Bayi Meninggal 2 Hari Usai Lahir, Dokter: Pengapuran Plasenta Bukan dari Kalsium

Sedang Trending 51 menit yang lalu
Ilustrasi bayi. Foto: banjongseal324SS/Shutterstock

Seorang ibu membagikan kisah pilunya melalui akun Threads @oksefarinandaa_ setelah kehilangan anak pertamanya, Sagara Gunadipta, nan hanya sempat hidup selama dua hari usai dilahirkan pada September 2023. Kehamilan nan awalnya melangkah seperti biasa berubah menjadi penuh kekhawatiran setelah dia mengetahui pertumbuhan janinnya mengalami hambatan.

Menurutnya selama mengandung dia rutin melakukan pemeriksaan, mengonsumsi vitamin, serta berupaya menjaga kesehatan. Namun, sejak awal kehamilan, sang ibu mengalami sakit gigi nan cukup parah. Memasuki usia kehamilan 7–8 bulan, dia akhirnya memutuskan untuk memeriksakan kondisi kehamilannya kepada master kandungan lain.

embed from external kumparan

Dari pemeriksaan tersebut, dia mendapat berita bahwa berat badan janin tertinggal dibandingkan usia kehamilannya dan diduga mengalami kekurangan nutrisi. Mengetahui kondisi tersebut, dia dan suami berupaya mengikuti beragam rekomendasi master untuk membantu meningkatkan berat badan janin. Mereka memperbaiki asupan makanan, mengonsumsi susu tinggi protein, hingga lebih memperhatikan nutrisi selama kehamilan.

Namun, setelah menjalani pemeriksaan lanjutan, berat badan janin tetap belum menunjukkan peningkatan nan signifikan. Pasangan tersebut kemudian mencari pendapat dari master lain dan mendapat penjelasan bahwa pertumbuhan janin nan tersendat berangkaian dengan kondisi plasenta.

embed from external kumparan

Memasuki usia kehamilan 36 minggu, master menyarankan agar bayi segera dilahirkan lantaran jumlah air ketuban semakin sedikit. Tanpa banyak persiapan sebelumnya, sang ibu akhirnya menjalani operasi caesar pada 15 September 2023.

Sagara lahir dengan berat badan 2,2 kilogram dan panjang 47 sentimeter. Meski tampak sehat, kondisi paru-parunya belum matang sehingga dia kudu menjalani perawatan intensif di NICU dengan support perangkat medis. Sayangnya, dua hari setelah kelahirannya, Sagara mengembuskan napas terakhir.

Benarkah Sakit Gigi Saat Hamil Berkaitan dengan Kekurangan Kalsium?

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dr. Andrew Yurius Christian, SpOG dalam podcast Ask the Expert kumparanMOM. Foto: kumparan

Menanggapi kasus tersebut, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Andrew Yurius Christian, SpOG, menjelaskan bahwa kebutuhan kalsium ibu mengandung memang meningkat. Ibu mengandung memerlukan sekitar 1.200–1.500 miligram kalsium setiap hari.

Jika kebutuhan kalsium tidak tercukupi dari makanan, tubuh ibu dapat mengambil persediaan kalsium dari tulang untuk memenuhi kebutuhan tubuh dan janin. Kondisi tersebut dapat berangkaian dengan sejumlah keluhan pada ibu.

Namun, sakit gigi saat mengandung tidak bisa langsung diartikan sebagai tanda ibu mengalami kekurangan kalsium.

"Sakit gigi bisa lantaran ada nya lobang sehingga terjadi infeksi,” ujar dr. Andrew kepada kumparanMOM, Selasa (11/8).

Ilustrasi ibu mengandung sakit gigi. Foto: Shutterstock

Oleh lantaran itu, ibu mengandung nan mengalami sakit gigi sebaiknya tetap memeriksakan kondisinya ke master gigi. Menjaga kesehatan gigi dan mulut juga krusial dilakukan selama kehamilan, termasuk melakukan scaling sesuai rekomendasi dokter.

Kekurangan kalsium selama kehamilan dapat menyebabkan keluhan seperti kram otot, kesemutan, dan nyeri tulang. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan akibat tekanan hipertensi alias preeklamsia serta pengeroposan tulang pada ibu.

Sementara pada janin, gangguan pemenuhan nutrisi dapat meningkatkan akibat gangguan pertumbuhan, berat badan lahir rendah, hingga kelahiran prematur.

Pengapuran Plasenta Tidak Disebabkan Konsumsi Kalsium

Ilustrasi plasenta alias ari-ari. Foto: Shutterstock

Terkait pengapuran plasenta alias kalsifikasi plasenta, dr. Andrew menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak disebabkan oleh konsumsi kalsium selama kehamilan.

Kalsifikasi plasenta dapat terjadi secara alami seiring bertambahnya usia kehamilan. Jika muncul mendekati hari perkiraan lahir, kondisi tersebut umumnya merupakan bagian dari proses penuaan plasenta. Namun, kalsifikasi plasenta nan terjadi lebih awal dapat berangkaian dengan sejumlah faktor.

Ilustrasi Janin. Foto: Shutter Stock

“Kalsifikasi plasenta awal sendiri umumnya disebabkan oleh style hidup sebelumnya seperti merokok, kondisi preeklamsia (kerusakan /kelainan pertumbuhan plasenta), infeksi, alias stres oksidatif, sedangkan jika lantaran penuaan plasenta nan normal biasanya terjadi mendekati HPL,” imbuhnya.

Sehingga, ibu mengandung tidak perlu langsung mengaitkan sakit gigi alias keluhan lainnya dengan pengapuran plasenta maupun kekurangan kalsium. Kondisi tersebut perlu dipastikan melalui pemeriksaan dan pertimbangan master ya, Moms.

kumparan post embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan