Menguak Tujuan Licik Israel Serang Lebanon, Batalkan Gencatan Senjata?

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan udara besar-besaran nan dilancarkan Israel secara mengejutkan ke Lebanon telah menewaskan lebih dari 200 orang dan memicu kecaman keras dari bumi internasional. Operasi militer skala besar ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai motif sebenarnya di kembali agresi tersebut, terutama di tengah upaya diplomatik nan sedang berlangsung.

Wartawan Internasional Senior Guardian, Peter Beaumont, memberikan kajian mendalam mengenai situasi ini. Ia menilai serangan tersebut tidak hanya sekadar operasi militer rutin, melainkan sebuah tontonan kekerasan nan sengaja dirancang untuk untung politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

"Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan pejabat lainnya menyatakan serangan terbesar terhadap Hizbullah selama perang sebulan penuh melawan Iran ditujukan secara hati-hati kepada personil golongan bersenjata tersebut, namun serangan itu tampaknya lebih merupakan bagian dari tontonan kekerasan untuk menguntungkan Netanyahu daripada sekadar berfaedah secara militer," tulis Beaumont dalam sebuah tulisan Guardian nan dikutip Jumat (10/4/2026).

Upaya Sabotase Gencatan Senjata AS-Iran

Banyak pihak memperkirakan bahwa serangan tanpa peringatan nan menghantam lebih dari 100 sasaran dalam waktu 10 menit ini bermaksud untuk merusak kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Kawasan padat masyarakat di pusat Beirut menjadi salah satu sasaran utama dalam serangan kilat tersebut.

"Beberapa pihak memperkirakan bahwa serangan itu bermaksud untuk merusak gencatan senjata AS-Iran nan oleh banyak orang dipandang dipaksakan kepada Netanyahu nan merasa tidak senang," ungkap Beaumont dalam laporannya.

Media Israel berkilah bahwa Hizbullah mencoba memindahkan pos komando ke area sipil di luar pusat sejarah mereka untuk perlindungan lebih baik. Namun, skala serangan nan masif dan tewasnya Ali Yusuf Harshi, penasihat Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem, mengindikasikan sasaran nan lebih ambisius, ialah upaya pembunuhan terhadap Qassem sendiri.

Bom Waktu di Meja Perundingan Donald Trump

Di tengah negosiasi gencatan senjata nan dipimpin oleh Donald Trump dan tim diplomatnya, rumor perang Israel di Lebanon seolah dibiarkan menjadi peledak waktu nan siap meledak kapan saja. Meskipun Hizbullah menyatakan telah diberitahu dan berkomitmen pada gencatan senjata, Israel tetap melanjutkan serangan udara nan mengerikan.

"Apa nan jelas adalah bahwa dalam negosiasi gencatan senjata separuh matang nan dilakukan oleh Donald Trump dan golongan diplomat amatirnya, pertanyaan tentang perang Israel di Lebanon melawan proksi Teheran telah-sengaja alias tidak-dibiarkan berdebar seperti peledak waktu," jelas Beaumont.

Netanyahu dinilai menggunakan dalih kewenangan Israel untuk terus menyerang Lebanon sebagai langkah untuk menjadi pengganggu dalam kesepakatan nan tidak dia setujui. Pejabat Israel tampaknya percaya bahwa mereka tetap mempunyai waktu setidaknya dua minggu untuk melanjutkan operasi militer selama pembicaraan Iran-AS berlangsung.

Potensi Eskalasi dan Keruntuhan Kesepakatan

Ironisnya, tindakan Israel inilah nan justru berisiko meruntuhkan kesepakatan damai. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, telah memperingatkan bahwa serangan tersebut melanggar perjanjian dan membikin negosiasi menjadi tidak berarti.

Lembaga ahli filsafat Soufan Center di New York turut menyoroti strategi "bumi hangus" nan dijalankan Netanyahu. Menurutnya, Netanyahu berusaha sebisa mungkin terus menyerang Lebanon hingga kesepakatan gencatan senjata gagal.

"The Wall Street Journal melaporkan bahwa Israel baru diberitahu tentang kesepakatan itu pada menit-menit terakhir dan 'tidak senang'. Netanyahu sekarang tampaknya berkeinginan untuk mengejar kebijakan bumi gosong di Lebanon, apalagi jika-atau mungkin terutama karena-hal itu dapat menggagalkan kesepakatan gencatan senjata," tulis Soufan Center dalam buletinnya.

Direktur Program Keamanan Internasional di Chatham House, Marion Messmer, menambahkan bahwa situasi ini menunjukkan kegagalan Washington dalam mengelola hubungannya dengan sekutu utamanya. Serangan Israel di Lebanon menyingkap kerentanan besar dalam diplomasi Amerika Serikat di Timur Tengah.

"Desakan Israel bahwa tindakan militernya di Lebanon bukan bagian dari perjanjian mengungkapkan kerentanan utama dan menunjukkan pemisah keahlian AS untuk mengelola sekutunya: kampanye pengeboman nan sedang berjalan di Lebanon dapat merusak gencatan senjata secara keseluruhan dan membikin AS terjebak dalam bentrok nan sekarang mau mereka tinggalkan," tulis Marion Messmer dalam keterangannya.

Meski Israel terus melakukan invasi darat dan pengeboman, penilaian internal dari Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sendiri kabarnya menunjukkan bahwa melucuti senjata alias mengalahkan Hizbullah secara total adalah sasaran nan tidak realistis untuk dicapai.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News