Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kemudi tertinggi Bank Indonesia (BI) diajukan untuk diisi oleh duo perempuan: Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI dan Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior.
Langkah Presiden Prabowo Subianto ini tidak hanya mendobrak tradisi domestik, tetapi juga menempatkan Indonesia di panggung elite moneter dunia sebagai salah satu dari sedikit negara nan menerapkan all-female leadership di puncak bank sentralnya.
Jika kita menengok lanskap ekonomi global, kejadian dua posisi teratas otoritas moneter dipegang sekaligus oleh wanita merupakan kejadian nan sangat langka, tetapi sudah mempunyai preseden sukses.
Negara nan menjadi pelopor duet kepemimpinan wanita di bank sentral adalah Chile. Sejak tahun 2022 Bank Sentral Chile dipimpin oleh kombinasi Rosanna Costa sebagai Gubernur dan Stéphanie Grygiel sebagai Deputi Gubernur.
Selain Chile, Bank Sentral Eropa (ECB) juga dipimpin perempuan, ialah Christine Lagarde. Sebagai presiden ECB, dia didampingi oleh barisan ahli ekonomi wanita di jejeran majelis pelaksana utamanya.
Jauh sebelum itu, raksasa ekonomi bumi Amerika Serikat juga pernah mencicipi era keemasan kepemimpinan wanita ketika Janet Yellen memimpin komite The Federal Reserve (US Fed) pada periode 2014–2017.
Beberapa nama lain dapat disebutkan, seperti Maysaa Sabreen nan pernah ditunjuk sebagai gubernur interim bank sentral Suriah, Jorgovanka Tabakovic, salah satu gubernur wanita dengan masa terlama memimpin National bank of Serbia,, dan Caroline Abel, gubernur Central bank of Seychelles.
Jika kita memperluas alam ke benua kita sendiri, kejadian wanita nan memegang kendali di bank sentral bukanlah perihal nan asing di Asia. Tetangga dekat kita, Malaysia, adalah contoh nyata di mana bank sentral mereka, Bank Negara Malaysia (BNM), sudah dua kali dipimpin oleh Gubernur perempuan, ialah Tan Sri Dr. Zeti Akhtar Aziz (2000–2016) dan Tan Sri Nor Shamsiah Mohd Yunus (2018–2023). Di dalam negeri pun, rekam jejak srikandi moneter kita sebenarnya sudah mengakar sejak lama lewat figur mendiang Siti Ch. Fadjriah nan menjabat sebagai Deputi Gubernur BI periode 2005–2010.
Perempuan Lebih Dovish?
Diskursus tentang aspek kelamin memimpin bank sentral telah lama menarik perhatian. Meskipun secara umum orang memandang bahwa bumi moneter adalah ruang kaku nan dipenuhi nomor dan diagram nan kerap diklaim buta gender, pandangan nan mengarahkan perhatian pada kelamin bukan tidak ada.
Di pasar finansial global, ada sebuah bias tak kasat mata nan disebut sebagai market credibility asymmetry—sebuah ketimpangan kepercayaan berasas gender.
Ini, misalnya, dapat ditemukan pada studi berjudul Gender Bias and Central Bank Communication: Do Americans Trust Female Policy Makers?, nan dilakukan Diouf & Pepin (2022). Studi ini menunjukkan keberadaan wanita sebagai pemimpin bank sentral dipandang melemahkan efektivitas bankir sentral sebagai komunikator.
Menurut studi itu, penduduk AS, terutama pria, merespons jauh lebih baik komunikator bank sentral laki-laki daripada perempuan. Perempuan dipandang lebih lunak terhadap upaya menekan inflasi, meskipun lebih bisa mengurangi kekhawatiran tentang pengangguran.
Studi lain nan dilakukan oleh Cristina Bodea dan Andrew Kerner (2022) mengatakan perihal serupa. Dalam studi nan berjudul Fear of Inflation and Gender Representation in Central Banking, Bodea dan Kerner mengatakan Pemerintah nan meletakkan perhatian besar terhadap inflasi sering kali menginginkan pejabat bank sentral nan bisa mengendalikan ekspektasi inflasi melalui komitmen andal untuk bersikap hawkish—yaitu memprioritaskan inflasi rendah di atas prioritas lain nan mungkin ada.
Menurut studi mereka, sikap hawkish (berasal dari kata hawk, elang, nan menyimbolkan sikap agresif) merupakan kualitas nan secara stereotip dianggap maskulin. Oleh lantaran itu keterwakilan wanita menjadi rendah di posisi-posisi nan menuntut pejabat bank sentral untuk menampilkan sikap tersebut.
Kebutuhan bakal sikap ini paling tinggi terjadi di negara-negara dengan riwayat masalah inflasi tinggi serta sistem tata kelola kelembagaan nan menonjolkan reputasi pribadi pejabat bank sentral. Negara-negara nan menginginkan bank sentral nan independen dan sistem nilai tukar elastis termasuk ke dalam golongan ini.
Dengan kata lain, pasar finansial nan secara historis didominasi oleh laki-laki sering kali secara tidak sadar mengasosiasikan ketegasan melawan inflasi sebagai karakter maskulin. Sebaliknya, ketika seorang wanita memegang kendali kebijakan moneter, pasar kerap berprasangka bahwa dia bakal bertindak layaknya merpati (dove) nan lunak (dovish) dan emosional.
“Kami beranggapan bahwa kredibilitas komitmen tersebut mempunyai dimensi gender, sehingga lebih sedikit wanita nan ditunjuk untuk kedudukan ini ketika persepsi mengenai sikap anti-inflasi menjadi aspek nan sangat krusial dalam tugas seorang pejabat bank sentral,” tulis Bodea dan Kerner dalam studi mereka.
Namun, seperti diakui sendiri oleh Bodea dan Kerner, studi-studi nan ada belum konklusif tentang perihal ini. Bila pengamatan dilakukan lebih mendalam, rekam jejak para srikandi moneter justru sering juga hawkish.
Riset nan dilakukan oleh Masciandaro et.al (2023), misalnya, menunjukkan bahwa keterlibatan wanita di majelis moneter secara statistik berkorelasi positif dengan stabilitas nilai nan lebih baik dan keputusan nan lebih minim risiko.
Dalam studi mereka, Gender Diversity and Monetary Policy: New Empirical Evidence, Masciandaro et. al. menunjukkan bahwa tingkat keragaman kelamin di bank sentral sangat krusial terhadap upaya menekan inflasi.
Hasil studi mereka memperlihatkan bahwa partisipasi wanita nan lebih tinggi dalam komite kebijakan moneter berangkaian dengan keahlian nan lebih baik dalam perihal inflasi. Studi itu mengatakan bahwa representasi kelamin dapat menjadi sinyal kehati-hatian dalam menerapkan tindakan kebijakan moneter.
Contoh-contoh anekdotal bisa diperlihatkan untuk mendukung konklusi ini. Misalnya, ketika Christine Lagarde memimpin pengetatan moneter paling garang dalam sejarah Uni Eropa untuk menepis keraguan pasar. Hal nan sama ditunjukkan oleh Michele Bullock di Australia dengan kaku menyatakan bahwa suku kembang bakal tetap tinggi demi menyelamatkan ekonomi jangka panjang, mereka tengah mengirimkan signal of prudence (sinyal kehati-hatian moneter) kepada dunia.
Janet Yellen, ketika memimpin bank sentral AS, sering kali dicap dovish di awal kariernya lantaran perhatiannya pada rumor pengangguran. Namun rekam jejaknya membuktikan dia adalah penyelenggara nan sangat dingin dan terukur saat pasar memerlukan kepastian.
Di Indonesia, figur Sri Mulyani sebagai menteri keuangan, kerap diidentikkan dengan ibu rumah tangga nan ketat dan disiplin dalam mengatur shopping negara.
Tantangan Duo Destry dan Aida
Kendati nada optimistik berembus atas duet kepemimpinan wanita ini, tantangan nan mereka hadapi tidak ringan. Mereka melangkah masuk ke menara moneter Thamrin melalui kejadian sosiologis the glass cliff, ialah situasi di mana pemimpin wanita baru dipercaya memegang kendali tepat di saat lembaga sedang berada di puncak ketidakpastian.
Ryan & Haslam (2005) dalam studi mereka The Glass Cliff: Evidence that Women are Over-Represented in Precarious Leadership Positions, menunjukkan pada masa penurunan pasar saham secara umum, perusahaan nan menunjuk wanita sebagai personil majelis condong mempunyai rekam jejak keahlian jelek nan konsisten selama lima bulan sebelumnya, dibandingkan dengan perusahaan nan menunjuk laki-laki. Artinya, penunjukan pemimpin wanita selalu didahului oleh kondisi susah di perusahaan. Perempuan baru dipercaya ketika krisis menghampiri.
Kondisi nan dihadapi Destry dan Aida sedikit banyak mengonfirmasi perihal ini. Mundurnya Perry Warjiyo secara mendadak dari bangku Gubernur BI merupakan cermin adanya tantangan berat nan dihadapi. Kurs rupiah sedang dalam tekanan. Lalu ada ketegangan antara otoritas moneter dan otoritas fiskal. Kemudian muncul spekulasi bahwa masa depan kebijakan makroekonomi bakal menjadi sangat fiscal heavy—di mana kepentingan politik anggaran pemerintah bakal mendikte kebijakan moneter bank sentral.
Bagaimana duet Destry dan Aida menghadapi ini? Bila merujuk pada beragam studi nan menunjukkan wanita nan memimpin bank sentral lebih lunak terhadap penanganan inflasi, sangat mungkin pengajuan nama Destry dan Aida dimaksudkan sebagai upaya pemerintah untuk mendapatkan support bagi kebijakan moneter nan lebih longgar.
Pemerintah mungkin mengharapkan Destry dan Aida lebih akomodatif bagi program-program pemerintah, walaupun selama ini beberapa di antara program itu dikhawatirkan menghadirkan tantangan besar bagi kesemimbangan fiskal.
Di sini independensi BI bakal diuji, apakah kebijakan nan mereka ambil didasarkan pada pertimbangan objektif alias lebih berkarakter politis.
Namun jika memandang kiprah sejumlah pemimpin bank sentral wanita nan telah dikemukakan sebagai contoh, justru mereka tampak lebih tegas dalam mempertahankan arah kebijakan anti inflasi.
Contoh-contoh nan telah dikemukakan, seperti Christine Lagarde di Bank Sentral Eropa dan Michelle Bullock di bank sentral Australia memperlihatkan bahwa pemimpin wanita dapat juga menerapkan sikap disiplin nan lebih tinggi.
Dari perspektif ini ada argumen untuk optimistik terhadap keberadaan duo srikandi di puncak Thamrin untuk mempertahankan independensi BI. Hanya saja mereka dihadapkan pada tantangan untuk bisa menguasai dua bahasa komunikasi nan berbeda, tergantung pada audiensnya.
Pertama, bahasa teknis dan tegas ketika berhadapan dengan pelaku pasar, penanammodal global, politisi (DPR) apalagi Istana. Komunikasi dijalin berbasis info nan kuat, disiplin dan tegas. Hal ini krusial untuk menepis bias bahwa pemimpin wanita condong terlalu lenggang (dovish bias).
Ketika menghadapi tekanan kebijakan nan bersifat fiscal heavy dari pemerintah, duo wanita di puncak bank sentral kemungkinan besar tidak bakal meresponsnya dengan konfrontasi politik di media massa. Sebaliknya, mereka diprediksi bakal menggunakan pendekatan komunikasi nan dingin, inklusif, dan bersandar sepenuhnya pada proyeksi nomor inflasi serta stabilitas nilai tukar.
Dengan menyajikan info nan transparan tanpa anasir politik, Destry-Aida tidak hanya bakal membangun tembok pelindung bagi independensi BI, tetapi juga memberikan kepastian makro (macro certainty) nan sangat dibutuhkan oleh para pelaku pasar finansial dunia di tengah angin besar transisi.
Kedua, bahasa empatis dan membumi diperlukan saat berbincang kepada publik. Jargon rumit perlu diganti dengan menggunakan afinitas sehari-hari. Studi menunjukkan wanita dan golongan rentan mempunyai kekhawatiran tinggi (inflation aversion) terhadap kenaikan harga. Narasi nan berfokus pada pesan stabilitas perlu dikedepankan.
Sementara itu jika ditilik dari perspektif pemerintah, penunjukan Destry merupakan langkah taktis Presiden Prabowo untuk memperbaiki citranya di mata penanammodal internasional. Dapat dikatakan penunjukan duo srikandi ini merupakan sebuah pesan bahwa Istana tidak bakal cawe-cawe terhadap BI.
Panjar bagi Kepercayaan
Analisis ini tentu kudu ditempatkan sebagai sebuah pengamatan dini. Masih terdapat perkembangan bergerak pada hari-hari ke depan. Proses uji kepantasan (fit and proper test) di DPR RI baru saja dimulai, dan duet srikandi ini apalagi belum resmi mengetok palu kebijakan pertama mereka di era kepemimpinan nan baru.
Langkah Prabowo menunjuk duo ahli ini dapat dipandang sebagai panjar untuk membeli waktu dan kepercayaan awal dari para penanammodal global. Dunia menunggu untuk memandang gimana duo srikandi Thamrin ini memimpin bank sentral di masa paling menarik ini.
Pada akhirnya dapat dikatakan bahwa penunjukan duo srikandi ahli ini belum dapat dijadikan sebagai sebagai mesin penggerak utama penguatan rupiah, melainkan sebagai peredam kejut (shock absorber) domestik. Investor dunia dapat menarik nafas lega. Di tengah kekhawatiran intervensi politik, Prabowo memilih mengirimkan nama Destry-Aida nan relatif bersih dari endorsement politik.
51 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·