Mengenal 'Time Confetti', Alasan Mengapa Orangtua Sulit Dekat dengan Anak

Sedang Trending 7 jam yang lalu
Mengenal 'Time Confetti', Alasan Mengapa Orangtua Sulit Dekat dengan Anak Ilustrasi(Magnific)

BANYAK orangtua modern saat ini merasa bahwa mereka telah menghabiskan banyak waktu di rumah berbareng anak-anak mereka. Namun, di saat nan sama, mereka tetap merasa jauh dan kehilangan ikatan emosional (bonding) nan berkualitas. Jika Anda kerap merasakan perihal ini, Anda mungkin sedang terjebak dalam kejadian nan disebut dengan Time Confetti (serpihan waktu).

Istilah time confetti merujuk pada kondisi di mana waktu senggang alias waktu rehat nan dimiliki seseorang terpecah-pecah menjadi serpihan-serpihan mini nan tidak berarti. Alih-alih mendapatkan satu jam penuh untuk bersantai alias bermain berbareng anak, waktu tersebut terus-menerus terdistraksi oleh hal-hal mini seperti membalas pesan teks, memeriksa notifikasi media sosial, alias memikirkan daftar belanjaan.

Mengapa Serpihan Waktu Merusak Bonding?

Ketika waktu berbareng anak berubah menjadi serpihan-serpihan mini akibat distraksi digital dan beban pikiran (mental load), orangtua tidak betul-betul datang secara utuh. Anak-anak mempunyai kepekaan nan tinggi untuk menyadari kapan orangtua mereka betul-betul memperhatikan mereka dan kapan orang tua mereka hanya datang secara bentuk namun pikirannya melayang ke tempat lain.

Distraksi nan terus-menerus ini membikin momen kebersamaan kehilangan maknanya. Alih-alih menciptakan kenangan nan mendalam, orang tua justru sering merasa lelah, stres, dan merasa bersalah lantaran merasa tidak pernah mempunyai cukup waktu, meskipun mereka berada di ruangan nan sama dengan anak sepanjang hari.

Cara Mengatasi Time Confetti untuk Orangtua

Untuk membangun kembali hubungan nan kuat dengan anak, orangtua perlu melatih diri untuk mengubah time confetti menjadi waktu nan utuh dan bermakna. Berikut beberapa langkah nan bisa diterapkan:

  • Tetapkan Batasan Digital: Jauhkan ponsel alias matikan notifikasi selama 20 hingga 30 menit saat sedang menemani anak bermain alias bercerita.
  • Praktikkan Mindfulness: Sadari momen saat ini. Ketika anak sedang berbicara, tatap matanya dan dengarkan tanpa menyela alias sembari memikirkan pekerjaan rumah tangga lainnya.
  • Prioritaskan Kualitas, Bukan Kuantitas: Menghabiskan waktu 15 menit dengan perhatian penuh jauh lebih berbobot bagi psikologis anak dibandingkan menemaninya selama dua jam namun diselingi dengan membuka media sosial.

Dengan mengenali dan mengurangi serpihan waktu ini, orangtua tidak hanya dapat menurunkan tingkat stres pribadi, tetapi juga bisa menciptakan ruang nan sehat bagi anak untuk merasa didengar, dihargai, dan dicintai secara utuh. (Parents/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia