Menyoal Sarjana Menganggur

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi lulus kuliah Foto: Shutterstock

Pengangguran Indonesia memang turun, tetapi masalahnya kemudian bergeser, ialah semakin banyak penganggur justru berasal dari golongan berilmu tinggi.

Simak saja info Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) nan disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), pada periode Mei 2026, jumlah nomor pengangguran di Indonesia mengalami penurunan menjadi 7,22 juta, alias menurun sebesar 24.000 orang jika dibandingkan periode Februari 2026 ialah sebanyak 7,24 juta. Bahkan menurun sebesar 130.000 orang jika dibandingkan dengan periode November 2025, ialah sebanyak 7,35 juta pengangguran.

Dibalik nomor penurunan pengangguran ini, tren lulusan perguruan tinggi mulai jenjang Diploma IV, S1, S2, dan S3, justru mengalami tren nan meningkat. Angka BPS menyebut porsinya naik dari 12,37% pada November 2025, menjadi 14,27% pada Februari 2026, dan kembali naik tipis menjadi 14,31% pada Mei 2026. Artinya, sekitar 14,31% dari total penganggur pada Mei 2026 merupakan lulusan D4/S1/S2/S3, alias setara sekitar 1,03 juta orang

Kondisi nan demikian, tentunya menjadi ironi tersendiri. Pada saat masyarakat berupaya meningkatkan kualitas hidupnya melalui jalur pendidikan tinggi, tapi pada sisi lain tren pengangguran lulusan sarjana juga meningkat. Pertanyaan dan diskursus klasik nan terus berulang dari waktu ke waktu senantiasa berkutat pada perihal tersebut, apalagi nan terkesan seperti lingkaran setan. Tiga argumen utama tersebut ialah (1) lapangan kerja nan tersedia tidak sebanding dengan jumlah lulusan, dan (2) kompetensi dan kualitas lulusan sarjana nan tidak linier dengan kebutuhan bumi kerja, (3) struktur ekonomi Indonesia belum cukup bisa menciptakan pekerjaan berkeahlian tinggi dalam jumlah besar.

Tiga argumen tersebut memang tidak sepenuhnya salah. Simak saja info dari portal Karier Hub Kementerian Ketenagakerjaan, pada tahun 2024 terdapat sekitar 60.954 pencari kerja nan mempunyai latar belakang sarjana, namun kuota nan tersedia hanya sekitar 13.478 posisi. Artinya hanya sekitar 22% dari jumlah pencari kerja. Data tersebut memang tidak menggambarkan keseluruhan pasar kerja di Indonesia, tetapi memberikan indikasi adanya ketimpangan antara jumlah pencari kerja sarjana dan lowongan nan tersedia melalui kanal tersebut.”

Data portal pekerjaan hub Kementerian Ketenagakerjaan juga menyebut bahwa di tahun 2024 dari total 252.163 kuota lowongan, lowongan nan mensyaratkan sarjana hanya 13.478 posisi alias sekitar 5,3%. Sebaliknya, lowongan untuk lulusan SMA dan SMK mencapai 128.950 posisi alias sekitar 51,1% dari total kuota.

Dari sisi kompetensi, laporan BPS juga menggambarkan info nan tidak menggembirakan. Sampai dengan periode Februari tahun 2026, dari 15,83 juta lulusan sarjana (D4/S1/S2/S3) nan bekerja, serapan paling besar terkonsentrasi di tiga sektor, ialah pendidikan, manajemen pemerintahan/pertahanan/jaminan sosial, dan perdagangan besar-eceran. Tiga sektor ini menyerap sekitar 9,01 juta orang (56,9%) dari total lulusan perguruan tinggi nan bekerja. Artinya dengan banyaknya kompetensi lulusan sarjana berasas pada fakultas dan program studi nan tersebar di beragam perguruan tinggi, belum sepenuhnya linier dengan kebutuhan pasar kerja. Atau secara kompetensi kesempatan dan ruang kerja bagi lulusan sarjana tetap cukup sempit.

Data BPS juga menyebut bahwa dari sekitar 15,83 juta lulusan sarjana, 73,9% bekerja menjadi buruh/karyawan/pegawai, 10% berupaya sendiri, 5,5% berupaya di bantu pekerja tidak tetap, 4,7% menjadi pekerja keluarga, 4,2% berupaya dan dibantu pekerja tetap, 1% pekerja bebas di non pertanian, dan 0,4% pekerja di pertanian. Dari info ini tergambar bahwa lulusan sarjana nan membuka upaya dan membuka lapangan kerja jumlahnya juga tetap sangat terbatas.

Ilustrasi Sarjana Menganggur (ChatGPT)

Fokus Transformasi

Perguruan tinggi dengan beragam pengetahuan pengetahuan dan kompetensinya, sampai saat ini tetap menjadi salah satu pilar utama untuk mendukung masa depan dan kemajuan bangsa. Oleh karenanya, melibatkan perguruan tinggi sebagai agent of change, sudah lazim dilakukan.

Sebagai agent of change, pada satu sisi perguruan tinggi nan notabene adalah lembaga nan dibangun dengan organisasi akademik nan berkarakter kolegial, dan menjunjung tinggi academic value untuk mencerdaskan bangsa, sehingga dituntut untuk menghasilkan nilai-nilai akademik, sosial, dan ekonomi nan semuanya adalah kata kunci dalam agent of change. Pada sisi lain dinamika kehidupan dunia tidak lagi melangkah cepat. Tetapi sudah melangkah tidak menentu, serba tidak terduga dan penuh dengan ketidakpastian.

Sementara pemerintah selaku pengambil kebijakan tetap dihadapkan pada dilema pendidikan, ialah menyangkut pilihan pemerataan pendidikan alias pendidikan sebagai pusat kelebihan (centers of excellence). Simak saja konsep VUCA nan berakar pada pendapat Bennis dan Nanus (1987), nan kemudian dipopulerkan oleh U.S. Army War College pada 1987 untuk menggambarkan lingkungan nan volatil, tidak pasti, kompleks dan ambigu. Gagasan mengenai bumi nan penuh volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas dan ambiguitas kemudian dikenal luas dengan istilah VUCA.

Gap inilah nan sepertinya menjadi argumentasi mendasar dari tren meningkatnya pengangguran nan berbasis lulusan sarjana. Artinya academic value dan kompetensi perguruan tinggi tidak linier dengan masa depan dan kehidupan dunia nan serba tidak terduga, penuh ketidakpastian dan susah diprediksi.

Pendidikan nan relevan mengikuti perkembangan era melalui transformasi perguruan tinggi di Indonesia saat ini sudah mulai digaungkan. Kita bisa menyimak beragam program dan strategi transformasi dari beragam perguruan tinggi di Indonesia. Jika simpulkan kurang lebih transformasi tersebut meliputi, (1) pembelajaran Daring (Online), Kurikulum nan fleksibel, (3) link and match dengan bumi industri, (4) pendidikan berbasis kompetensi, (5) penemuan teknologi, (6) digitalisasi, (7) partisipasi aktif dalam lingkungan dan keterlibatan sosial dan lingkungan.

Namun nan lepas dari transformasi adalah konsentrasi pada keberlanjutan dan tanggung jawab sosial. Ini bisa kita lihat dari hasil-hasil penelitian mahasiswa, baik dalam corak skripsi, tesis maupun disertasi, nan seolah berakhir dan hanya menjadi prasyarat kelulusan bagi mahasiswa. Beragam program keberlanjutan dari hasil riset belum bisa dieksplorasi secara optimal sebagai sebuah keberlanjutan dan inovasi. Hal nan sama mengenai dengan aspek tanggung jawab sosial. Pada saat lulusannya (alumni) kandas memasuki bumi kerja - untuk tidak menyebut menjadi pengangguran - tidak ada peran dan upaya dari perguruan tinggi untuk membantu lulusannya agar mendapatkan pekerjaan. Artinya persoalan perguruan tinggi bukan hanya gimana menghasilkan lulusan, tetapi gimana mengubah pengetahuan nan dihasilkan mahasiswa dan pengajar menjadi nilai ekonomi dan sosial.

Ilustrasi Perguruan Tinggi (ChatGPT)

Untuk menjawab perihal tersebut, maka strategi transformasi perguruan tinggi kudu konsentrasi pada;

Pertama, menjadikan perguruan tinggi sebagai pusat riset global. Artinya mengubah perguruan tinggi dari tempat pengajaran, menjadi pusat riset dan penemuan global. Hal ini bisa dilakukan dengan otonomi dan korporatisasi perguruan tinggi, merekrut tenaga pengajar dan peneliti terbaik dari beragam negara lain, melakukan riset interdisipliner pengetahuan untuk membentuk cluster riset strategis, menerapkan kurikulum inovatif nan mengintegrasikan lintas disiplin ilmu, serta membangun kewirausahaan alias badan upaya di perguruan tinggi sebagai strategi pendanaan di luar biaya pendidikan nan berasal dari mahasiswa. Dalam konteks ini kita bisa melakukan benchmarking terhadap keberhasilan transformasi pada dua kampus ternama, ialah National University of Singapore (NUS) dan Aalto University di Finlandia.

Kedua, membangun sistem perguruan tinggi sebagai dunia outsourcing, sebagai bagian dari upaya untuk menghubungkan bumi pendidikan dengan pasar kerja internasional. Sehingga perguruan tinggi diwajibkan untuk mengubah kurikulum, memperkuat kerja sama dengan diaspora, dan meningkatkan kualitas lulusan agar siap mengisi kebutuhan tenaga kerja lintas negara nan efisien. Dalam konteks ini kita bisa melakukan benchmarking terhadap LeBow College of Business Universitas Drexel, Philadelphia, nan sudah mempunyai mata kuliah Domestic and Global Information Systems Outsourcing.

Ketiga, membangun dan mengangkat kemitraan model jasa dunia untuk mewujudkan riset rantai pasok dunia seperti offshoring research network. Hal ini krusial sehingga hasil risetnya dapat dijadikan sebagai pedoman untuk membaca arah dan masa depan bumi nan serba dengan ketidakpastian dan susah diprediksi. Dalam konteks ini kita bisa melakukan benchmarking terhadap Duke University of Durham, nan ada di North Carolina.

Beragam program transformasi perguruan tinggi sebagaimana nan disebutkan di atas, ditambah dengan tiga konsentrasi tersebut, maka arah transformasi perguruan tinggi di Indonesia bakal semakin jelas dan terarah. Hal ini sekaligus untuk menjawab tesis utama, bahwa masalah sarjana menganggur bukan semata-mata lantaran terlalu banyak lulusan, tetapi lantaran terjadi ketidaksesuaian antara pendidikan tinggi, struktur kebutuhan tenaga kerja, dan keahlian perguruan tinggi mengubah pengetahuan menjadi penemuan serta lapangan kerja.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan