Mengenal Risiko dan Keamanan Konsumsi Sushi serta Sashimi Ikan Mentah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Mengenal Risiko dan Keamanan Konsumsi Sushi serta Sashimi Ikan Mentah Ilustrasi(magnific)

SUSHI dan sashimi telah lama menjadi primadona kuliner Jepang nan digemari masyarakat global, termasuk di Indonesia. Tekstur daging ikan nan lembut dipadukan dengan cita rasa segar memberikan pengalaman kuliner nan unik. Namun, di kembali kelezatannya, status penyajiannya nan mentah sering kali memicu pertanyaan mengenai aspek keamanan dan akibat kesehatan bagi konsumen.

Mengonsumsi ikan mentah sebenarnya tidak selalu berbahaya, asalkan bahan baku nan digunakan mempunyai kualitas premium dan diolah melalui standar keamanan pangan nan ketat. Meski demikian, pemahaman mengenai akibat kontaminasi mikroorganisme tetap menjadi perihal krusial sebelum Anda memutuskan untuk menyantapnya.

Ancaman Parasit dan Bakteri pada Ikan Mentah

Risiko utama dari konsumsi ikan mentah adalah keberadaan mikroorganisme alami berupa parasit dan bakteri. Salah satu nan paling diwaspadai adalah kuman Salmonella, nan dikenal sebagai pemicu utama penyakit bawaan makanan (foodborne disease) dan gangguan pencernaan serius.

Berbeda dengan proses memasak konvensional nan menggunakan suhu tinggi untuk membunuh patogen, sushi dan sashimi sangat berjuntai pada teknik penanganan (handling). Jika proses dari hulu ke hilir tidak dilakukan dengan benar, mikroorganisme tersebut bakal tetap hidup dan masuk ke sistem pencernaan manusia.

Gejala Keracunan Makanan:

Infeksi akibat ikan mentah nan terkontaminasi biasanya ditandai dengan mual, muntah, diare, hingga nyeri perut hebat. Tingkat keparahan indikasi sangat berjuntai pada kondisi keimunan masing-masing individu.

Standar Keamanan: Mengapa Sushi di Restoran Relatif Aman?

Meskipun ada risiko, industri kuliner mempunyai protokol unik untuk menekan ancaman tersebut hingga ke level minimal. Restoran sushi ahli umumnya menggunakan ikan dengan standar "sushi-grade" nan telah melalui proses pembekuan ekstrem untuk mematikan parasit.

Berikut adalah standar parameter suhu dan lama pembekuan nan biasanya diterapkan untuk memastikan keamanan ikan mentah:

Metode Pembekuan Suhu Minimal Durasi Minimal
Pembekuan Standar -20 derajat Celsius 7 Hari
Flash Freezing (Cepat) -35 derajat Celsius 15 Jam

Proses ini merupakan langkah mitigasi paling efektif. Namun, perlu diingat bahwa pembekuan tidak menghilangkan 100% risiko, terutama jika terdapat spora kuman nan sangat resistan dalam jumlah kecil.

Kelompok Rentan nan Harus Menghindari Ikan Mentah

Bagi perseorangan dewasa nan sehat, mengonsumsi sushi dalam porsi wajar umumnya tidak menimbulkan masalah. Namun, terdapat golongan tertentu nan mempunyai akibat komplikasi lebih tinggi jika terpapar kuman dari makanan mentah. Kelompok tersebut meliputi:

  • Individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah (immunocompromised).
  • Orang dengan tingkat keasaman lambung rendah.
  • Ibu mengandung (risiko terhadap janin).
  • Bayi dan anak-anak.
  • Lansia.

Sebagai pengganti nan jauh lebih aman, golongan di atas disarankan untuk mengonsumsi ikan nan telah dimasak matang sempurna. Standar keamanan pangan merekomendasikan ikan dimasak hingga mencapai suhu internal minimal 63 derajat Celsius selama setidaknya 15 detik untuk memastikan seluruh patogen rawan telah mati. (Hello Sehat/Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia