bir pletok justru memberikan rasa nyaman dan segar setelah dikonsumsi.

"Bir pletok adalah bir nan tidak membikin mabuk tapi malah membantu badan saya menjadi fresh kembali," katanya.

Pembinaan Sebelum Bazar

Koordinator Rumah BUMN Jakarta Jajang Rohmana menjelaskan Kedai Haeda pernah mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pagelaran nan diselenggarakan oleh BRI di Tangerang. Dalam aktivitas tersebut, Kedai Haeda memperoleh satu stanf unik untuk memasarkan produknya dan mendapat sambutan positif dari pengunjung.

"Ketika itu Kedai Haeda diberikan satu stan unik pagelaran dari BRI di Tangerang untuk berjualan. Penjualannya memang ramai," kata Jajang.

Menurutnya, support nan diberikan BRI kepada pelaku UMKM tidak hanya berupa pelatihan. Rumah BUMN juga berkedudukan sebagai pendamping nan merepresentasikan UMKM dalam beragam kegiatan, termasuk menyeleksi peserta nan dinilai siap mengikuti pagelaran maupun program pemberdayaan lainnya.

Jajang menuturkan bahwa terdapat sejumlah persiapan nan kudu dilakukan sebelum UMKM terjun langsung ke aktivitas bazar. Para pelaku upaya terlebih dulu dibekali beragam materi pendukung agar bisa memaksimalkan kesempatan penjualan nan ada.

"Sebelum UMKM terjun ke bazar, mereka kudu mendapatkan teori-teori khusus, seperti komunikasi digital, komunikasi UMKM, hingga strategi promosi nan dapat dilakukan sebelum mengikuti kegiatan," kata Jajang.

Ia menambahkan, pembekalan tersebut bermaksud agar pelaku UMKM memahami beragam perihal nan perlu dipersiapkan ketika memasarkan produknya kepada masyarakat.

"Jadi setelah terjun, mereka tahu apa saja nan kudu dipersiapkan dan dilakukan ketika berjualan," ujarnya.

Mendorong Digitalisasi Selain itu, Rumah BUMN juga terus mendorong digitalisasi UMKM binaannya. Namun, proses tersebut tetap menghadapi sejumlah tantangan. Jajang mengungkapkan tetap banyak pelaku UMKM nan mengalami hambatan dalam pengelolaan akun digital, mulai dari lupa kata sandi surat elektronik hingga kesulitan mengelola toko daring nan telah dimiliki.

Jajang menjelaskan dalam menyusun program pendampingan, Rumah BUMN terlebih dulu membikin rencana aktivitas bulanan, termasuk menentukan tema training nan dibutuhkan para pelaku usaha. Setelah itu, mereka mencari narasumber nan sesuai dengan kebutuhan program dan mengajukannya kepada instansi regional untuk diteruskan ke perusahaan terkait.

"Nanti dari instansi pusat bakal dilakukan asesmen mengenai aktivitas mana saja nan dapat dilaksanakan di Rumah BUMN. Setelah mendapatkan persetujuan, barulah aktivitas tersebut kami jalankan," jelas Jajang.

Ia juga menyebut aktivitas tatap muka umumnya diikuti oleh UMKM dari wilayah Jabodetabek. Sementara itu, training secara daring bisa menjangkau peserta nan lebih luas dari beragam wilayah di Indonesia. "Jadi, kami tidak menutup kondisi UMKM apa pun untuk berasosiasi dengan Rumah BUMN BRI," pungkas Jajang. (E-4) 

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia