Program SLV Bangun Model Desa Berkelanjutan dari Madu Trigona

Sedang Trending 5 jam yang lalu

Jakarta -

Dengan menempatkan masyarakat sebagai pusat perubahan nan menyeimbangkan aspek ekonomi dan ekologi secara bersamaan, Program Sustainable Living Village (SLV) datang sebagai model baru pembangunan desa berkelanjutan.

SLV mencoba menjawab tantangan klasik di sektor sawit dimana peningkatan kesejahteraan petani tidak selamanya berfaedah ekspansi lahan nan berpotensi merusak lingkungan.

SLV merupakan bagian komitmen keberlanjutan rantai pasok nan dijalankan oleh Apical Group melalui prinsip NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation). Pendekatan ini tidak hanya menitikberatkan pada produksi di hilir, tetapi juga memastikan praktik berkepanjangan terjadi sejak di hulu, tidak terkecuali petani swadaya nan menjadi bagian ekosistem pasokan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Apical berada di industri pengolahan minyak nabati dimana rantai pasok merupakan komponen krusial operasi nan perlu dijaga aspek keberlanjutannya.," ujar Manager Corporate Social Responsibility Apical Sugiantoro, kepada detikcom Rabu (15/4/2026).

Menurut Sugiantoro, model SLV juga dikembangkan dengan pendekatan komoditas nan disesuaikan dengan karakter masing-masing wilayah. Selain di Aceh Singkil, program serupa juga dijalankan di Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim), melalui pengembangan kakao sebagai pengganti penghidupan masyarakat berbasis potensi lokal.

Di Aceh Singkil, SLV diwujudkan melalui budidaya madu trigona sebagai pengganti penghidupan masyarakat di sekitar area konservasi Taman Nasional Gunung Leuser, khususnya di area Suaka Margasatwa Rawa Singkil.

"Produksi madu ini tidak memerlukan pembukaan lahan baru, proses budidaya dilakukan dengan memanfaatkan lahan pekarangan nan ada. Lebah trigona juga kondusif lantaran tidak menyengat dan sebagaimana lebah umumnya, Lebah Trigona juga membantu proses penyerbukan tanaman sekitar," jelas Sugiantoro.

Merasakan perbaikan pendapatan melalui budidaya ini, masyarakat tampak mulai mengurangi ketergantungan dari hasil sawit dan mulai meninggalkan kebiasaan lama berburu madu alam.

Dalam enam bulan terakhir, enam golongan bimbingan tercatat menghasilkan sekitar 279 liter madu trigona dengan nilai penjualan lebih dari Rp 80 juta nan dibagikan kepada 61 penerima faedah sesuai hasil produksi masing-masing. Pendekatan ini turut mendorong praktik ekonomi nan lebih tertata sekaligus mengurangi tekanan terhadap area hutan.

"Budidaya madu dipilih lantaran masyarakat sudah terbiasa dengan aktivitas mencari madu nan selama ini dilakukan di dalam hutan. Madu Trigona kami perkenalkan agar mereka bisa budidayakan di sekitar tempat tinggal tanpa kudu masuk hutan," ungkap Sugiantoro.

Kolaborasi Multipihak

Program SLV dijalankan melalui kerjasama multipihak antara Apical Group, Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH), Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Forum Konservasi Leuser (FKL), serta Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil.

Kolaborasi multipihak ini menjadi fondasi tata kelola lanskap nan lebih baik dan inklusif, khususnya bagi petani swadaya, melalui training praktik perkebunan sawit berkelanjutan, penguatan golongan tani, hingga pendampingan untuk mendorong legalitas lahan dan publikasi Surat Tanda Daftar Budidaya (S-TDB).

Penyerahan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) kepada petani peserta program Sustainable Living Village (SLV).Penyerahan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) kepada petani peserta program Sustainable Living Village (SLV). Foto: dok. Apical

Hingga kini, sekitar 1.000 petani telah mendapatkan training praktik perkebunan nan baik (Good Agricultural Practices) dan lebih dari 800 STDB telah diterbitkan bagi petani swadaya. Program ini juga mendorong petani menuju sertifikasi keberlanjutan agar rantai pasok memenuhi standar pasar global.

Program Manager IDH Anne Fadilla Rachmi menjelaskan bahwa IDH tidak hanya berkedudukan sebagai penghubung antar pemangku kepentingan, tetapi juga sebagai mitra nan memastikan kreasi program melangkah secara strategis, terukur, dan berorientasi pada akibat jangka panjang.

"Di tingkat program, kami membantu Apical dalam merancang dan memberikan support pembiayaan agar SLV dapat dijalankan dengan semangat kolaboratif. Perbaikan lanskap tidak bisa dilakukan per proyek, tetapi kudu dilihat sebagai tata kelola secara utuh," kata Anne.

"IDH mendorong para pihak untuk bersama-sama mencapai tujuan tersebut," sambungnya.

Sejalan dengan pendekatan tersebut, SLV merupakan bagian dari kerangka program National Initiatives for Sustainable & Climate Smart Oil Palm Smallholders (NISCOPS) nan didukung oleh pemerintah Belanda dan Inggris, nan penerapannya juga dilakukan di beragam negara lain seperti Malaysia, India, Nigeria, serta Kolombia.

Dampak Nyata di Lapangan

Program SLV di Aceh Singkil melibatkan 6 golongan dari 6 desa nan terdiri dari 61 petani. Salah satunya adalah Khaidir (30), penduduk Desa Teluk Rumbia nan juga Ketua Kelompok Madu Rumbia di Kecamatan Singkil. Ia berasosiasi dalam program budidaya madu trigona sejak 2023.

Meski diawali dengan emosi ragu, Khaidir tekun mendalami budidaya madu nan hingga saat ini, kelompoknya telah mengelola 267 stup lebah dengan produksi sekitar 47 liter madu nan memberikan penghasilan tambahan sekitar Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu per bulan untuk setiap personil kelompok.

Dari hasil itu, Khaidir memanfaatkannya sebagai tambahan pemasukan untuk biaya sekolah anak dan memperbaiki rumahnya secara bertahap. Khaidir juga merasakan kebanggaan tersendiri di kala mendapatkan kesempatan berjumpa dengan banyak kalangan untuk memasarkan produknya.

Kegiatan penanaman pohon di lahan restorasi Desa Teluk Rumbia, Aceh Singkil untuk mendukung pemulihan ekosistem nan terdegradasi.Kegiatan penanaman pohon di lahan restorasi Desa Teluk Rumbia, Aceh Singkil untuk mendukung pemulihan ekosistem nan terdegradasi. Foto: dok. Apical

"Alhamdulillah bisa juga sekolahkan anak, bisa juga bikin rumah sikit-sikit (sedikit-sedikit). Bisa pergi ke satu tempat, suatu kebanggaan lah. Bisa bertemu dengan orang penting, pejabat, masarkan (memasarkan))madunya," tuturnya.

Selain keahlian teknis, Khaidir dan kelompoknya juga dibekali pembelajaran teknik budidaya madu trigona dan strategi pemasaran melalui program studi banding ke Danau Sentarum, Kalimantan Barat (Kalbar).

Keterlibatan beragam pihak dalam program SLV didasari oleh kesamaan visi antara penguatan ekonomi masyarakat dan upaya konservasi di Aceh Singkil nan merupakan salah satu kediaman krusial orangutan Sumatera.

"Alasan YEL bersedia menjadi mitra pelaksana SLV di Singkil adalah kesamaan visi menjaga ekosistem. Terutama di Singkil dimana terdapat Suaka Margasatwa Rawa Singkil nan merupakan konservasi kritikal untuk orangutan," ujar Direktur Konservasi YEL M Yakob Ishadamy.

Yakob mengungkapkan kreasi SLV mempunyai irisan dengan tujuan konservasi nan selama ini dijalankan oleh YEL. Program ini dinilai bisa membuka kesempatan partisipasi ekonomi masyarakat nan tinggal di sekitar area rimba tanpa merusak kediaman penting.

Kolaborasi YEL dengan Apical bermulai dari pengalaman kerja sama sebelumnya di Aceh Tamiang mengenai responsible sourcing.Perluasan kerjasama ke wilayah Aceh Singkil untuk memperkuat praktik kelapa sawit berkepanjangan melalui program SLV.

"Program ini krusial lantaran industri sawit diharuskan untuk memenuhi beragam standar kepatuhan di tingkat dunia terutama dalam aspek kepatuhan rantai pasok," ujar Yakob.

Menjembatani Industri, Konservasi, dan Komunitas

Dinamika kepentingan antara industri, konservasi, dan organisasi merupakan perihal lumrah dalam perjalanan program. Menurut Yakob, semua pihak perlu mencari titik jumpa dimana di situlah kerjasama multipihak memainkan peran.

Pendekatan tersebut kemudian menjadi model bagi industri dalam memastikan rantai pasok berkepanjangan nan memberi faedah bagi masyarakat luas.

Bagi petani kecil, kewenangan atas ruang, kepastian lahan, dan kepastian pasar merupakan persoalan nan paling sering muncul. SLV memberikan pendampingan untuk mendorong masyarakat untuk lebih mengerti mengenai legalitas lahan sehingga dapat memperkuat posisi mereka di masa depan.

Bagi industri, seperti Apical, peningkatan legalitas dan sertifikasi tersebut menjadi agunan bahwa rantai pasok memenuhi salah satu aspek kepatuhan pasar global.

"Model seperti ini bisa menjadi best practice lantaran tidak hanya pada compliance dan regulasi, tetapi juga memastikan masyarakat menjadi bagian nan inklusif dalam kerjasama nan terintegrasi," ujarnya.

Yakob tidak menampik bahwa pada masa lampau banyak lembaga konservasi memandang sawit sebagai ancaman bagi lingkungan. Namun, setelah dipelajari lebih jauh, persoalan utama bukan pada komoditas sawit, melainkan pada tata kelola di tingkat lanskap nan belum memenuhi standar.

Ke depan, program SLV diharapkan dapat terus diperluas ke wilayah lain dengan pendekatan organisasi lokal nan berbeda. Model kerjasama multipihak ini diyakini dapat menciptakan keseimbangan antara peningkatan kesejahteraan masyarakat, keberlanjutan industri sawit, dan perlindungan lingkungan.

(prf/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News