Menag Jadi Penceramah Sholat Tarawih Pertama di Istiqlal, Bakal Bicara Eco-Theology

Sedang Trending 5 bulan yang lalu

Menag Jadi Penceramah Sholat Tarawih Pertama di Istiqlal, Bakal Bicara Eco-Theology

Menag Nasaruddin Umar (Foto: Binti M/Okezone)

JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dijadwalkan menjadi penceramah Sholat Tarawih perdana di Masjid Istiqlal malam ini, Rabu 18 Februari 2026. Dilihat dari laman resminya, Nasaruddin Umar nan juga Imam Besar Masjid Istiqlal bakal menyampaikan pidato dengan tema Ramadhan Hijau. Sholat Tarawih di Istiqlal bakal dilangsungkan 20 rakaat serta 3 rakaat Sholat Witir.

Imam pertama bakal memandu Sholat Isya dan Tarawih 8 rakaat, sementara pemimpin kedua bakal memandu Sholat Tarawih 12 rakaat serta 3 rakaat Sholat Witir. Ia menjelaskan, tema bakal diparalelkan dengan tema di Kementerian Agama (Kemenag) nan digagas, ialah eco-theology.

“Jadi eco-theology itu ini ada maknanya sangat esensial ya. Karena kita sadar bahwa Tuhan itu kan lebih menonjol sebagai feminine God, lebih menonjol sebagai nurture. Nurture itu apa? Lembut, mendidik, mengasuh, membina ya,” ujar dia. 

“Nah bukan sebagai Tuhan Maha Pendendam, Mahakeras, dan Mahajantan, Mahastruggle. Nabinya pun juga lebih menonjol sebagai jamaliah, feminine prophet ya kan. Kitab sucinya pun juga menonjol sebagai kitab-kitab feminin, kitab penuh kelembutan,” sambung dia.

Ia menjelaskan, tema tersebut juga bermaksud untuk mengembalikan kegunaan kepercayaan nan membujuk masyarakat untuk mencintai alam semesta.

“Karena tidak mungkin kita bisa menjadi hamba tanpa alam nan sehat. Tidak mungkin bisa menjadi khalifah nan baik tanpa alam nan sehat juga. Nah alam ini punya hak, manusia juga punya hak. Jadi jika kita tidak menghargai kewenangan alam semesta, alam bakal marah,” ungkapnya.

“Nah apa jadinya jika alam marah? Ya kan? Ada banjir, ada longsor, ada tsunami, ada macam-macam. Nah langkah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan esensial ini kita kudu lebih banyak kembali gimana kita berkawan dengan alam. Jangan hanya menganggap alam ini sebagai objek, tetapi itu mitra untuk hidup berbareng saling menguntungkan dan saling memperkuat satu sama lain. Itu mindset kepercayaan ini. Jadi ada semacam program de-maskulinisasi teologi. Melakukan de-maskulinisasi teologi ya kan,” jelas dia.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan buletin terkini dengan jeli dan terpercaya. Ikuti info terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa krusial lainnya, langsung dari sumber nan terpercaya.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com