Mendag Pastikan Stok Beras Ritel Aman di Tengah Penarikan 25 Merek Beras Fortifikasi

Sedang Trending 47 menit yang lalu
Mendag Pastikan Stok Beras Ritel Aman di Tengah Penarikan 25 Merek Beras Fortifikasi Ilustrasi(Antara)

MENTERI Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memberikan agunan bahwa kesiapan beras di tingkat ritel dan pasar tetap terkendali. Jaminan ini diberikan di tengah langkah pemerintah menarik peredaran 25 merek beras fortifikasi nan terbukti tidak sesuai dengan standar kandungan gizi pada label kemasan.

"Enggak (masalah), (stok) aman, aman," ujar Budi saat ditemui usai menghadiri rapat kerja berbareng Komisi VI DPR RI di Jakarta, Kamis (17/9).

Pasokan Diperkuat Beras SPHP Bulog

Untuk mengantisipasi kekosongan pasokan akibat penarikan produk tersebut, pemerintah mengandalkan tambahan suplai melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Perum Bulog disiapkan untuk menggelontorkan tambahan satu juta ton beras SPHP.

"Bulog kan sudah menyampaikan untuk memasok satu juta ton SPHP berupa beras kita, waktu itu rapat di Kemenko Pangan. Jadi saya kira enggak ada masalah," ungkap Budi.

Kebijakan penambahan alokasi satu juta ton beras SPHP ini sebelumnya telah diputuskan dalam rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada 7 September 2026. Tujuannya guna memperkuat pasokan beras medium sekaligus menjaga stabilitas nilai di pasaran. Perum Bulog sendiri mencatat stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) per Rabu (16/9) berada di kisaran 4,6 juta ton, dengan realisasi penyaluran SPHP sejak Maret hingga pertengahan September 2026 mencapai kurang lebih 794 ribu ton.

Guna memastikan kelancaran pengedaran ke pasar modern maupun pasar rakyat, Kementerian Perdagangan terus memperketat koordinasi lintas lembaga berbareng Badan Pangan Nasional (Bapanas) serta Kementerian Pertanian (Kementan).

"Ya salah satunya dari Bulog, distribusinya kita jaga. Nanti kita koordinasi terus dengan Bapanas dan juga dari Kementan," kata Budi menambahkan.

Kronologi Penarikan 25 Merek Beras Fortifikasi

Langkah pengetatan stok ini menyusul keputusan Bapanas sehari sebelumnya nan mengonfirmasi bahwa 25 merek beras fortifikasi bermasalah telah menghentikan aktivitas produksi. Seluruh produk tersebut sekarang sedang dalam tahap penarikan masif dari pasaran.

Berdasarkan info hingga pekan pertama September, sebanyak 12 merek telah sukses menarik produknya, sementara sisanya tetap dalam proses penyelesaian. Bapanas mencatat ada 11 pelaku upaya pemegang izin edar dari 25 merek tersebut nan telah dijatuhi surat peringatan melalui Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD).

Sebelumnya, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, memaparkan hasil uji laboratorium terhadap 27 merek beras berkalim fortifikasi. Hasilnya, 25 merek dinyatakan kandas memenuhi standar kandungan gizi sesuai klaim kemasan. Pengujian ketat ini melibatkan empat laboratorium independen, di mana izin edar seluruh merek nan melanggar langsung dicabut.

Terkait adanya indikasi pelanggaran norma dalam kasus beras fortifikasi ini, abdi negara penegak norma dilaporkan tetap melakukan pendalaman. Kementerian Pertanian telah berkoordinasi secara intensif dengan Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri serta Satgas Pangan Polri. Penegakan norma lanjutan bakal dijalankan andaikan bukti dan pengetesan ilmiah mengonfirmasi adanya unsur pidana.

Menanggapi proses norma tersebut, Mendag Budi Santoso menegaskan sikap pemerintah nan kooperatif dan menghormati prosedur nan tengah berjalan.

"Kita hormati proses norma nan berjalan," tutur Budi. (Ant/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia