Jakarta, CNBC Indonesia - Komnas Perempuan menyatakan polemik mengenai pernyataan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman nan berkembang di ruang publik telah selesai. Pernyataan itu disampaikan setelah Komnas Perempuan berjumpa langsung dengan Amran untuk
melakukan penjelasan di Kementerian Pertanian (Kementan), pada Kamis (13/8).
Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor mengatakan, pertemuan tersebut dilakukan setelah pihaknya memperoleh info dari pemberitaan media mengenai pernyataan Amran mengenai persoalan nan terjadi di Surabaya.
"Kedatangan kami, Komnas Perempuan ke instansi Kementerian Pertanian berjumpa dengan Pak Menteri ini lantaran media kemarin nan mempertemukan," kata Maria dalam keterangan resmi, Kamis (13/8/2026).
Maria menjelaskan, Komnas Perempuan mempunyai mandat untuk melakukan pemantauan terhadap upaya penghentian kekerasan terhadap wanita dan diskriminasi terhadap hak-hak perempuan. Karena itu, pihaknya merasa perlu menjelaskan langsung info nan berkembang.
"Hari ini adalah kami sudah mengkonfirmasi, menjelaskan mengenai dengan pernyataan beliau dan alhamdulillah clear, sudah tidak ada lagi nan perlu kita perdebatkan," ujarnya.
Menurut Maria, hasil pertemuan juga menunjukkan bahwa Kementan telah mengangkat prinsip pengarusutamaan kelamin dalam pembangunan dan penyelenggaraan program.
"Kalau dari laporan dan info nan kami sampaikan ini termasuk juga nan sudah mengangkat alias menjadikan referensi terhadap mainstreaming kelamin dalam pembangunan," jelas Maria.
Ia mengatakan pengarusutamaan kelamin menjadi bagian dari pedoman kerja Komnas Perempuan dalam memandang ada alias tidaknya ketimpangan kelamin di lembaga negara, baik dalam program maupun pelaksanaannya. Maria menekankan keterlibatan wanita kudu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tahap perencanaan hingga pemantauan dan evaluasi.
"Jadi kuncinya adalah di dalam perencanaan wanita dilibatkan, di dalam penyelenggaraan wanita dilibatkan, di dalam pemantauan dan pertimbangan wanita juga dilibatkan," katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Komnas Perempuan juga memperoleh info bahwa Kementan telah memberikan ruang bagi wanita dalam struktur organisasi dan penyelenggaraan program. Sejumlah posisi kepala bagian di lingkungan Kementan apalagi diisi oleh perempuan.
Pertemuan itu kemudian berkembang menjadi pembahasan mengenai penguatan kerja sama kedua lembaga dalam rumor perlindungan perempuan. Kementan dan Komnas Perempuan sebelumnya telah mempunyai nota kesepahaman mengenai upaya penghapusan segala corak diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan.
Amran pun menyambut baik hasil pertemuan tersebut. Ia menegaskan sejak awal tidak pernah mempunyai niat untuk mendiskriminasi wanita maupun golongan tertentu. Amran mengatakan langsung menghubungi Ketua Komnas Perempuan setelah memandang pemberitaan mengenai persoalan tersebut.
"Kami ucapkan terima kasih kepada Ketua Komnas Perempuan. Tadi malam begitu kami lihat berita, kami baru selesai sholat Isya, tiba-tiba kami cari nomor telepon beliau, langsung telepon. Ini sensitif, sensitif sekali," kata Amran.
Ia menjelaskan persoalan nan menjadi sumber polemik bermulai dari upaya pemerintah merespons keluhan peternak ayam mengenai nilai telur. Pemerintah kemudian mengundang peternak ayam dari seluruh Indonesia, pengusaha hingga pelaku upaya besar untuk mencari akar persoalan.
Dalam penelusuran tersebut, salah satu persoalan nan ditemukan adalah belum optimalnya penyerapan telur peternak oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya di Surabaya.
"Di Surabaya, kenapa nilai turun? Salah satu aspek penyebabnya adalah MBG nan SPPG ini tidak membeli telur dari peternak dengan nilai nan ditentukan oleh pemerintah," ujar Amran.
Dalam konteks penanganan persoalan tersebut, muncul pembicaraan mengenai seorang pegawai nan tengah mengandung dan mempunyai tugas dengan mobilitas tinggi. Mentan Amran menjelaskan tawaran agar nan berkepentingan bekerja di Kementan bukan dimaksudkan sebagai balasan maupun diskriminasi.
"Jadi bukan dihukum. Saya dengan spontan, tolong cari nan kuat. Tapi terserah laki alias perempuan. Jadi tidak ada masalah di situ. Membuktikan bahwa saya tidak ada diskriminasi, kami mau dia di sini berkantor," tegasnya.
Amran juga menegaskan Kementan menerapkan prinsip meritokrasi. Menurutnya, penilaian dan kesempatan kerja diberikan berasas keahlian dan kinerja, bukan berasas jenis kelamin, suku, kepercayaan maupun asal daerah.
"Di pertanian meritokrasi. Kami tidak memandang siapa mereka. Dari suku mana, dari kepercayaan mana, dari mana. Gender, tidak ada. nan krusial kinerja," ujarnya.
Menurut Amran, pertemuan dengan Komnas Perempuan justru menjadi momentum untuk mengubah polemik menjadi kerjasama nan menghasilkan tindakan nyata.
"Kita di sini mau mencari kebaikan, kita mau tumbuh bersama, kita mau bangun negara ini bersama," katanya.
Kolaborasi tersebut bakal diarahkan pada beragam program pertanian nan bergesekan langsung dengan masyarakat, termasuk wanita dan masyarakat terdampak bencana.
"Jadi bukan lagi menjadi topik nan tadi. Langsung tindakan nyata. Nanti operasionalnya berbareng dengan dirjen-dirjen. Ini lengkap. Ada peternakan, ada hortikultura. KRPL kita bangun bersama," ujarnya.
Amran menilai keterlibatan wanita menjadi bagian krusial dalam pembangunan pertanian. Menurutnya, peran wanita sangat besar dalam rantai sektor pertanian, mulai dari produksi hingga aktivitas ekonomi keluarga.
"Perempuan sektor pertanian itu mungkin 50 persen. Jadi kita ini harus, jika mau sukses, muliakan ibu, ibu, ibu, ibu," katanya.
Dia pun menegaskan pembangunan pertanian ke depan tidak hanya mengejar swasembada pangan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Alhamdulillah, tahun ini kita sudah swasembada. Sekarang kesejahteraan kita kejar," ujarnya.
Amran memastikan Kementan bakal terus membuka ruang kerjasama dengan Komnas Perempuan dan beragam pihak untuk memastikan pembangunan pertanian berjalan inklusif, memberikan kesempatan nan setara dan bebas dari diskriminasi.
"Kami bekerja untuk Merah Putih, kami bekerja untuk umat. Gender, ini kudu kita perhatikan semua," pungkas Amran.
(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]
52 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·