Mengenal Aturan Prestianni: Dari Nama Pemain ke Miguel Almiron

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
 Dari Nama Pemain ke Miguel Almiron Miguel Almiron melakukan tindakan tutup mulut.(Tangkapan layar TVRI)

Piala Dunia 2026 menandai era baru dalam penegakan disiplin di atas lapangan hijau dengan diperkenalkannya Aturan Prestianni. Regulasi ini menjadi sorotan bumi setelah penyerang Paraguay, Miguel Almiron, menjadi pemain pertama nan menerima kartu merah langsung akibat melanggar patokan tersebut dalam laga melawan Turki di Stadion Levi's, Santa Clara.

Asal-usul: Insiden Prestianni vs Vinicius Jr

Nama patokan ini diambil dari bek Benfica asal Argentina, Gianluca Prestianni. Regulasi ini lahir sebagai respons atas kejadian kontroversial pada babak playoff Liga Champions, Februari 2026, nan melibatkan Prestianni dan bintang Real Madrid, Vinicius Junior.

Saat itu, Vinicius melaporkan adanya serangan rasial nan dilakukan Prestianni di tengah adu argumen. Namun, lantaran Prestianni menutupi mulutnya dengan tangan saat berbicara, tim investigasi independen dan rekaman video tidak bisa membuktikan kata-kata nan diucapkan. Meskipun Prestianni kemudian mengaku melontarkan cemoohan homofobik (namun membantah rasisme), ketiadaan bukti visual nan jelas membikin FIFA merasa perlu menciptakan instrumen norma baru untuk melindungi integritas pemain.

Inti dan Mekanisme Aturan Prestianni

Aturan Prestianni dirancang untuk menghilangkan "ruang gelap" dalam komunikasi antar-pemain di lapangan. Berikut adalah poin-poin utama dari izin tersebut:

Aspek Ketentuan
Larangan Utama Pemain dilarang keras menutupi mulut dengan tangan, jersey, alias barang lain saat terlibat dalam konfrontasi alias adu argumen dengan pemain musuh maupun perangkat pertandingan.
Tujuan Memungkinkan pembaca mobilitas bibir (lip-reading) dan teknologi kamera untuk memverifikasi adanya ucapan rasis, diskriminatif, alias penghinaan berat.
Peran VAR VAR mempunyai kewenangan penuh untuk meninjau gestur pemain. Jika seorang pemain terdeteksi menutupi mulut saat beradu argumen, wasit dapat memberikan hukuman tegas.
Sanksi Pelanggaran terhadap patokan ini dapat berujung pada kartu merah langsung, sebagaimana nan dialami Miguel Almiron.

Implementasi Perdana: Kasus Miguel Almiron

Dalam laga penyisihan Grup D Piala Dunia 2026, wasit Ivan Barton asal El Salvador mencatatkan sejarah dengan mengusir Miguel Almiron. Insiden bermulai saat Almiron beradu argumen dengan bek Turki, Mert Muldur. Almiron kedapatan menutupi mulutnya saat berbicara, nan memicu protes dari pihak Turki.

Setelah berkonsultasi dengan VAR, wasit memutuskan bahwa tindakan Almiron menutupi mulut di tengah tensi tinggi pertandingan adalah pelanggaran terhadap protokol transparansi FIFA. Kartu merah ini menjadi pesan kuat bagi seluruh kontestan Piala Dunia bahwa FIFA tidak lagi menoleransi upaya penyembunyian kata-kata nan berpotensi mengandung unsur diskriminasi.

Aturan ini merupakan bagian dari kampanye dunia FIFA "No Room for Racism" nan diperketat pada tahun 2026 untuk memastikan setiap ucapan di lapangan dapat dipertanggungjawabkan secara norma dan etika olahraga. (E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia