Mendes Yandri Harap Kerja Sama Pembangunan Desa RI-China Ditingkatkan

Sedang Trending 23 menit yang lalu

Jakarta -

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mendorong peningkatan kerja sama pembangunan pedesaan antara Indonesia dan Tiongkok. Kolaborasi tersebut dinilai krusial untuk memperkuat inovasi, peningkatan kapabilitas sumber daya manusia (SDM), hingga pengembangan ekonomi desa.

Hal tersebut disampaikan Yandri saat menerima audiensi delegasi Tiongkok nan dipimpin Wakil Menteri Kementerian Pertanian dan Urusan Perdesaan Republik Rakyat Tiongkok Mr Zhang Zhili di ruang kerja Mendes PDT, Jumat (21/8).

Dalam pertemuan tersebut, Yandri menyampaikan sejumlah tantangan pembangunan desa nan tetap perlu menjadi perhatian bersama. Salah satunya mengenai tingkat kemiskinan di wilayah perdesaan nan tetap mencapai sekitar 11,34 persen, lebih dari dua kali tingkat kemiskinan di wilayah perkotaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, tetap terdapat sekitar 10.000 desa nan belum mempunyai akses listrik dan sekitar 45 persen desa tetap mempunyai kerentanan terhadap musibah alam. Kondisi tersebut menjadi tantangan nan perlu ditangani melalui kerjasama beragam pihak.

"Olehnya, kami mendorong pendekatan Octahelix Collaboration, ialah kerjasama multipihak nan melibatkan beragam tokoh untuk mendukung inovasi, pembangunan berkelanjutan, dan penyelesaian beragam persoalan pembangunan desa," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (23/8/2026).

Kemendes PDT juga memberikan perhatian terhadap pengembangan SDM desa sebagai salah satu aspek krusial dalam mempercepat pembangunan. Menurut Yandri, program kerja sama dengan Tiongkok melalui Benchmarking Study dan Seminar dapat membantu para kepala desa memperoleh pengalaman serta pengetahuan nan dapat diterapkan di wilayah masing-masing.

Tidak hanya itu, Yandri juga mengusulkan agar program benchmarking dapat diperluas dengan melibatkan pemuda melalui program Pemuda Bangun Desa. Melalui program tersebut, para pemuda diharapkan mendapat kesempatan untuk belajar dan bekerja di Tiongkok guna memperoleh pengalaman nan dapat dikembangkan di desa.

"Kami berambisi kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok di bagian pembangunan perdesaan dapat terus ditingkatkan, tidak hanya melalui pertukaran pengetahuan dan peningkatan kapasitas, tetapi juga melalui kerja sama nan lebih konkret dalam pengembangan ekonomi perdesaan," jelasnya.

Kemendes PDT juga membuka kesempatan untuk mengeksplorasi beragam corak kerja sama, termasuk investasi dan keterlibatan sektor swasta dalam pengembangan potensi ekonomi desa. Kerja sama tersebut mencakup pengolahan dan hilirisasi produk unggulan desa, peningkatan produktivitas, pengembangan rantai nilai, serta pemanfaatan teknologi nan sesuai dengan kebutuhan masyarakat perdesaan.

Oleh lantaran itu, Kemendes PDT menyambut baik perkembangan draft Memorandum of Understanding (MoU) antara Kemendes PDT dengan Ministry of Agriculture and Rural Affairs Republik Rakyat Tiongkok. MoU tersebut diharapkan dapat segera difinalisasi dan menjadi dasar kerja sama nan lebih konkret bagi kedua negara.

Selain itu, Indonesia juga memandang pentingnya penguatan kerja sama dengan Tiongkok melalui Global Poverty Alleviation and Rural Development Partnership (GPPAD). Platform tersebut dinilai dapat menjadi ruang untuk memperkuat pertukaran pengalaman dan kerjasama antarnegara dalam pengentasan kemiskinan serta pembangunan perdesaan.

Sementara itu, Zhang Zhili menyampaikan kesepakatannya untuk terus memperkuat kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok. Menurutnya, kerjasama dapat dilakukan melalui beragam tingkatan, mulai dari pemerintah, aparatur pemerintahan daerah, hingga para mahir dan akademisi.

"Dalam kerja sama ini, kami berambisi dapat menggunakan langkah-langkah nan nyata dan pragmatis untuk melaksanakan beragam kesepahaman krusial nan telah dicapai oleh para pemimpin kedua negara, serta memberikan kontribusi kita dalam berbareng sama mendorong pembangunan organisasi dengan masa depan berbareng antara Tiongkok dan Indonesia," katanya.

Ia juga menyampaikan support Tiongkok terhadap sejumlah komitmen Presiden Prabowo Subianto, termasuk sasaran penghapusan kemiskinan sebelum tahun 2029. Ia berambisi semakin banyak perusahaan Tiongkok dapat datang di Indonesia untuk melakukan aktivitas produksi di bagian pertanian.

Selain itu, dia berambisi Indonesia dapat terus menyediakan suasana upaya nan baik bagi perusahaan asing. Hal tersebut termasuk mendukung keberlanjutan aktivitas upaya serta mendorong terciptanya kemakmuran berbareng di wilayah setempat.

"Selain itu, membantu perusahaan menjalankan usahanya secara berkepanjangan dan stabil, serta mendorong terciptanya kemakmuran berbareng di wilayah setempat," pungkasnya.

Sebagai informasi, pertemuan tersebut turut dihadiri Ms. Liu Jiang, Director of the Asia-Africa Division, Department of International Cooperation, MARA; Mr. Meng Dehao, Secretary of the General Office, MARA; Mr. Geng Jianzhong, First Secretary, Embassy of China in the Republic of Indonesia; serta Ms. Li Jiajing, Second Secretary, Embassy of China in the Republic of Indonesia.

Mendampingi Mendes Yandri, datang Sekjen Kemendes PDT Taufik Madjid, Irjen Masyhudi, Dirjen PDP Nugroho Setijo Nagoro, Dirjen PEID Tabrani, Kepala BPSDM Agustomi Masik, Kepala BPI Mulyadin Malik, Staf Ahli Bito Wikantosa, serta Staf Khusus Fahad Attamimi.

(akd/akd)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News