Mentrans: Potensi Ladang Baru Minyak dan Hasil Hutan di Tanah Transmigrasi, Bernilai Triliunan

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Rohman Wibowo , Jurnalis-Rabu, 29 April 2026 |15:56 WIB

 Potensi Ladang Baru Minyak dan Hasil Hutan di Tanah Transmigrasi, Bernilai Triliunan

Mentrans (Foto: Okezone)

JAAKRTA - Kementerian Transmigrasi menemukan potensi ekonomi di area transmigrasi nan bisa mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Mulai dari ladang minyak dan komoditas pangan nan berbobot tambah secara domestik maupun mengerek neraca ekspor.

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, mengatakan identifikasi potensi ekonomi semisal di Sulawesi dan Maluku, nan masif ditemukan komoditas kelapa. Pelacakan komoditas berbobot tinggi ini berasal dari temuan alias hasil riset lapangan sejumlah sarjana nan tergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot garapan Kementrans. 

Untuk komoditas kelapa, Iftitah mengungkapkan potensi nilai ekonominya bisa tembus Rp120 triliun. Adapun China mempunyai tingkat permintaan dan konsumsi bakal komoditas tersebut dalam jumlah masif. 

"Banyak lagi nan lain, kopi dan cokelat. Kopi seperti di Gayo (Aceh), itu banyak sekali para penanammodal nan datang dari Australia, kemudian dari Inggris, kemudian dari Amerika. Nah ini nan kami bakal berdayakan dengan pendampingan dari tim ekspedisi patriot agar hasilnya bisa lebih maksimal," kata Iftitah saat bertemu pers di Hotel Sheraton, Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Hasil riset juga menemukan ladang minyak di area transmigrasi nan berlokasi di Kalimantan Timur. Sedikitnya, didapati potensi sumur baru sebanyak 13 titik. Belasan titik sumber daya minyak ini sebelumnya menjadi ladang minyak eksisting nan bakal direvitalisasi. 

Iftitah mengatakan eksplorasi ladang minyak bakal dikoordinasikan dengan SKK Migas. Pemetaan ladang minyak di Kaltim tersebut ditujukan untuk pemanfaatan sumber daya nan mempunyai pengaruh rambatan ke wilayah transmigran.

"Nah kami mau gimana bukan hanya para transmigran tapi masyarakat lokal itu juga mendapatkan faedah dari ekosistem tambang nan ada di sana misalkan. Kami juga menemukan bahwa hilirisasi belum optimal lantaran teknologinya belum tepat guna, belum banyak digunakan, dan juga kekurangan akses modal," kata dia.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com