Menanggapi beragam kejadian kebakaran rimba nan terjadi, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam), Djamari Chaniago, menekankan pentingnya keberadaan awan hujan sebagai syarat sistem hujan buatan.
Hal ini dia sampaikan saat konvensi pers seusai rapat dengan BNPB dan BMKG di instansi Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8).
Menurutnya, pemadaman dengan metode operasi udara lebih efektif lewat pemanfaatan sistem rekayasa hujan buatan.
“Melihat situasi seperti sekarang ini, upaya paling tepat adalah nan efektif operasi udara sebenarnya sangat efektif membikin hujan buatan oleh BNPB,” ujarnya.
Namun, satu masalah vital dari metode ini adalah syarat adanya awan hujan. Awan hujan adalah satu-satunya jenis awan nan dapat disemai.
“Tetapi ada satu persyaratan nan kudu kita hadapi ialah kita kudu menemukan ada awan hujan. Selama awan hujan itu tidak ada, kita tidak bisa membikin hujan buatan,” lanjutnya.
Sementara mengawasi kondisi cuaca, unit pemadam bersiaga terhadap perubahan cuaca agar sesegera mungkin awan hujan muncul, operasi hujan buatan langsung dilaksanakan.
“Untuk itu, maka kita mewaspadai betul perubahan cuaca apa pun nan bakal muncul awan hujan, segera kita lakukan operasi modifikasi cuaca,” katanya.
Melalui riset nan dilakukan pemerintah, terdapat potensi 3-4 hari awan hujan bakal muncul sepekan ke depan nan mesti dimanfaatkan secara optimal dalam memadamkan titik-titik api nan tersisa.
“Walaupun berasas perkiraan sekarang minggu-minggu ini sampai dengan tanggal 18 Agustus itu ada 3-4 hari kemungkinan awan hujan ada,” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, kasus kebakaran rimba dan lahan tengah marak terjadi di Indonesia menyusul kondisi kekeringan alias El Nino nan berlaku.
Teranyar, lahan di Gunung Bromo dan Gunung Gede Pangrango adalah salah dua kasus kebakaran rimba nan tengah terjadi beberapa waktu terakhir.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·