Menyemarakkan Diskursus Pancasila

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Menyemarakkan Diskursus Pancasila (MI/Seno)

ADA berita menggembirakan dari hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) nan laporannya dimuat sebuah harian nasional pada 2 Juni 2026. Survei itu menyebut tingkat mahfuz generasi Z terhadap Pancasila rupanya sangat tinggi, mencapai lebih dari 90%. Angka itu apalagi melampaui dua generasi sebelumnya, generasi Y dan generasi X. Meski hanya hafalan, info itu adalah modal nan patut kita syukuri dan rayakan bersama.

Modal itu bukan perihal kecil. Dalam lanskap kebangsaan nan kerap diwarnai kekhawatiran soal lunturnya nilai-nilai dasar, kebenaran bahwa generasi muda kita tetap hafal Pancasila adalah sebuah sinyal nan menggembirakan. Ia menunjukkan perhatian anak bangsa terhadap Pancasila tidaklah padam. Sebagai nilai bersama, Pancasila tetap terjaga, tetap hidup, meski mungkin dalam diam.

Namun, realita tersebut bukanlah sesuatu nan sudah selesai. Di sinilah pekerjaan rumah kita nan sesungguhnya dimulai. Jika kita mau jujur, diskursus tentang Pancasila di tengah publik belum betul-betul hidup. Pancasila memang dihafal, tapi belum cukup dipahami, diperbincangkan, dan dihidupkan secara merdeka oleh warganya. Pemahaman nan ada pun sering kali dangkal; bukan lantaran penduduk tidak mampu, melainkan lantaran selama ini ruang untuk perihal tersebut memang tidak cukup tersedia.

Pemaknaan atas Pancasila terlalu lama dimonopoli negara: datang lewat kurikulum nan seragam, pidato nan searah, dan penataran nan tidak memberikan ruang untuk menafsir lebih jauh. Warga diajak menghafal, bukan memahami; diajak menerima, bukan berdialog. Atau jika tidak, diskursus Pancasila berjalan di 'menara gading', tempat para cerdas pandai bertungkus lumus dengan ketinggian intelektualitas mereka.

Padahal, sebagaimana kita tahu, Pancasila lahir dari tradisi nan sangat berbeda. Sejarah mencatat bahwa dia bukan turun dari langit dalam corak jadi. Ia dirumuskan melalui debat, kompromi, dan ketegangan di antara para pendiri bangsa nan datang dari latar belakang berbeda-beda: nasionalis, religius, sosialis, dsb. Mereka bertengkar, berunding, berdialektika, dan dari situ lahirlah sebuah kesepakatan nan cukup lapang untuk menampung keberagaman Indonesia. Pancasila adalah buah dari diskursus. Sudah saatnya semangat itu dikembalikan kepada warganya.

Inilah nan perlu kita lakukan bersama: menyemarakkan diskursus Pancasila. Bukan dari atas ke bawah, melainkan sebaliknya. Bukan negara nan mendefinisikan Pancasila untuk warganya, melainkan penduduk nan bersama-sama menemukan, mendiskusikan, dan menafsirkannya secara merdeka, dari pengalaman, pergulatan, dan kehidupan mereka sendiri. Tafsir nan datang dari penduduk bukan ancaman bagi Pancasila. Ia justru tanda bahwa Pancasila betul-betul hidup. Salah satu langkah menyemarakkan diskursus itu adalah lewat komik.

KOMIK PANCASILA

Komik bukan media remeh. Ia ringan tanpa kehilangan kedalaman, menghibur tanpa meninggalkan substansi, dan menjangkau pembaca nan mungkin tidak bakal pernah membuka kitab teks filsafat. Ia berbincang lewat gambar, gerak, dan ekspresi, jauh lebih intuitif jika dibandingkan dengan deretan paragraf nan padat. Ia tidak memerlukan latar belakang akademis untuk dinikmati dan justru lantaran itu, dia demokratis: semua orang bisa masuk lewat pintunya.

Di banyak negara, gagasan-gagasan besar justru pertama kali disemai lewat panel-panel gambar lantaran bakal memperkuat lama di kepala pembacanya. Komik punya langkah tersendiri untuk membikin sesuatu nan absurd menjadi terasa nyata dan dekat. Ia mengundang pembacanya untuk aktif, mengikuti alur, menafsirkan gambar, merasakan cerita. Berbeda dengan pidato alias kitab teks nan serbasatu arah, komik membuka ruang imajinasi. Imajinasi adalah pintu masuk menuju pemahaman nan lebih dalam dan lebih pribadi.

Sejauh nan diketahui, hingga sekarang belum ada komik nan secara serius membujuk generasi muda Indonesia berkenalan dengan Pancasila. Kekosongan itulah nan mendorong lahirnya Pancasila untuk Pemula: sebuah komik nan ditujukan untuk semua kalangan, khususnya bagi kaum muda Indonesia.

Kehadirannya tentu bukanlah bagian dari doktrin, melainkan sebagai undangan. Bukan untuk menggantikan obrolan serius tentang Pancasila, melainkan untuk membuka pintunya lebih lebar. Ia satu dari sekian tafsir merdeka nan lahir dari inisiatif penduduk negara; bagian dari diskursus nan memang sudah semestinya bergulir lebih ramai.

Dengan komik, harapannya, Pancasila tidak lagi menjadi diskursus nan berat dan eksklusif. Ia menjadi percakapan nan bisa terjadi di mana saja: di bilik tidur, di angkot, di warung, alias di sela-sela waktu luang. Dari realita seperti itulah pemahaman nan genuine tumbuh. Pemahaman nan tidak dipaksakan, nan datang dari kesadaran sendiri.

PANCASILA YANG OPERASIONAL

Harapan lebih jauhnya adalah tumbuhnya kebudayaan Pancasila. Sebuah kebudayaan nan menghidupi Pancasila, sekaligus kebudayaan nan dilahirkan Pancasila itu sendiri. Di antara keduanya terjadi dialektika nan terus bergerak: diskursus nan semarak dari bawah dan melahirkan pemikiran-pemikiran tentang gimana Pancasila dipahami, dimaknai, dan dioperasionalisasikan, dan operasionalisasi itu pada gilirannya melahirkan diskursus nan baru. Demikian seterusnya. Justru dialektika nan tak pernah berakhir itulah nan menjadi bentuk sejati kebudayaan Pancasila.

Itulah muara dari semua ini. Diskursus Pancasila nan semarak bukanlah tujuan akhir. Ia jalan menuju tumbuhnya entitas penduduk negara nan sesungguhnya karena Pancasila nan kuat bukan Pancasila nan sekadar dihafal, melainkan nan operasional, nan 'bunyi' dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila nan operasional bukan sesuatu nan datang dari dekrit alias instruksi. Ia tumbuh dari bawah; dari penduduk nan mengerti bakal kewenangan dan kewajibannya. nan tahu bahwa Pancasila bukan sekadar simbol di atas kertas, melainkan juga kerangka nyata untuk membangun kebaikan bersama, mendorong kebijakan nan berpihak, dan membangun relasi nan setara antara negara dan warganya.

Diskursus nan semarak adalah tanah subur bagi kesadaran semacam itu. Ketika Pancasila diperbincangkan secara luas dan merdeka, di warung kopi, di ruang kelas, di media sosial, di laman komik, dia tidak lagi terasa asing. Ia menjadi bahasa nan menubuh dan menjadi kesadaran, kerangka nan intuitif, dan akhirnya perangkat nan fungsional di tangan penduduk negara nan berdaya.

Itulah lingkaran nan mau kita bangun: dari diskursus menuju pemahaman, dari pemahaman menuju kesadaran, dari kesadaran menuju tindakan. Tindakan itulah nan membikin Pancasila sungguh-sungguh operasional, bukan di atas kertas, bukan di dalam pidato, melainkan di dalam langkah kita berbangsa dan bernegara di setiap perikehidupannya.

Pancasila untuk Pemula adalah salah satu langkah mini dalam perjalanan panjang itu. Ia lahir dari kepercayaan bahwa diskursus nan semarak dimulai dari percakapan nan sederhana, dari selembar laman nan dibaca dengan santai, lampau mengendap, lampau pelan-pelan mengubah langkah seseorang memandang dirinya sebagai penduduk bangsa dan negara.

Bukan penduduk nan pasif menunggu negara, melainkan penduduk nan sadar, nan berdaya, dan nan tahu bahwa Pancasila adalah miliknya juga. Bahwa dia berkuasa menafsirnya, mempercakapkannya, dan menghidupkannya, bukan lantaran diperintah, melainkan lantaran memang itulah prinsip menjadi bagian dari bangsa ini.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia