Membangun Optimisme di Tengah Ketidakpastian Global

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan ekonomi tetap terus dilakukan, salah satunya dengan merilis beragam kebijakan dan stimulus agar daya beli masyarakat tetap kuat di tengah ketidakpastian global.

Seperti diketahui, ketidakpastian ekonomi dunia terus memburuk akibat bentrok geopolitik, mulai dari perang jual beli antara AS-China hingga di Ukraina dan juga Iran. Hal tersebut secara tidak langsung juga ikut mempengaruhi kondisi ekonomi nasional.

Beruntung Indonesia mempunyai ketahanan, dan juga didukung oleh pasar domestik nan kuat, sehingga hingga kuartal I-2026 ekonomi Indonesia tetap tetap tumbuh 5,61%.

Bahkan, Direktur Utama PT Bank SMBC Indonesia Tbk. (SMBC Indonesia) Henoch Munandar mengaku optimistis dengan daya tahan dan stabilitas ekonomi terjaga, Indonesia ke depan bisa menjadi pusat pertumbuhan di wilayah kawasan.

"Kita menyaksikan bumi bergerak dinamis, rantai pasok global, teknologi, transisi energi, arus investasi internasional, sedang membentuk new normal, dengan era volatilitas, gejolak, ketidakpastian, kerumitan, dan semua dalam situasi ambigu alias ketidakjelasan. Di tengah ketidakjelasan itu, kita berambisi Indonesia mempunyai daya tahan, dan optimisme kuat, stabilitas ekonomi terjaga, lantaran besarnya pasar domestik," ujar Henoch saat membuka Seminar SMBC Indonesia Economic Forum 2026, dikutip Kamis (21/5/2026).

Diskusi dalam forum ini menunjukkan bahwa di tengah fragmentasi dunia dan meningkatnya volatilitas, stabilitas domestik, konsistensi kebijakan, dan kepercayaan penanammodal bakal menjadi aspek pembeda utama daya saing suatu negara.

SMBC Indonesia memandang ketahanan ekonomi nasional bukan hanya sebagai keahlian memperkuat menghadapi tekanan global, tetapi juga sebagai fondasi untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pertumbuhan baru di kawasan. Sejalan dengan arus modal dunia nan semakin selektif, kepastian regulasi, kualitas institusi, dan suasana investasi nan terjaga bakal menjadi komponen krusial dalam menarik modal jangka panjang.

Optimisme itu bukan tanpa alasan, mengingat Indonesia bisa memanfaatkan kondisi dinamika dunia lewat daya saing nan kuat dengan memperluas kesempatan upaya dan menciptakan ekonomi berkelanjutan.

"Kami memandang pentingnya menjaga stabilitas sebagai fondasi, sekaligus momentum tetap terjaga. Ini butuh kerjasama erat, pemerintah, publik, swasta. SMBC Indonesia Economic Forum kami adakan untuk jadi ruang perbincangan nan konstruktif antar pemangku kepentingan, sekaligus merespons dinamika global, memperluas wawasan, dan memperkuat optimisme serta memberikan wawasan untuk investasi ke depan," terangnya.

Tidak tinggal diam, pemerintah juga mempunyai strategi agar pertumbuhan ekonomi tetap kuat di tengah gejolak ekonomi global. Salah satunya dengan menjaga kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap sehat dengan defisit nan terkendali.

Plt. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan, Herman Saheruddin mengatakan Kemenkeu tentu tetap menjaga APBN agar bisa shock absorber sehingga masyarakat Indonesia baik dari sisi konsumsi dapat menjalankan aktivitas dengan baik.

"Jadi perihal utama nan pertama konsumsi rumah tangga domestik, kedua investasi domestik, dan ketiga konsumsi pemerintah. Semua ini aspek domestik dengan masyarakat lebih dari 200 juta jiwa. Ini menunjukkan sungguh besar potensi domestik kita jika diarahkan dengan benar," terangnya.

Lebih lanjut Ia mengatakan, melalui kegunaan fiskal nan dimiliki di APBN, pemerintah sekarang lebih disiplin menerapkan anggaran dengan tepat waktu. Artinya pemerintah menjaga pengeluaran dengan hati-hati dan waktu nan tepat. Langkah ini sangat krusial dilakukan, lantaran dinilai bisa menciptakan multiplier effect baik dari konsumsi maupun investasi.

Fundamental Indonesia Sangat Kuat

Head of Economics, Portfolio Alignment, and Sustainability Danantara Investment Management, Masyita Crystallin, membeberkan, Indonesia saat ini mempunyai nilai ekonomi nyaris menembus 1,4 triliun dolar AS. Angka jumbo ini menjadikan Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan menempati posisi keempat di antara negara emerging market di luar Tiongkok.

Dengan kondisi ini, tentunya Indonesia punya potensi besar dalam mendorong perekonomian ke depan tetap kuat dan terjaga.

"Ini bukan harapan. Ini realita bahwa kita mempunyai size ekonomi nan besar. Namun pertanyaan berikutnya, apakah size itu bisa berubah menjadi produktivitas nan akhirnya (berujung) kepada kemajuan ekonomi?," ujar Masyita.

Meski begitu, Ia menilai bahwa peta kekuatan ekonomi Indonesia selama ini tak hanya disokong oleh sumber daya alam, melainkan oleh stabilitas pertumbuhan ekonomi domestik. Selain sumber daya alam, Masyita menekankan bakal pentingnya pembangunan sumber daya manusia alias human capital.

Menurutnya, Indonesia diberikan privilege berupa bingkisan demografi lantaran jumlah masyarakat usia produktif lebih besar dibanding golongan usia nonproduktif. Namun, dia mengingatkan kondisi tersebut tak bakal berjalan selamanya. Oleh lantaran itu, pembuatan lapangan kerja dan akumulasi modal menjadi kunci utama agar Indonesia bisa memanfaatkan bingkisan demografi lebih maksimal dan mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Pentingnya Dukungan Swasta dalam Memperkuat Ekonomi Indonesia

Ekonom Senior, Raden Pardede mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini tidak bisa berjuntai pada APBN dan BUMN semata, tetapi bisa berjuntai pada swasta lantaran mempunyai mesin nan lebih besar.

Oleh karena itu Ia mendorong agar pemerintah ke depan bisa berfaedah sebagai katalis untuk mendukung swasta bekerja dalam mendorong perekonomian Indonesia.Kondisi saat ini pun memungkinkan lantaran anggaran pemerintah terbatas, swasta sehat, sektor perbankan dan finansial juga sehat.

Raden menegaskan kondisi ini berbeda dengan kondisi saat krisis finansial 1998 ketika sektor swasta hancur lebur.

"Sekarang sebetulnya cukup kuat, pemerintah oke, tapi mereka terbatas. Jadi saran saya pemerintah jadi katalis. Untuk jadi katalis adalah deregulasi, address ease doing business, (mendorong) produktivitas, berfaedah lah pemerintah sebagai katalis," paparnya.

Strategi Hadapi Kondisi Geopolitik Global

Distinguished Fellow at the Asia Research Institute, National University of Singapore, Kishore Mahbubani mengungkapkan panasnya kondisi geopolitik bisa berpengaruh besar pada negara-negara di area ASEAN, termasuk Indonesia.

Sebagai salah satu negara nan besar, Indonesia dinilainya kudu mengangkat langkah nan tepat untuk menghadapi bumi nan susah ini.

"Indonesia bisa mengangkat pendekatan ABC (ASEAN, Boring, Capital) dalam menghadapi situasi dunia saat ini," ujarnya

Kishore kemudian menjelaskan nan dimaksud strategi ABC, pertama adalah ASEAN. Sebagai negara terbesar di ASEAN, Indonesia dinilainya kudu lebih memanfaatkan dan mengandalkan apa nan sudah terjalin dengan negara tetangga.

"Lalu untuk B, saya tahu ini adalah kata-kata nan berbahaya, B adalah Boring. Di tengah bumi nan terus berubah, jika kita bisa konsisten, terprediksi, dan konsisten maka kita bisa menghadapinya," ungkap Kishore.

Strategi berikutnya adalah Capital. Dengan kekuatan ekonomi ASEAN dan konsistensi nan nyata, maka capital alias modal bakal datang dengan sendirinya.

"Capital (modal) tidak suka dengan kejutan-kejutan alias perubahan terlalu banyak, lantaran mereka (investor) jadi kurang yakin," ujar Kishore.

Permasalahan di bumi nan banyak berubah saat ini adalah arus modal nan keluar di banyak negara lantaran ketidakpastian. Kishore pun menegaskan "Arus modal (capital) datang ke tempat nan paling membosankan".

Saat ini menurutnya kondisi ASEAN secara keseluruhan tetap cukup stabil dengan pasar nan terus berkembang. Kawasan ini menurutnya juga, beruntung lantaran berdekatan dengan dua kekuatan ekonomi besar dunia, ialah China dan India.

"Jadi kita beruntung ASEAN terlibat dalam segitiga pertumbuhan berbareng China dan India. Jika kita bisa memperkuat pertumbuhan segitiga ini maka ekonomi area bisa lebih berkembang, terutama dengan hubungan baik berbareng mitra lainnya, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru," jelasnya.

Untuk diketahui, SMBC Indonesia sendiri telah sukses menggelar forum obrolan untuk mendengar perspektif strategis mengenai arah kebijakan pemerintah dan juga potensi investasi serta program hilirisasi hingga politik di tanah Air.

Dengan mengangkat tema "Resilience in a Shifting Global Landscape", forum ini menghadirkan sejumlah tokoh krusial di sektor ekonomi. Lewat beragam diskusi, diharapkan pemangku kepentingan bisa mengambil sikap nan tepat dalam merespon kondisi dinamika global.

Hadir pula beberapa narasumber kompeten lainnya di SMBC Indonesia Economic Forum 2026, seperti Executive Director Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, President Director PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen Lilis Setiadi, dan Managing Partner PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk Arief Wana.

(dpu/dpu)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News