Menakar Implementasi Bahan Bakar B50, Ini Catatan dari Ahli Pengamat

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Road test B50 di Lembang hingga Cirebon, Selasa (21/4/2026). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Jelang penerapan program mandatori bahan bakar biodiesel B50 di Indonesia nan dijadwalkan bergulir per 1 Juli memicu pembahasan teknis nan mendalam. Kebijakan ini mewajibkan pencampuran antara minyak nabati alias FAME (Fatty Acid Methyl Ester) sebesar 50 persen dengan 50 persen minyak solar bumi.

Namun, hingga mendekati tenggat waktu pemberlakuan, rujukan izin teknis mengenai standardisasi bahan bakar baru ini terpantau belum resmi diterbitkan. Para produsen hilir tetap menunggu keputusan final mengenai parameter kandungan unsur kimiawi nan bakal digunakan sebagai referensi proses produksi massal.

Kondisi tersebut secara otomatis membikin industri manufaktur biodiesel nasional kudu bergerak sigap melakukan penyesuaian formulasi begitu patokan disahkan. Pasalnya, karakter bentuk dan kimiawi dari B50 dikatakan dapat berpengaruh terhadap performa cukup signifikan, dibandingkan dengan formula B40 nan beredar saat ini.

"Jadi sebelum penerapan itu, pertama dasar hukumnya kudu jelas. Dasar hukumnya adalah spesifikasi dari Dirjen Migas untuk B50," buka Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Tri Yuswidjajanto kepada kumparan, Jumat (19/6/2026).

Road test B50 di Lembang hingga Cirebon, Selasa (21/4/2026). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Tri menambahkan, sembari menunggu info spesifikasi bahan bakar B50 dari pihak Dirjen EBTKE. Ia menilai kadar campuran ini diprediksi kuat bakal berubah, terutama pada periode pemisah penurunan kadar air menjadi 300 serta penyusutan senyawa monogliserit.

Salah satu parameter krusial nan paling disorot dari pergeseran formula B50 ini adalah terjadinya lonjakan nilai Cetane Number (CN) alias nomor setana. Secara teoritis, jika menggunakan pedoman komponen solar berspesifikasi CN 48 dan biodiesel ber-CN 51, maka formula B50 bakal menghasilkan nilai rata-rata campuran di nomor (CN) 49,5.

Meskipun secara nomor terlihat lebih tinggi dan menjanjikan pembakaran nan lebih responsif, kondisi ini justru menyimpan potensi masalah tersendiri bagi kendaraan generasi lama. Sifat kimiawi unsur nan terlalu sigap menyala di dalam ruang bakar berisiko tidak sinkron dengan sistem mekanis mesin diesel konvensional.

"Cetane number-nya naik tinggi, timing injection-nya tidak bisa menyesuaikan, justru dayanya turun," tambah Tri.

Dirinya bercerita bahwa kejadian ini serupa dengan kasus mobil berbahan bakar bensin lawas nan dipaksakan menenggak bahan bakar beroktan terlalu tinggi tanpa penyesuaian sistem pengapian. Efek nyata nan bakal langsung dirasakan oleh pemilik adalah performa tarikan kendaraan menjadi tersendat serta berat saat menanjak.

Jajaran botol sampel biodiesel sawit diletakkan saat aktivitas pengetesan B50 sebagai bagian dari rencana strategis pemerintah untuk meningkatkan kadar campuran sawit di Lembang, Provinsi Jawa Barat, Selasa (21/04/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

"Pada mesin diesel uzur nan tetap mengangkat sistem indirect injection alias direct injection manual, titik waktu penyemprotan bahan bakar tidak dapat beradaptasi secara otomatis," jelas Tri.

Akibatnya, ledakan pembakaran sudah terjadi mendahului langkah kompresi optimal ketika piston tetap bergerak menuju Titik Mati Atas (TMA).

Kendati demikian, potensi hambatan penurunan performa mesin akibat ketidaksesuaian waktu pembakaran ini dipastikan tidak bakal menjangkiti lini kendaraan modern. Mobil-mobil diesel keluaran terbaru nan beredar di pasar saat ini umumnya telah mengangkat sistem manajemen mesin berbasis komputasi nan fleksibel.

Berkat kehadiran sensor elektronik pada sistem injeksi pasokan bahan bakar modern, komputer mobil (ECU) bakal langsung membaca karakter bahan bakar baru secara presisi. Sistem secara otomatis menggeser titik waktu penyemprotan agar tetap mendekati titik meninggal atas demi mempertahankan efisiensi daya nan optimal.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan