Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto membuka The 7th World Congress on Probation and Parole (WCPP) 2026. Agus menegaskan komitmen Indonesia dalam mendorong transformasi sistem pemasyarakatan menuju pendekatan keadilan restoratif nan lebih humanis dan berkelanjutan.
Acara ini diselenggarakan pada 14-17 April 2026 di Bali International Convention Center mengusung tema 'Getting Smart on Justice: Healing Hearts, and Safer Societies'. Agus menerangkan tema tersebut mencerminkan dinamika sistem pemasyarakatan saat ini nan bergerak menuju pendekatan nan lebih pandai dan berbasis data.
"Sistem pemasyarakatan tidak lagi semata tentang pemenjaraan, tetapi juga tentang pemulihan," kata Agus dalam keterangannya seperti dilihat, Selasa (14/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan restorative justice, di mana norma tidak lagi berorientasi pada pembalasan, melainkan pada reintegrasi sosial. "Pemulihan tidak hanya bagi pelaku, tetapi juga korban dan masyarakat, sehingga dapat memulihkan hubungan sosial nan sempat terputus," tambahnya.
Dalam konteks safer society, Agus menyoroti peran strategis Balai Pemasyarakatan melalui pembimbingan dan pengawasan untuk memutus mata rantai residivisme serta menciptakan harmoni antara masyarakat dan penegak hukum.
Selain itu, Agus menegaskan WCPP merupakan forum strategis nan mempertemukan para pemangku kepentingan pemasyarakatan dari beragam negara untuk saling berganti pengalaman, merumuskan model pembinaan nan ideal, serta menghasilkan rekomendasi sebagai rujukan praktik terbaik di tingkat global.
Foto: Menteri Imipas Agus Andrianto membuka WCPP 2026 di Bali (dok istimewa)
Forum ini, terang Agus, diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam penguatan sistem pemasyarakatan, khususnya dalam pengembangan pidana pengganti dan pembebasan bersyarat. Pada kesempatan ini, pihaknya menyoroti tingginya komitmen global, di mana para delegasi dari 44 negara tetap datang di tengah dinamika dan eskalasi geopolitik dunia.
Ia menyebut kepercayaan kepada Indonesia sebagai tuan rumah merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar. "Dipilihnya Bali tidak terlepas dari nilai budayanya nan merepresentasikan wajah Indonesia, di mana kearifan lokal melangkah seiring dengan kemajuan zaman," ujarnya.
Agus turut mengapresiasi support Pemerintah Daerah Bali serta menyoroti keterlibatan penduduk bimbingan dalam mendukung penyelenggaraan kegiatan, termasuk melalui produk-produk nan dipamerkan kepada delegasi internasional.
"Hal ini diharapkan menjadi motivasi bagi penduduk bimbingan untuk terus produktif sekaligus membuka kesempatan pemasaran nan lebih luas," ungkapnya.
Lebih lanjut, dia menegaskan Indonesia juga membuka ruang untuk mendapatkan masukan dari beragam negara mengenai pola pembinaan, seiring dengan perubahan paradigma pemidanaan nan sekarang bergeser dari pendekatan pemenjaraan menuju pembinaan, pemulihan, dan kerja sosial, sebagaimana juga tercermin dalam pembaruan KUHP dan KUHAP.
Sebagai informasi, kongres ini diikuti oleh lebih dari 400 peserta dari 44 negara nan terdiri dari praktisi, akademisi, dan pemangku kepentingan di bagian pemasyarakatan. Selama empat hari pelaksanaan, peserta bakal mengikuti beragam agenda, mulai dari sesi pleno, obrolan tematik, hingga pertukaran praktik terbaik.
Forum ini diharapkan dapat memperkuat kerjasama internasional sekaligus mendorong terwujudnya sistem keadilan nan lebih inklusif, adaptif, dan berorientasi pada pemulihan di beragam negara.
(isa/rfs)
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·