Ilustrasi(MI/ARDI TERISTI)
LANGIT biru cerah memayungi gedung kokoh bergaya indische di Jalan Soekarno-Hatta, Anggut Atas, Kota Bengkulu. Di sinilah, di sebuah rumah bersejarah, Rumah Pengasingan Soekarno (Bung Karno) di Bengkulu, nan tetap terawat apik, jejak langkah sang proklamator, Soekarno, seolah kembali hidup.
"Awalnya, rumah ini merupakan milik seorang pedagang Tionghoa berjulukan Lion Bwe Seng nan disewa oleh pemerintah kolonial Belanda untuk mengisolasi Bung Karno," kata Safrida Hanum, nan memandu menelusuri tiap ruangan di museum.
Diasingkan di Bengkulu sejak 1938 hingga 1942 tidak membikin kepemimpinan Soekarno meredup. Di kota ini, semangat Bung Karno justru membara di sini dengan tetap berorganisasi, baik di bumi sosial, politik, maupun seni dan budaya.
Di tempat ini, sejarahwan Agus Setianto menceritakan, .Bung Karno aktif dalam aktivitas Muhammadiyah hingga membikin golongan sandiwara tonil Monte Carlo.
"Dan pengaruh Bung Karno luar biasa, dia bisa membujuk siapa saja termasuk tokoh-tokoh muda, generasi muda dilatih untuk cinta tanah air walaupun melalui seni ya, ada nan melalui olah raga," ungkap dia menjelaskan kepada awak media nan bekerja di DPRD DIY berbareng Anggota Komisi A DPRD DIY, Kamis (11/6) siang.
Di Bengkulu, Soekarno juga ditemani sahabat-sahabatnya, Oei Tjeng Hien, Hasan Din, dan Muhammad Husni Thamrin. Mereka terus berjuang untuk memerdekakan Indonesia.
Di rumah berhistoris ini, kronik perjalanan. Bung Karno selama pengasingan juga dijelaskan, dari penjara Banceuy (1929), Sukamiskin (1931), Ende (1934-1938), Bengkulu (1938-1942), Brastagi dan Prapat (1948), hingga Muntok (1949)
Sepeda nan biasa digunakan Bung Karno selama di Bengkulu dan beberapa salinan arsip juga dipajang, seperti Surat Nikah Bung Karno dengan Inggit 24 Maret 1923, surat rahasia residen Bengkulu kepada Gubernur Sumatra tentang penjelasan pengiriman sejumlah duit setiap bulan oleh Ir Soekarno untuk anak angkatnya Ratna Djumilah.
Di dalam gedung utama nan bernuansa tenang ini, visitor juga tetap dapat memandang ranjang besi original tempat Bung Karno beristirahat, meja kerja, dan deretan buku.
Rumah Fatmawati
Selain Rumah Pengasingan Bung Karno, di Bengkulu juga berdiri Rumah Ibu Fatmawati, nan lokasinya tidak jauh dari kediaman Bung Karno. Rumah nan berdiri di Jalan Fatmawati tetap menyiratkan atmosfer bersahaja, namun sarat bakal nilai emosional.
Adik sepupu Fatmawati, Marwan Amanadin menceritakan, rumah tersebut sudah direnovasi dengan luas gedung sekitar 20 x 25 meter.
?Di ruang tengah rumah ini, tersimpan sebuah mesin jahit untuk menjahit kain merah dan putih nan kemudian menjadi Bendera Pusaka.
Foto-foto pengarsipan family dan kebaya original milik sang Ibu Negara terpajang rapi di lemari kaca, membawa ingatan visitor pada kesederhanaan hidup para pendiri bangsa.
Anggota Komisi A DPRD DIY, Yuni Setia Rahayu menyampaikan, sosok Fatmawati sangat berjasa bagi bangsa ini. Sejak usianya nan tetap muda, dia sudah sangat memahami pergerakan perjuangan.
"Beliau terus memberikan support dan dorongan pergerakan untuk Indonesia merdeka," kata dia.
Kedewasaan Fatmawati dalam pergerakan, nilai dia, tidak lepas dari pengaruh lingkungan Fatmawati. Keluarga Fatmawati merupakan family Muhammadiyah nan aktif menyuarakan kemerdekan.
Rumah Pengasingan Bung Karno dan Rumah Fatmawati menjadi jejak hidup sejarah tentang perjuangan bangsa ini. Bulan Juni seringkali disebut Bulan Bung Karno. Pasalnya, beberapa momen krusial Bung Karno terjadi pada bulan ini, mulai dari Juni.1 Juni sebagai hari lahir Pancasia, 6 Juni hari lahir Bung Karno, dan 21 Juni hari wafat Bung Katno.
Yuni menegaskan, pentingnya generasi muda untuk terus belajar sejarah dan mencontoh upaya-upaya para pendiri dan pergerakan bangsa dalam mi dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
"Ke depan perjuangan kudu tetap berlanjut. "Pendirian bangsa di dukung beragam kepercayaan suku untuk menyejahterakan bangsa ini ke depannya," tutup dia. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·