Menutup atau Menata Ulang Program Studi?

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi bidang kuliah. Foto: wutzkohphoto/Shutterstock

Wacana penutupan program studi nan dianggap tidak relevan dengan kebutuhan jangka pendek pasar kerja kembali mengemuka. Di tengah tekanan efisiensi anggaran, tuntutan serapan lulusan, dan dinamika industri nan berubah cepat, perguruan tinggi dihadapkan pada pilihan strategis berupa mempertahankan, mentransformasi, alias menutup program studi tertentu.

Namun, keputusan ini tidak bisa diambil secara reaktif. Dibutuhkan pendekatan berbasis Root Cause Analysis (RCA) serta kerangka berpikir market-driven dan market-based agar kebijakan nan diambil tidak justru menimbulkan masalah baru.

Sering kali, rendahnya minat mahasiswa alias minimnya serapan lulusan dijadikan justifikasi langsung untuk menutup program studi. Padahal, jika dianalisis lebih dalam melalui RCA, indikasi tersebut belum tentu merupakan akar masalah.

Terdapat beberapa kemungkinan akar penyebab nan sering terabaikan. Pertama, mismatch kurikulum dengan kebutuhan industri. Kurikulum nan stagnan membikin lulusan tidak mempunyai kompetensi nan relevan. Kedua, kegagalan positioning dan branding program studi, di mana program nan sebenarnya potensial menjadi tidak diminati lantaran tidak dikomunikasikan dengan baik kepada calon mahasiswa.

Ilustrasi kuliah. Foto: aslysun/Shuttterstock

Selanjutnya mengenai dengan keterbatasan ekosistem pembelajaran, di mana akibat dari minimnya kerjasama dengan industri, kurangnya pengajar praktisi, alias akomodasi nan tidak memadai. Berikutnya, akibat terjadinya perubahan preferensi generasi, generasi muda condong memilih bagian nan dianggap trendy tanpa memahami prospek jangka panjang.

Jika akar masalah berada pada aspek manajerial, kurikulum, alias strategi pemasaran, penutupan program studi bukanlah solusi, melainkan corak kegagalan diagnosis. Maka dari itu, diperlukan pendekatan market-driven yang menekankan bahwa perguruan tinggi kudu responsif terhadap kebutuhan pasar tenaga kerja.

Dalam konteks ini, program studi nan tidak mempunyai permintaan tinggi dalam jangka pendek memang perlu dievaluasi secara serius. Namun, pendekatan ini mempunyai keterbatasan nan perlu dicermati, antara lain: pasar nan berkarakter bergerak dan sering kali short-term oriented, tidak semua kebutuhan strategis bangsa tecermin dalam permintaan pasar saat ini, dan potensi terjadinya akibat homogenisasi program studi nan hanya mengikuti tren (misalnya digital, AI, bisnis) tanpa diferensiasi.

Jika diterapkan secara ekstrem, pendekatan ini dapat menggerus peran perguruan tinggi sebagai lembaga pembentuk peradaban, bukan sekadar penyedia tenaga kerja.

Ilustrasi tenaga kerja. Foto: Kementerian ESDM

Berbeda dengan market-driven, pendekatan market-based berfokus pada gimana lembaga menciptakan kelebihan berbasis sumber daya internal (resource-based view).

Dalam konteks program studi, perihal ini berfaedah perlu dilakukan identifikasi core competence unik nan dimiliki oleh program studi, sehingga dapat dikembangkan diferensiasi (misalnya niche specialization) nan berfaedah untuk menciptakan pasar baru, bukan hanya mengikuti pasar nan ada.

Dengan pendekatan market based, program studi nan saat ini dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri tidak serta-merta ditutup, tetapi dapat direposisi menjadi lebih bernilai.

Sebagai solusi, perguruan tinggi sebaiknya mempertimbangkan beberapa strategi melalui rekonstruksi kurikulum berbasis industri dengan melibatkan praktisi di dalam merancang kurikulum dan pembelajaran nan berbasis proyek maupun studi kasus. Selanjutnya, perguruan tinggi bisa menjalankan model hibridisasi program studi dengan langkah menggabungkan beberapa disiplin pengetahuan untuk menciptakan program baru nan lebih relevan (interdisciplinary).

Ilustrasi kampus. Foto: Shutterstock

Dalam konteks pemasaran, perguruan tinggi perlu menjalankan strategi rebranding dan market education dengan langkah mengedukasi pasar bahwa bagian tertentu mempunyai prospek strategis jangka panjang.

Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan kemitraan strategis dengan bumi upaya dan industri, guna meningkatkan employability lulusan melalui magang, riset terapan, dan inkubasi bisnis. Dan tidak kalah penting, perguruan tinggi kudu melakukan pengukuran keahlian berbasis outcome, bukan sekadar input jumlah mahasiswa dalam artian—tidak hanya memandang jumlah mahasiswa, tetapi juga akibat lulusan.

Wacana menutup program studi mungkin terlihat sebagai solusi cepat, tetapi berisiko mengorbankan potensi jangka panjang. Perguruan tinggi mempunyai mandat lebih besar, ialah membentuk manusia, menciptakan pengetahuan, dan menjawab tantangan masa depan nan belum tentu terlihat hari ini.

Pendekatan RCA membantu kita memahami akar persoalan secara objektif. Sementara itu, keseimbangan antara market-driven dan market-based memungkinkan perguruan tinggi tetap relevan tanpa kehilangan jati dirinya. Pertanyaannya bukan lagi "Program studi mana nan kudu ditutup?" melainkan "Bagaimana program studi dapat ditransformasi agar tetap berarti di masa depan?"

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan