Menjelajah Dunia Pesawat di PT Dirgantara Indonesia

Sedang Trending 21 jam yang lalu
Menjelajah Dunia Pesawat di PT Dirgantara Indonesia Kegiatan kunjungan pabrik Reporter Cilik Media Indonesia ke PT Dirgantara Indonesia, Bandung, pada Senin (24/8).(MI/Permana)

Awalnya, saya merasa sangat ceria ketika mengetahui diriku sukses terpilih menjadi salah satu Reporter Cilik (Repcil) Media Indonesia. Hari Senin, 24 Agustus 2026 menjadi momen nan paling saya tunggu-tunggu untuk berjamu ke PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Sejak melangkah keluar dari rumah, saya sudah tidak sabar untuk memandang secara langsung gimana proses sebuah pesawat terbang dibuat. Bagiku, ini merupakan pengalaman baru nan sangat berbobot lantaran selama ini saya hanya bisa menyaksikan pesawat mengudara di langit alias melalui layar televisi.

Sesampainya di area PT DI di Kota Bandung, saya langsung diarahkan menuju Auditorium B.J. Habibie. Begitu tiba di depan gedung, pandanganku langsung tertuju pada sebuah mobil antik nan mempunyai pelat nomor unik, ialah N 250. Nomor pelat tersebut sama persis dengan nama pesawat legendaris nan dirancang oleh Presiden ke-3 Republik Indonesia. Kebetulan, Bapak B.J. Habibie adalah pujaan besarku. Aku mempunyai cita-cita mulia mau menjadi seorang intelektual dahsyat seperti beliau nan bisa merancang sesuatu perihal baru dan berfaedah bagi orang banyak.

Setelah aktivitas resmi dibuka oleh Kak Arya, saya berbareng teman-teman reporter cilik lainnya segera menaiki bus Bandros menuju Gedung Mock-Up. Di sana, kami disambut hangat oleh Kak Cepi nan bekerja sebagai pemandu kami hari itu. Beliau mengenalkan beragam jenis pesawat dahsyat hasil produksi PT DI kepada kami. Dari penjelasan Kak Cepi, saya jadi tahu bahwa ada tiga jenis pesawat utama nan dibuat di sini. Pertama, ada pesawat jenis NC212i nan handal dan dapat membawa hingga 28 orang penumpang.

Selanjutnya, Kak Cepi mengenalkan pesawat N219 nan mempunyai dua mesin (engine) dan bisa mengangkut 19 penumpang. Terakhir, ada pesawat nan langsung menjadi favoritku, ialah seri CN235. Pesawat ini juga mempunyai dua buah mesin raksasa dan bisa mengangkut sekitar 35 penumpang sekaligus. CN235 sukses menjadi pesawat terfavorit menurutku lantaran kapabilitas muatannya nan banyak dan corak tampilan luarnya nan tampak begitu gagah dan keren!

Perasaanku menjadi semakin senang luar biasa ketika bus Bandros membawa kami menuju area hangar. Di dalam hangar inilah kami bisa menyaksikan langsung gimana rumit dan hebatnya proses pembuatan serta perakitan pesawat terbang. Suasana di dalam hangar nan luar biasa luas, ditambah dengan pemandangan badan-badan pesawat berukuran raksasa, seketika membuatku kagum dan kagum.

Saat berada di hangar, kami berkesempatan untuk mengobrol dengan Manajer Produksi Kontrol PT DI, ialah Bapak Fiqihesa Putamawa. Beliau menjelaskan banyak perihal mengenai keahlian anak bangsa dalam membikin rancangan pesawat serta membagikan pengetahuan krusial mengenai bumi manufaktur penerbangan. Pak Fiqi juga memberikan kami petuah nan sangat membakar semangat, “Sekolah nan giat agar pintar. Kalau kalian mau bekerja di PT DI kelak, mulailah belajar sungguh-sungguh tentang pesawat sejak sekarang.”

Sehabis puas menjelajahi hangar, kami semua kembali ke gedung auditorium untuk melakukan sesi konvensi pers eksklusif berbareng jejeran ketua tertinggi PT DI. Hadir di depan kami Ibu Dhias Widhiyati selaku Direktur Keuangan dan SDM, serta Bapak Dena Hendriana selaku Direktur Produksi PT DI. Pada aktivitas tanya jawab tersebut, Pak Dena menceritakan salah satu mahakarya pesawat nan paling membanggakan bagi dirinya.

“Pesawat kebanggaan saya adalah N219. Alasannya lantaran pesawat ini murni diproduksi oleh anak-anak bangsa dan oleh PT DI sendiri. Selain itu, N219 juga sangat dahsyat lantaran bisa mendarat dengan kondusif tanpa kudu di landasan pacu nan beraspal,” ujar Pak Dena dengan penuh kebanggaan. Beliau juga menambahkan info masa depan bahwa saat ini PT DI sedang melakukan riset serius untuk memproduksi pesawat ramah lingkungan nan digerakkan oleh bahan bakar berkekuatan listrik. Bagiku, penemuan tersebut adalah perihal nan sangat menarik untuk ditunggu!

Sebagai penutup pertemuan nan hangat tersebut, Ibu Dhias turut memberikan pesan berarti bagi kami semua. Beliau menekankan bahwa untuk mencapai sebuah cita-cita nan besar, setiap anak memerlukan kerja keras, sikap disiplin nan tinggi, serta keberanian nan kuat untuk bermimpi. Pesan nan paling melekat di dalam ingatanku adalah nasihat beliau agar jangan pernah takut bermimpi besar jika kita mau meraih kesuksesan di masa depan.
Kunjungan berbobot ke PT DI ini telah memberikan limpahan pengetahuan dan wawasan baru bagiku. Aku merasa sangat bangga lantaran Indonesia terbukti bisa membikin pesawat terbang sendiri dan terus aktif mengembangkan teknologi penerbangan masa depan nan ramah lingkungan.

Pengalaman berbobot menjadi Reporter Cilik sehari ini membuatku semakin antusias untuk belajar lebih giat lagi. Aku berambisi suatu hari kelak saya juga bisa berkontribusi besar bagi bangsa dan negara tercinta, seperti nan dilakukan oleh Bapak B.J. Habibie dan kakak-kakak dahsyat di PT DI. Aku pulang ke rumah dengan hati nan dipenuhi rasa senang, bangga, sekaligus takjub. Terima kasih PT DI, terima kasih Media Indonesia! (X-6)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia