Mengayuh Harapan dari Tegal Alur: Perjalanan Abdul Aziz Mengajar dengan Tulus

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Abdul Aziz, pembimbing nan tengah membonceng anaknya ke Sekolah MI Nurul Islam 1. Foto: Rayyan/Kumparan

Setiap pagi Abdul Aziz (44) pembimbing sekolah MI Nurul Islam 1 Kamal Muara mengayuh sepeda sembari membonceng anaknya. Ia melaju pelan di tengah kendaraan-kendaraan besar dari barat Jakarta menuju utara.

Sejak 6 bulan terakhir, sepeda menjadi satu-satunya perangkat transportasi Aziz untuk menempuh jarak sekitar 7 sampai 10 kilometer dari rumahnya di Tegal Alur, Kalideres, ke MI Nurul Islam 1 di Kamal Muara.

“Saya Abdul Aziz. Saya pembimbing di MI Nurul Islam 1 sejak tahun 2018 sampai sekarang,” kata Aziz saat ditemui di sekolah, Rabu (22/4).

Di madrasah itu, Aziz tidak hanya mengajar satu bidang. Ia memulai sebagai pengajar tahfidz untuk seluruh kelas, lampau mendapat tambahan tugas mengajar Seni Budaya, Akidah Akhlak, dan Fikih untuk kelas 4 hingga 6. Sebelumnya, dia sudah lebih dulu mengajar di TPA dan membuka majelis taklim. Ia melanjutkan kuliah dan menjadi pembimbing tetap di sekolah tersebut, meski hingga sekarang tetap berstatus honorer.

Suanana saat Abdul Aziz mengajar di Sekolah MI Nurul Islam 1 Kalam Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (22/4/2026). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

Perubahan besar terjadi pada 2025. Di tahun itu, anak keduanya lahir. Namun di tengah kegembiraan menyambut anak keduanya, sepeda motor nan biasa dia gunakan hilang. Sejak Desember, dia beranjak menggunakan sepeda pinjaman dari keponakannya.

“Di bulan November tepatnya, dikasih musibah kehilangan sepeda motor. Jadi untuk aktivitas kegiatan saya dari mulai bulan Desember sudah mengendarai sepeda, lantaran memang kendaraan untuk bisa digunakan ke sekolah ini hanya sepeda,” ujarnya.

“Itu pun sepeda diberikan oleh keponakan,” ucapnya.

Setiap hari, Aziz berangkat sekitar pukul 06.00 agar bisa tiba sebelum jam masuk, apalagi lebih pagi di hari tertentu. Rute nan dia lalui merupakan jalur kendaraan besar.

Abdul Aziz (44) pembimbing di Sekolah MI Nurul Islam 1 Muara Kamal, Penjaringan Jakarta Utara, Rabu (22/4/2026). Foto: Rayyan/Kumparan

“Kadang kita banyak rawan juga kan namanya mobil-mobil besar, ada kontainer, ya kan kita takutlah keserempet alias kesenggol gitu,” katanya.

Ia pernah nyaris mengalami kecelakaan saat ada kendaraan keluar dari gang di turunan jembatan. Ia mengerem mendadak dan sukses menghindar.

“Alhamdulillah tetap dapat perlindungan,” ucapnya.

Pilihan menggunakan sepeda bukan tanpa pertimbangan. Menurut Aziz, jika menggunakan transportasi umum, dia kudu beberapa kali transit dan tetap melangkah kaki cukup jauh.

“Banyak transitnya dan banyak waktu nan kebuang,” ujarnya.

Karena itu, dia memilih sepeda sekaligus agar tetap bisa berangkat berbareng anaknya setiap hari. Anak nan diboncengnya itu justru menikmati perjalanan tersebut.

Abdul Aziz, pembimbing nan tengah membonceng anaknya ke Sekolah MI Nurul Islam 1. Foto: Rayyan/Kumparan

“'Sekarang Abi sudah enggak punya motor, jadi sekarang kita apa namanya, ke sekolah naik sepeda. Gimana?' Alhamdulillah anak saya semangat. 'Enggak apa-apa Bi, daripada apa namanya, enggak ada kendaraan mendingan kita naik sepeda itu lebih apa namanya, lebih santai', kata anak saya. Malah senang,” tutur Aziz.

Di rumah, Aziz tinggal berbareng istri dan dua anaknya. Anak pertamanya berguru di tempat nan sama, sementara anak keduanya tetap bayi. Aziz tak menepis bahwa penghasilannya tetap kurang lantaran statusnya nan tetap menjadi pembimbing honorer.

“Itu di awal saya ngajar di tahun 2018 itu bervariasi dimulai dari Rp 600.000 kemudian naik Rp 700.000, naik Rp 800.000, Rp 900.000 sampai Rp 1.500.000 dan alhamdulillah lantaran kebijakan dari pihak sekolah dan juga kepala sekolah, ditambahkan lantaran buat transportasi buat beli bensin ya sekarang jadi Rp 2.000.000,” jelasnya.

“Makanya jika enggak ada tambahan dari luar ya enggak bisa ketutupin, itu saja kadang enggak cukup walaupun ada tambahan dari luar gitu. Harus gali lubang tutup lubang,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dia tidak hanya mengandalkan penghasilan sebagai pembimbing honorer nan sekarang sekitar Rp 2 juta per bulan.

Ia mengambil pekerjaan tambahan seperti mengajar ngaji, hingga melatih hadroh dan marawis. Selama enam bulan terakhir, semua aktivitas itu dijalani dengan sepeda.

“Enggak bisa nyukupin tapi paling enggak nutupinlah walaupun mungkin barangkali enggak 100% alias enggak maksimal gitu,” ujarnya

“Ya alhamdulillah tetap saya lakukan ya lantaran memang keterbatasan kendaraan juga, ya tapi alhamdulillah saya tetap jalanin lantaran memang ini menjadi tugas dan salah satu tanggungjawab nan kudu saya jalanin gitu,” kata dia.

Dapat Bantuan Motor

Kisahnya Aziz menyebar di media sosial dan mengundang perhatian banyak orang. Dari situ, support datang.

Siang hari, Rabu (22/4), relawan Gerak Bareng datang ke sekolah. Di sela-sela waktu mengajar siang hari itu, Aziz mendapatkan sepeda motor.

“Alhamdulillah senang banget saya, senang sekali. Dan saya ucapkan buat orang-orang baik saya ucapkan banyak terima kasih, mudah-mudahan kebaikan kalian dibalas oleh Allah SWT, amin. Dan mudah-mudahan ini menjadi ladang pahala buat kalian semua, amin,” ujarnya.

Terlihat Aziz tak kuasa menahan tangis saat pemberian motor di depan anak muridnya. Dia acapkali mengucapkan syukur dan terima kasih.

Kini, perjalanannya ke sekolah tak lagi menyantap waktu lama seperti dulu jika ditempuh dengan sepeda. Namun bagi Aziz, nan terpenting adalah tetap bisa datang di kelas dan mengajar seperti biasa.

“Sebagai bukti bahwa kita itu memberikan pengetahuan nan tulus kepada para siswa,” ucapnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan