Roti nan tidak berjamur dan susu nan tidak berbau belum tentu kondusif dikonsumsi. Di kembali tanggal kedaluwarsa terdapat beragam pengetesan ilmiah nan membantu memastikan keamanan pangan bagi konsumen.
Pernahkah Anda menemukan roti nan tetap tampak normal meskipun sudah melewati tanggal kedaluwarsa? Atau susu nan tidak berbau masam sehingga terasa sayang untuk dibuang? Banyak orang mengandalkan penglihatan dan penciuman untuk menilai keamanan pangan. Selama makanan tidak berjamur, tidak berubah warna, dan tidak berbau aneh, makanan tersebut dianggap tetap layak dikonsumsi. Namun, apakah penampilan betul-betul dapat menjadi penentu keamanan pangan?
Permasalahan keamanan pangan tetap menjadi tantangan di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan hingga Oktober 2025 tercatat 119 kejadian keracunan pangan dengan total 11.660 kasus. Sebagian besar kasus berangkaian dengan pangan siap saji alias pangan nan diproduksi secara massal.
Bahaya nan Tidak Selalu Terlihat
Banyak mikroorganisme penyebab penyakit dapat berkembang dalam pangan tanpa menimbulkan perubahan nan mudah dikenali. Akibatnya, makanan nan tampak normal sering kali dianggap aman, padahal proses penurunan mutu maupun kontaminasi mikroba dapat terus berjalan selama penyimpanan.
Pada roti, tanda kerusakan nan paling mudah dikenali adalah munculnya kapang di permukaan produk. Namun, kapang bukan satu-satunya mikroorganisme nan dapat mencemari pangan. Sebelum pertumbuhan kapang terlihat oleh mata, beragam mikroorganisme lain dapat terlebih dulu berkembang, terutama andaikan roti disimpan pada suhu dan kelembapan nan tidak sesuai. Roti nan tetap tampak bersih dan tidak berjamur belum tentu mempunyai kualitas nan sama seperti saat pertama kali dibeli.
Susu juga dapat ditumbuhi oleh beberapa kuman seperti Salmonella, Escherichia coli (E. coli), dan Listeria monocytogenes. Hal ini terjadi lantaran susu merupakan bahan pangan nan kaya bakal air dan unsur gizi sehingga menjadi media nan baik bagi pertumbuhan mikroorganisme. Keberadaan kuman tersebut tidak selalu menyebabkan susu langsung berbau asam, menggumpal, alias berubah warna.
Oleh lantaran itu, tidak adanya jamur pada roti alias tidak adanya aroma masam pada susu tidak dapat dijadikan satu-satunya referensi untuk menilai keamanan pangan. Sebagian perubahan nan berangkaian dengan keamanan pangan terjadi pada tingkat mikroskopis dan tidak dapat diamati secara langsung oleh konsumen.
Mengapa Tanggal Kedaluwarsa Penting?
Tidak semua perubahan pada pangan dapat dikenali melalui pancaindra sehingga produsen menentukan tanggal kedaluwarsa. Umur simpan (shelf life), ialah rentang waktu ketika suatu produk tetap bisa mempertahankan mutu dan keamanannya selama disimpan sesuai kondisi nan dianjurkan.
Tanggal kedaluwarsa merupakan hasil dari beragam pengetesan nan dilakukan untuk mengetahui sampai kapan suatu produk tetap layak dan kondusif dikonsumsi. Tanggal nan tercantum pada bungkusan bukan sekadar angka, melainkan hasil dari proses ilmiah nan dirancang untuk melindungi konsumen.
Dalam kehidupan sehari-hari, konsumen sering menemukan istilah best before dan use by pada bungkusan pangan. Best before menunjukkan periode ketika produk tetap berada pada kualitas terbaiknya, sedangkan use by menunjukkan pemisah waktu produk tetap kondusif untuk dikonsumsi andaikan disimpan sesuai petunjuk nan dianjurkan.
Analisis Pangan Berperan
Dalam menentukan umur simpan suatu produk, peneliti melakukan beragam kajian pangan untuk memantau perubahan nan terjadi selama penyimpanan. Analisis mikrobiologi digunakan untuk membantu memantau apakah jumlah mikroba tetap berada dalam pemisah kondusif untuk dikonsumsi.
Analisis kimia dilakukan untuk mengawasi perubahan komponen pangan, seperti perubahan derajat keasaman (pH), oksidasi lemak, maupun penurunan kandungan unsur gizi tertentu. Analisis bentuk dan sensori juga dilakukan untuk menilai perubahan warna, aroma, rasa, dan tekstur produk selama masa penyimpanan. Perubahan tekstur alias munculnya kapang selama penyimpanan juga dapat dijadikan penentu suatu produk tetap memenuhi standar keamanan dan mutu.
Bagaimana Tanggal Kedaluwarsa Ditentukan?
Metode pertama adalah Extended Storage Studies (ESS) alias metode konvensional. Pada metode ini, produk disimpan dalam kondisi penyimpanan normal, kemudian diamati secara berkala hingga kualitasnya mulai menurun alias tidak lagi memenuhi standar keamanan pangan. Cara ini dapat menggambarkan kondisi penyimpanan nan sebenarnya, tetapi memerlukan waktu nan cukup lama, terutama untuk produk nan mempunyai masa simpan panjang.
Metode kedua adalah Accelerated Shelf-Life Test (ASLT) alias metode percepatan. Berbeda dengan metode konvensional, ASLT dilakukan dengan menciptakan kondisi nan dapat mempercepat penurunan mutu produk, misalnya melalui pengaturan suhu alias kelembapan tertentu. Dengan langkah ini, peneliti dapat memperkirakan umur simpan produk dalam waktu nan lebih singkat tanpa kudu menunggu produk betul-betul rusak. Hasil pengetesan dari kedua metode tersebut kemudian digunakan sebagai dasar dalam menentukan tanggal kedaluwarsa nan tercantum pada kemasan.
42 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·