Menaker Akui Ketidaksesuaian Kompetensi Lulusan dengan Kebutuhan Industri

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli, di kompleks DPR RI, Jakarta, Rabu (2/9). Foto: Muhammad Fhandra/kumparan

Fenomena job mismatch menjadi perihal nan kerap terjadi dan dialami oleh para pencari kerja dan rekruter di Indonesia. Hal ini bukanlah sesuatu baru lantaran sudah lama menjadi tantangan di sektor ketenagakerjaan Indonesia.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli juga mengakui perihal tersebut. Apalagi, sekarang ada disrupsi oleh kepintaran buatan (AI) sampai otomasi nan terjadi di banyak sektor usaha.

“Kalau mismatch itu kan memang tantangan nan sudah lama. Jadi tidak hanya di Indonesia, nyaris di semua negara. Apalagi ketika di industri sendiri kan selalu terjadi perubahan mengenai dengan proses mereka. Kemudian adanya disrupsi akibat AI, otomasi, dan seterusnya,” kata Yassierli ditemui di Jakarta pada Rabu (2/9).

Di samping itu, dia menjelaskan memang ada jarak antara pertumbuhan industri dengan arah pendidikan khususnya pendidikan tinggi nan menghasilkan lulusan-lulusan untuk diserap oleh industri. Untuk itu, penyesuaian antara pendidikan dan industri menurutnya memang perlu dilakukan.

Pencari kerja mencari info lowongan pekerjaan pada aktivitas Job Fair Kendal 2026 di Kendal Sport Center, Kendal, Jawa Tengah, Rabu (22/7/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

“Jadi memang di satu sisi, tuntutan dari industri mengenai dengan kebutuhan skill pekerja itu semakin sigap berubah. Dan di lain sisi, maka kemudian kita nan kudu dari lembaga pendidikan dan tentu didukung oleh pemerintah, kita nan kudu terus untuk melakukan penyesuaian agar mismatch nan tadi disebutkan itu tidak terjadi,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa saat ini pemerintah tak tak bersuara untuk menjawab persoalan job mismatch tersebut. Hal ini lantaran pemerintah sudah mempunyai beberapa program termasuk magang nasional sampai magang vokasi.

Hal ini diharap bisa meningkatkan kompetensi para penerima faedah program tersebut utamanya mengenai pengalaman kerja.

“Jadi jika pemagangan 150.000, vokasi 270.000, itulah nan sekarang gimana negara hadir, kita mau mereka nan lulus SMK bisa kemudian mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kompetensi, dan mereka nan lulus perguruan tinggi juga bisa mendapatkan pengalaman di tempat kerja,” kata Yassierli.

Masih mengenai itu nan sama, Wakil ketua umum Kadin Indonesia bagian Ketenagakerjaan, Subchan Gatot juga menjelaskan beberapa penyebab kejadian itu terjadi. Salah satunya memang adanya kesenjangan antara kompetensi dengan kebutuhan industri.

“Tantangan utamanya adalah kesenjangan antara kompetensi pelamar dan kebutuhan pekerjaan. Kandidat cukup banyak, tetapi nan siap bekerja dan sesuai kebutuhan industri tetap terbatas,” kata Subchan.

Di samping itu, perusahaan saat ini biasanya tak hanya mencari keahlian teknis dan digital dari para pelamar. Hal ini lantaran keahlian pemecahan masalah sampai tingkat disiplin juga menjadi pertimbangan. Hal inilah nan tetap susah didapat oleh perusahaan.

Sejumlah pencari kerja menghadiri aktivitas Job Fair Kendal 2026 di Kendal Sport Center, Kendal, Jawa Tengah, Rabu (22/7/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

“Selain keahlian teknis dan digital, perusahaan sering kesulitan menemukan keahlian pemecahan masalah, komunikasi, kerja sama, disiplin, serta kemauan belajar dan beradaptasi,” ujarnya.

Karena tetap ada jarak antara pendidikan dan relevansinya ke bumi industri, Subchan juga memandang bahwa perlu ada penyelarasan kurikulum. Menurutnya perihal itu krusial agar ada keselarasan antara pendidikan dengan bumi industri.

“Kurikulum dan training perlu lebih dekat dengan kebutuhan industri. Kolaborasi melalui magang berkualitas, pendidikan vokasi, sertifikasi kompetensi, dan training ulang kudu diperkuat. Pemerintah juga perlu menyediakan info pasar kerja nan lebih jeli agar pendidikan, pencari kerja, dan perusahaan dapat saling terhubung,” kata Subchan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan