Pernahkah Anda memperhatikan warna langit saat mentari terbenam? Awalnya langit terlihat biru seperti biasa, lampau perlahan berubah menjadi jingga, merah, apalagi keunguan. Pemandangan ini sering menjadi objek foto lantaran dianggap indah. Namun, di kembali keindahannya, terdapat proses fisika atmosfer nan menarik.
Fenomena nan terjadi saat mentari terbit maupun terbenam dikenal sebagai twilight alias fajar dan senja. Pada periode ini, mentari sebenarnya sudah berada di bawah horizon, tetapi cahayanya tetap dapat menerangi atmosfer sehingga langit belum sepenuhnya gelap.
Saat siang hari, langit tampak berwarna biru lantaran sinar biru mempunyai panjang gelombang nan lebih pendek sehingga lebih mudah dihamburkan oleh molekul udara. Hamburan ini terjadi ke beragam arah dan membikin warna biru mendominasi pandangan kita.
Kondisinya berbeda ketika mentari mulai mendekati horizon. Cahaya mentari kudu menempuh jarak nan lebih panjang di dalam atmosfer sebelum mencapai mata pengamat. Selama perjalanan tersebut, sebagian besar sinar biru dan hijau telah terhamburkan lebih dahulu. Akibatnya, warna dengan panjang gelombang nan lebih besar seperti kuning, jingga, dan merah menjadi lebih dominan. Semakin rendah posisi matahari, semakin kuat pula warna merah nan terlihat di langit.
Selain posisi matahari, kondisi atmosfer juga memengaruhi warna senja. Keberadaan debu, asap, alias partikel lainnya dapat membikin warna senja terlihat lebih pekat. Tidak heran jika warna langit saat senja bisa berbeda-beda dari satu hari ke hari lainnya.
Jenis-Jenis Twilight
Twilight tidak hanya terdiri dari satu fase. Berdasarkan posisi mentari di bawah horizon, kejadian ini dibagi menjadi tiga jenis.
Jenis pertama adalah Civil Twilight, ialah ketika mentari berada kurang dari 6 derajat di bawah horizon. Pada fase ini langit tetap cukup terang sehingga aktivitas di luar ruangan umumnya dapat dilakukan tanpa support lampu. Fase inilah nan paling sering kita rasakan sesaat setelah mentari terbenam alias sebelum mentari terbit.
Jenis kedua adalah Nautical Twilight, nan terjadi saat mentari berada antara 6 hingga 12 derajat di bawah horizon. Pada kondisi ini langit mulai gelap, tetapi garis horizon tetap dapat dikenali. Pada masa lalu, fase ini banyak dimanfaatkan oleh pelaut untuk membantu navigasi menggunakan bintang dan horizon sebagai acuan.
Jenis terakhir adalah Astronomical Twilight, ialah ketika mentari berada antara 12 hingga 18 derajat di bawah horizon. Langit sudah jauh lebih gelap dan sebagian besar bintang mulai terlihat dengan jelas. Setelah mentari berada lebih dari 18 derajat di bawah horizon, kondisi langit dianggap telah memasuki malam sepenuhnya.
Fakta Menarik tentang Twilight
Durasi twilight rupanya tidak sama di seluruh wilayah dunia. Indonesia nan berada di sekitar garis khatulistiwa mempunyai lama senja dan fajar nan relatif singkat. Perubahan dari siang menuju malam berjalan cukup sigap dibandingkan wilayah nan berada pada lintang tinggi.
Sebaliknya, negara-negara seperti Norwegia, Swedia, dan Finlandia dapat mengalami twilight nan jauh lebih lama, terutama saat musim panas. Di beberapa wilayah apalagi muncul kejadian nan dikenal sebagai white night alias malam putih, ialah kondisi ketika langit tidak pernah betul-betul gelap sepanjang malam lantaran mentari tidak turun terlalu jauh di bawah horizon.
Meskipun sering dianggap sebagai pemandangan biasa, senja sebenarnya merupakan hasil dari proses fisika atmosfer nan kompleks. Keindahan warna merah nan menghiasi langit setiap sore menjadi bukti bahwa kejadian alam di sekitar kita tidak hanya menarik untuk dinikmati, tetapi juga menyimpan banyak pengetahuan nan dapat dipelajari.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·