Shehbaz Sharif.(Al Jazeera)
PAKISTAN muncul sebagai tokoh kunci dalam diplomasi dunia pekan ini setelah Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengumumkan kesepakatan untuk mengakhiri operasi militer antara Iran dan Amerika Serikat (AS) secara segera dan permanen.
Keterlibatan Islamabad dalam menjembatani dua musuh bebuyutan tersebut memicu pertanyaan mengenai argumen di kembali peran sentralnya. Berikut kajian mendalam mengenai posisi strategis Pakistan dalam kesepakatan tenteram nan dijadwalkan bakal ditandatangani di Swiss pada 19 Juni mendatang.
1. Kredibilitas di Mata Kedua Belah Pihak
Mantan Duta Besar Pakistan untuk Teheran, Asif Durrani, menyebut bahwa aspek utama keberhasilan ini ialah kredibilitas. Pakistan mempunyai hubungan unik yaitu berbagi perbatasan sepanjang 900 kilometer dengan Iran serta mempunyai populasi Syiah terbesar kedua di dunia. Namun di sisi lain, Pakistan tetap mempertahankan hubungan militer dan ekonomi nan signifikan dengan Washington.
2. Peran Sentral Jenderal Asim Munir
Pengaruh Pakistan diperkuat oleh hubungan individual Panglima Angkatan Darat, Jenderal Asim Munir. Munir dikenal mempunyai kedekatan dengan komandan Garda Revolusi Iran sekaligus menjalin hubungan baik dengan Presiden AS Donald Trump. Trump apalagi menjuluki Munir sebagai panglima favoritnya setelah kerja sama mediasi bentrok dengan India sebelumnya.
3. Motivasi Ekonomi dan Keamanan Domestik
Keterlibatan Pakistan bukan tanpa pamrih. Krisis di Timur Tengah memicu lonjakan inflasi di dalam negeri Pakistan.
Selain itu, Islamabad mau menghindari tumpahan bentrok di wilayah perbatasan Balochistan nan sudah menghadapi pemberontakan lokal. Secara ekonomi, Pakistan berambisi kesepakatan ini dapat membuka jalan bagi proyek pipa gas Iran-Pakistan nan selama ini tersendat hukuman AS.
Pencapaian Diplomasi:
- Menjadi penyampai pesan (messenger) utama sejak Maret 2024.
- Mengoordinasikan support regional dari Arab Saudi, Qatar, dan Tiongkok.
- Mematahkan upaya isolasi diplomatik oleh rival regionalnya.
4. Risiko dan Tantangan ke Depan
Meski gencatan senjata diumumkan, tantangan besar tetap menanti. Isu krusial seperti program nuklir Iran dan hukuman ekonomi belum sepenuhnya tuntas. Michael Kugelman dari Atlantic Council mencatat bahwa dengan mengambil peran mediator secara terbuka, Pakistan berisiko menjadi pihak nan disalahkan jika kesepakatan ini kandas di tengah jalan.
Namun, untuk saat ini, keberhasilan memfasilitasi perbincangan itu mengubah gambaran Pakistan di mata internasional, dari negara nan dianggap bermasalah menjadi agen perdamaian nan berpengaruh di kawasan. (AFP/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·