Mendikdasmen: Panggil Teman dengan Julukan Bisa Jadi Bibit Bullying

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Doorstop Mendikdasmen, Prof. Abdul Mu'ti, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Himmatul Aliyah dan Dirjen GTK, Nunuk Suryani setelah menghadiri Peluncuran Program Pelatihan Pendidikan Inklusif Tahun 2026 di SMP Negeri 16 Jakarta, Jakarta Selatan (20/4/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Moms, bullying, terutama di lingkungan sekolah dan lembaga pendidikan, bisa bermulai dari beragam hal, termasuk candaan soal nama alias julukan. Panggilan dengan nama julukan mungkin terlihat sepele bagi orang lain, padahal bisa menyakiti hati korban.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengingatkan pemanggilan perseorangan dengan julukan bentuk dapat dikategorikan sebagai corak perundungan (bullying). Karena itu dia mendorong sekolah untuk terus mengupayakan budaya belajar nan lebih humanis, inklusif, dan partisipatif.

“Ya, kadang-kadang sebagian dari melucu itu justru melakukan harassment. Misalnya, Eh si kuntet! Itu kan maunya melucu, tetapi itu harassment, itu bullying sebenarnya,” kata Mu'ti dalam aktivitas "Sosialisasi dan Deklarasi Komitmen Penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman" di Jakarta Pusat, Selasa (2/6), dilansir Antara.

Mu'ti mengingatkan sekolah kudu menjadi tempat nan kondusif dan nyaman bagi semua peserta didik. Di sekolah semestinya tidak boleh ada diskriminasi nan memandang rendah peserta didik, baik dari aspek tampilan bentuk maupun capaian akademik mereka.

Ia mengatakan setiap penduduk sekolah kudu mempunyai kesadaran penuh bahwa setiap siswa mempunyai bakat, kemampuan, dan potensi nan berbeda-beda. Karena itu, pihaknya mendorong setiap sekolah agar membangun budaya nan lebih humanis, inklusif, dan partisipatif.

Budaya itu sejalan dengan prinsip dasar pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), ialah proses belajar nan memuliakan pengetahuan pengetahuan dan setiap penduduk sekolah, baik itu murid, pembimbing maupun tenaga kependidikan.

Melalui pendekatan tersebut, dia berambisi para siswa dapat belajar dalam suasana nan menggembirakan tanpa kudu merendahkan kawan sebaya.

"Kami mau semua anak itu belajar bergembira. Sekolah menjadi tempat di mana semua orang merayakan keberagaman. Inilah nilai dasar kenapa kemudian kami tekankan aspek nan lebih humanis, nan inklusif menerima semuanya, dan partisipatif,” kata Mu'ti.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan