Menaker Yassierli Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak Inovasi

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Menaker Yassierli Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak Inovasi Menteri Ketenagakerjaan Yassierli(Kemenaker)

The World in 2050 Report nan dirilis lembaga riset bumi Pricewaterhouse Cooper (PwC) memperkirakan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi terbesar ke-4 di dunia. Posisi Indonesia hanya kalah dari Tiongkok, India, dan Amerika Serikat.

Prediksi PwC itu pun selaras dengan visi besar pemerintah saat ini untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Dalam waktu 19 tahun ke depan, Indonesia bakal menjadi negara maju, adil, dan makmur sesuai cita-cita bangsa saat republik ini berdiri pada 1945. Namun, untuk mewujudkan prediksi The PwC dan mencapai Indonesia Emas 2045, ada satu perihal nan tetap menjadi tantangan besar ialah kualitas sumber daya manusia (SDM) nan mumpuni, khususnya dalam mempunyai semangat, langkah pandang, dan keahlian berinovasi.

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menggarisbawahi pentingnya spirit dan kompetensi inovasi tersebut. Semangat dan kecakapan berinovasi ini kudu dimiliki terutama oleh generasi muda.  Ia mengakui, Indonesia kerap ditempatkan di posisi bawah dalam pemeringkatan indeks penemuan dunia. Seperti direkam Global Innovation Index 2025, kecakapan Indonesia dalam melahirkan penemuan terlempar ke ranking 55. Peringkat ini kalah dari capaian negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Vietnam.

Kendati demikian, Yassierli tetap optimistis Indonesia bisa menjadi bangsa inovatif alias innovation nation berbarengan dengan terwujudnya Indonesia Emas 2045. Keyakinan ini tak lepas dari lahirnya anak-anak muda nan dibekali beragam kompetensi inovasi, sehingga siap menjadi pemimpin, pemangku kepentingan, dan para ahli di masa depan.

“Inovasi menjadi satu kata nan menjadi tantangan kita dan tidak banyak didiskusikan. Ini kudu dibicarakan terutama pada para leader nan lahir di sini nan saya percaya punya kompetensi inovasi. Adik-adik Tanoto Scholar (penerima danasiwa Tanoto Foundation) mempunyai peran menjadi leaders nan berkontribusi untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ungkap Yassierli di depan ratusan Tanoto Scholar di salah satu sesi Tanoto Scholars Gathering, di Pangkalan Kerinci, Riau.

Inovasi bukan berfaedah menghasilkan produk baru. Inovasi adalah keahlian dalam menghasilkan suatu nilai baru. Bukan hanya dalam corak peralatan alias komoditas, melainkan juga bisa jasa alias model. Pengembangan suatu penemuan memang memerlukan pengetahuan, teknologi, dan kreativitas. Namun nan paling penting, Yassierli menekankan, penemuan berangkat dari spirit dan prinsip-prinsip sederhana tapi mendasar dalam kehidupan.

Yang pertama, penemuan berangkat dari rasa empati untuk memecahkan persoalan. Dari negeri sendiri, contohnya pengembangan aplikasi transportasi daring. Inovasi ini lahir lantaran rasa empati memandang orang-orang kesulitan mencari moda transportasi. Di sisi lain, para pengemudi ojek juga terlalu lama menanti pelanggan. Aplikasi ini kemudian mempertemukan dua kebutuhan itu.

“Dengan empati, kita punya perhatian dan emosi nan sama dengan orang-orang ketika menghadapi masalah. Inovasi-inovasi nan lahir dan sekarang menjadi produk dan jasa besar berangkat dari empati,” tuturnya.

Seiring dengan rasa empati ini adalah spirit untuk menjadikan segala sesuatunya lebih baik. Berbagai platform baru pun terus bermunculan untuk menjadikan aktivitas manusia lebih mudah.

“Sekarang ditambah adanya AI (artificial intelligence). Ini semua penemuan dan setiap bangsa saat ini berlomba-lomba untuk menghasilkan inovasi-inovasi terbaik,” ujar Yassierli.

Tak ada nan kekal selain perubahan itu sendiri. Inovasi juga menganut prinsip terus berkembang. Berbagai komponen dalam suatu ekosistem terhubung (connecting more dots) dan jenis kebutuhan terus dipenuhi melalui tambahan fitur nan berbeda dan unik.

Di sisi lain, prinsip tumbuh dan berkembang ini juga memacu sang inovator di kembali penemuan itu sendiri. “Jangan hanya menjadi user (pengguna). Setelah jadi user kemudian Anda jadi developer, orchestrator, sampai jadi leader,” ujarnya.

Pada titik inilah, Yassierli memandang generasi muda Indonesia kudu terus didorong untuk mempunyai langkah pandang penemuan (innovation mindset) sebagai syarat menjadi pemimpin masa depan.

“Cara pandang inovatif itu berfaedah Anda berpikir dan memandang dengan material nan berbeda, teknologi nan berbeda, hingga proses dan langkah kerja nan berbeda. Itulah innovation mindset,” tuturnya.

Di kesempatan nan sama, Ia membujuk generasi muda untuk menghindari fixed mindset, ialah saat seseorang hanya belajar di bagian nan telah dikuasainya. Mereka menghindari tantangan, mudah menyerah, memandang upaya sebagai sesuatu nan sia-sia, apalagi merasa terancam oleh keberhasilan orang lain.

Sebaliknya, nan kudu dipupuk adalah growth mindset, nan mendorong orang untuk terus menguasai hal-hal baru, pantang menyerah, dan siap menghadapi beragam tantangan. Orang-orang dengan langkah pandang ini percaya bahwa pengetahuan dan keahlian mereka dapat terus berkembang layaknya otot jika terus dilatih. Yassierli pun membeberkan rahasia untuk mempunyai dan mempertahankan growth mindset pada diri anak muda. “Belajarlah dan carilah mentor alias coach sebagai role model. Lihat gimana mereka bisa survive, lihat gimana mereka berkembang, siap menghadapi tantangan, dan pantang menyerah saat menghadapi hambatan,” ungkapnya.

Selain mentor nan datang secara langsung, Yassierli juga membujuk Tanoto Scholar mengambil inspirasi dari para tokoh nan dianggap sebagai the greatest of all time (GOAT) sebagai model. Kisah hidup, sepak terjang, dan beragam pendapat serta penemuan dapat dibaca di kitab riwayat hidup mereka.

“Para pemimpin dan inovator itu datang untuk memberikan solusi kepada masyarakat. (Mereka) mau orang-orang dan user menjadi lebih mudah. (Mereka) tidak mau menghasilkan sesuatu nan buruk. Itu lah mentalitas inovatif, mentalitas seorang inovator,” tandasnya.

Menurut Yassierli, saat ini hanya 14 persen dari total 155 juta angkatan kerja nan memperoleh kesempatan emas untuk menempuh pendidikan tinggi. Sementara itu, ada 86 persen angkatan kerja nan pendidikan hanya setingkat SMA alias SMK.

Berbagai upaya pun telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas angkatan kerja nasional. Salah satunya adalah program pemagangan nasional nan digagas Kemenaker dengan kuota sebanyak 150 ribu fresh graduates. Mereka menjalani magang di perusahaan terkemuka selama satu tahun.

“Sebelum masa magang selesai, sebanyak 30 persen peserta magang sudah ditawari kerja. Ini adalah corak gimana kita mau memberikan satu impact dan kontribusi kepada bangsa,” ujarnya.

Upaya meningkatkan kualitas angkatan kerja perlu support semua pihak. Seperti halnya langkah Tanoto Foundation, di mana para peraih danasiwa TELADAN dibekali dengan training kepemimpinan, pengembangan diri, dan peningkatan kapabilitas untuk melengkapi keahlian akademik dari kampus.

“Saya mengawasi gimana mahasiswa-mahasiswa saya menjadikan danasiwa Tanoto sebagai salah satu harapan. Saya pernah memandang gimana bahagianya seseorang, bahagianya satu keluarga, ketika danasiwa itu hadir; memberikan (harapan) kepada mereka bahwa mereka bisa menggapai mimpi,” kata Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Melalui danasiwa ini, Yassierli memandang Tanoto Foundation mempunyai spirit inovasi, serta berkomitmen untuk menghasilkan pemimpin dan inovator. Dukungan ini menjadi modal krusial untuk mewujudkan bangsa inovatif di masa mendatang.

“Pada 2045, Indonesia menjadi negara besar hanya jika kita menjadi innovation nation. Kalau penemuan itu terbangun bakal memecahkan persoalan mengenai dengan keterbatasan lapangan kerja,” ujarnya.

Dengan semangat nan sama untuk memperbanyak generasi muda dengan innovation mindset, Tanoto Foundation terus mendukung mahasiswa di Indonesia melalui danasiwa Transformasi Edukasi untuk Melahirkan Pemimpin Masa Depan (Teladan). 

Program ini bermaksud untuk membentuk calon pemimpin nan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mempunyai karakter kepemimpinan, semangat belajar sepanjang hayat, serta keahlian bekerja-sama dan menciptakan akibat bagi masyarakat. Program Teladan memadukan support biaya kuliah dan tunjangan hidup dengan pengembangan kepemimpinan nan terstruktur selama 3,5 tahun. Tanoto Scholar juga memperoleh kesempatan mengikuti beragam aktivitas pengembangan diri, seperti Tanoto Scholars Gathering, proyek sosial, magang, hingga pengalaman pembelajaran di tingkat nasional maupun global.

Pendaftaran Program Beasiswa dan Pengembangan Kepemimpinan Teladan Cohort 2027 tetap dibuka hingga 7 September 2026, bagi mahasiswa semester pertama (S1) di 10 perguruan tinggi mitra Tanoto Foundation ialah IPB University, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Universitas Indonesia, Universitas Sumatera Utara, Institut Teknologi Bandung, Universitas Hasanuddin, Universitas Mulawarman, dan Universitas Riau. (E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia