Menteri Transmigrasi Titipkan Mimpi pada Penerima Beasiswa Garuda Azka: Belajarlah dengan Rendah Hati di Amsterdam

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
 Belajarlah dengan Rendah Hati di Amsterdam Ilustrasi(Dok Istimewa)

MENTERI Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara memberikan pesan unik kepada penerima Beasiswa Garuda LPDP, Azka Abdul Malik Albayroni, nan bakal melanjutkan studi Human Geography and Planning di University of Amsterdam (UvA), Belanda. Dalam pertemuan nan berjalan di Gedung Makarti, Kalibata, Kamis (24/7/2026), Iftitah berambisi Azka tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membawa pulang solusi bagi pembangunan Indonesia.

Azka, siswa SMA Pradita Dirgantara nan sukses memperoleh 30 Letter of Acceptance (LoA) dari beragam perguruan tinggi dunia, diterima Menteri Transmigrasi dalam suasana hangat. Pertemuan tersebut menjadi arena obrolan mengenai pembangunan kewilayahan, pemerataan penduduk, hingga masa depan Program Transmigrasi Patriot.

Dalam pesan tertulisnya, Iftitah menekankan pentingnya menuntut pengetahuan dengan kerendahan hati.

"Belajarlah dengan tekun dan penuh kerendahan hati. Pelajari tentang transmigrasi selama di sana. Saya percaya Azka bakal menghasilkan pengetahuan nan berfaedah bagi masa depan Indonesia nan lebih baik menuju Zero Poverty," tulis Iftitah.

Tak hanya itu, Menteri juga memberikan motivasi agar Azka mempunyai pola pikir seorang pejuang.

"Azka, sebelum belajar tentang ruang dan manusia di Belanda, ubah pola pikirmu. Jangan jadi kuda pacuan nan berlari tanpa arah. Jadilah kuda perang. Tahu kapan maju, kapan mundur. Tidak takut diam, dan tidak takut omongan orang," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Iftitah menjelaskan konsep Transmigrasi Patriot, sebuah pendekatan baru pembangunan area transmigrasi nan tidak sekadar memindahkan penduduk, melainkan membangun ekosistem ekonomi dan sosial secara menyeluruh.

Menurutnya, Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau mempunyai karakter wilayah nan berbeda-beda sehingga memerlukan pendekatan pembangunan nan sesuai dengan potensi masing-masing daerah.

"Transmigran bukan sekadar dipindahkan. Mereka adalah arsitek pembangunan. Mereka membangun tempat tinggal sekaligus area upaya nan terintegrasi dari produksi hingga pemasaran," katanya.

Ia menegaskan, pembangunan tidak cukup hanya menyediakan rumah dan lahan pertanian.

"Kalau hanya diberi rumah dan ladang, setelah panen mau ke mana hasilnya? Karena itu pembangunan kudu disesuaikan dengan karakter daerah. Pendekatan seperti inilah nan kudu Anda pelajari dalam perencanaan wilayah di Belanda," jelas Iftitah.

Iftitah juga memaparkan pendapat pembangunan Kampus Patriot di area transmigrasi sebagai upaya mempercepat pemerataan pendidikan tinggi dan transfer teknologi ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Menurutnya, perguruan tinggi kudu datang lebih dekat dengan masyarakat agar penemuan dan penelitian dapat langsung menjawab kebutuhan pembangunan daerah.

"Perguruan tinggi kudu dekat dengan solusi. SDM unggul kudu datang di mana pun, tidak hanya di Pulau Jawa. Kampus satelit bakal mempercepat transfer pengetahuan pengetahuan dan teknologi ke wilayah terpencil," ujarnya.

Selain mempelajari pengetahuan perencanaan wilayah, Menteri juga meminta Azka menelusuri sejarah transmigrasi Indonesia melalui arsip nan tersimpan di Universitas Leiden.

Ia mengingatkan bahwa program kolonisasi pertama pada masa Hindia Belanda dimulai pada November 1905, ketika 155 kepala family dari Kedu dipindahkan ke Gedong Tataan, Lampung.

"Pelajari kenapa pemerintah kolonial Belanda memilih wilayah tersebut. Sejarah bakal membantu memahami gimana kebijakan pembangunan wilayah berkembang hingga sekarang," pesannya.

Dalam pertemuan tersebut, Iftitah juga berbagi kisah pribadi bahwa ayahnya merupakan alumni University of Amsterdam.

Ia berambisi Azka dapat mengikuti jejak tersebut dengan membawa misi nan lebih besar, ialah menghadirkan pendapat dan penemuan bagi pembangunan Indonesia.

"Ayah saya belajar di UvA. Sekarang giliran kamu. Bawa pulang pengetahuan nan membawa perubahan bagi bangsa," kata Iftitah.

Menteri juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas selama menempuh pendidikan di luar negeri.

"Kalau melakukan baik hanya lantaran mau dipuji, satu kritik bisa menghancurkan. Tetapi jika melakukan baik lantaran memang itu benar, pujian maupun kritik tidak bakal menggoyahkanmu," ujarnya.

Di akhir pertemuan, Iftitah berpesan agar Azka memanfaatkan kesempatan belajar di Belanda untuk memahami gimana negara maju mengelola ruang dan sumber daya manusia.

"Kamu bakal memandang gimana negara maju mengelola ruang dan manusia. Tetapi Indonesia mempunyai 17 ribu pulau dengan ribuan budaya. Tugasmu adalah pulang membawa solusi. Belajarlah dari kesalahan kami, perbaiki, jangan diulangi. Negeri ini menunggu solusi, bukan sekadar kepulanganmu," tuturnya.

Menanggapi pengarahan tersebut, Azka mengaku memperoleh perspektif baru mengenai pembangunan wilayah dan transmigrasi.

"Saya tidak mau kembali hanya membawa gelar, tetapi juga solusi nyata bagi Indonesia," ujarnya.

Ia menilai konsep Transmigrasi Patriot memberikan pemahaman bahwa pemerataan masyarakat kudu melangkah beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengembangan potensi daerah.

"Ini menjadi bekal nan sangat berbobot ketika saya mempelajari perencanaan kota dan wilayah di Belanda," katanya.

Sementara itu, pengajar Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) sekaligus ibu Azka, Rachma Fitriati, mengapresiasi kesediaan Menteri Transmigrasi meluangkan waktu berbincang secara langsung dengan putranya.

"Pejabat negara memberi arah, bukan sekadar izin. Pemimpin membimbing, bukan hanya memerintah," ujar Rachma.

Rachma sendiri mempunyai pengalaman panjang dalam pembangunan area terpencil. Pada 2025, dia memimpin Tim Ekspedisi Patriot UI di Pulau Morotai, Maluku Utara, nan kemudian meraih Mandaya Awards 2025 kategori Penggerak Pembangunan Daerah Terpencil, Patriot Pemberdayaan Masyarakat.

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas kontribusi Universitas Indonesia dalam mendorong pembangunan kewilayahan berbasis pemberdayaan masyarakat.

Menurut Rachma, pengalaman di Morotai memperlihatkan bahwa kehadiran negara di wilayah terpencil mempunyai akibat besar terhadap percepatan pembangunan.

"Morotai mengajarkan bahwa kehadiran negara di wilayah terpencil sangat menentukan. Karena itu saya mendukung Azka mempelajari Human Geography and Planning agar suatu saat dapat kembali membawa solusi bagi pembangunan Indonesia nan lebih setara dan berkelanjutan," katanya.(H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia