Mengapa Netanyahu Tak Membiarkan Timur Tengah Damai?

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik di Timur Tengah kembali memanas, dengan eskalasi Israel di Lebanon nan dinilai bukan sekadar operasi militer biasa. Pakar menilai langkah Tel Aviv di sana, mencerminkan "strategi jangka panjang" nan membikin perdamaian susah terwujud dalam waktu dekat di Teluk.

Menurut Presiden Pusat Studi Timur Tengah sekaligus pengajar tamu Universitas HSE Moskow, Murad Sadygzade, operasi militer Israel di Lebanon telah melampaui dalih serangan presisi terhadap prasarana militer Hizbullah.

"Ini bukan sekadar upaya taktis untuk menahan Hizbullah, melainkan proyek untuk membentuk ulang realitas militer dan politik di Lebanon selatan," ujarnya, seperti dikutip RT, Rabu (15/4/2026).

Ia menambahkan, pembentukan "zona keamanan" pada praktiknya berfaedah kontrol wilayah jangka panjang. Dalam bahasa kawasan, tegasnya, ini berfaedah depopulasi wilayah perbatasan dan pembuatan kebenaran baru di lapangan nan susah dibalikkan.

Proyek Teritorial & Eskalasi Militer

Eskalasi dimulai awal Maret setelah Hizbollah merespons serangan terhadap Iran. Israel kemudian melancarkan serangan udara besar dan memperluas operasi darat di Lebanon selatan.

Menteri Pertahanan Israel apalagi secara terbuka menyebut sasaran area keamanan hingga Sungai Litani, nan mencakup nyaris 10% wilayah Lebanon. Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu juga berbincang soal ekspansi area tersebut.

Menurut Sadygzade, sinyal politik semakin jelas. Apalagi ketika Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menyatakan bahwa perbatasan Israel semestinya mencapai Sungai Litani.

"Ketika pejabat senior berbincang soal perubahan perbatasan dan militer menghancurkan desa-desa, kesimpulannya jelas: ini adalah pendudukan terselubung," tegasnya.

Korban Sipil & Tekanan Regional

Serangan besar pada 8 April menjadi titik paling berdarah. Israel menyatakan menyerang lebih dari 100 sasaran Hizbullah di Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon selatan.

Namun, info otoritas Lebanon menunjukkan 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 luka-luka. Serangan ini juga memicu eksodus besar, dengan lebih dari 1 juta penduduk mengungsi.

Komisaris Tinggi HAM PBB menyebut serangan itu sebagai "pembantaian" nan merusak kesempatan gencatan senjata. Skala kekerasan ini menunjukkan bahwa strategi Israel bukan lagi sekadar menghancurkan musuh.

"Tetapi melemahkan secara permanen melalui kontrol wilayah," kata Sadygzade.

Perang Jadi Alat Politik Netanyahu

Analisis Sadygzade juga menyoroti aspek kunci: kepentingan politik domestik Israel. Menurutnya, perang menjadi instrumen krusial bagi Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaan.

"Tanpa perang, tekanan politik bakal kembali. Pertanyaan tentang kegagalan strategi dan akuntabilitas bakal muncul," ujarnya.

Ia menilai bentrok membantu Netanyahu mengalihkan perhatian publik dari krisis internal dan menunda potensi pemilu nan berisiko bagi posisinya. Perang, ujarnya, memberi ruang untuk mempertahankan agenda keamanan dan menunda kalkulasi politik.

Di sisi lain, Hizbullah berada dalam posisi sulit. Selain menghadapi serangan Israel, golongan ini juga mendapat tekanan dari pemerintah Lebanon nan mulai membatasi aktivitas militernya.

Meski demikian, golongan tersebut tetap bisa meluncurkan ratusan roket dan drone ke Israel. Belum lagi, bentrok Lebanon sekarang juga terhubung dengan dinamika regional.

Iran menuntut agar gencatan senjata mencakup Lebanon dalam negosiasi dengan AS. Namun Israel menolak memasukkan wilayah tersebut dalam kerangka de-eskalasi.

"Sikap ini menunjukkan upaya Israel mempertahankan kebebasan operasi militernya," katanya.

"Israel mau tetap membentuk ulang area sembari tetap terlibat dalam negosiasi regional," ujarnya.

Proyek Geopolitik Jangka Panjang

Secara keseluruhan, dia menyimpulkan bentrok ini telah berubah menjadi proyek geopolitik jangka panjang. Ditegaskannya, bagi sebagian elite Israel, ini juga menjadi perangkat untuk mempertahankan kekuasaan politik.

"Dengan kombinasi kepentingan teritorial, tekanan domestik, dan dinamika regional, kesempatan perdamaian di Timur Tengah dalam waktu dekat sangat kecil," tambahnya.

"Selama logika ini bertahan, bentrok berkepanjangan nyaris tak terhindarkan," pungkasnya.

(tfa/sef/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News