(Dok. Pribadi)
HARDIKNAS 2026 telah kita rayakan dengan penuh syukur sekaligus direnungkan dengan penuh tanggung jawab. Tahun ini Kemendikdasmen mengangkat tema Menguatkan partisipasi semesta mewujudkan pendidikan berbobot untuk semua. Tema itu pengakuan terbuka bahwa negara tidak bisa bekerja sendirian. Revitalisasi sekolah memerlukan support pemerintah wilayah dan bumi usaha. Digitalisasi pembelajaran memerlukan orangtua nan mau terlibat. Kesejahteraan guru memerlukan penghargaan nyata dari masyarakat.
WARISAN PENDIDIKAN KI HADJAR
Lebih dari seabad lalu, Ki Hadjar Dewantara merumuskan makulat pendidikan ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Tiga peran nan saling menopang itu sekarang makin relevan, bukan hanya sebagai tugas guru, melainkan juga sebagai tanggung jawab seluruh ekosistem pendidikan, mulai pemerintah, keluarga, masyarakat, hingga bumi industri.
Formulasi Ki Hadjar itu berevolusi ke dalam corak barunya melalui aktivitas mutualisme literasi nan tumbuh dari bawah. Membaca bukan lagi petunjuk dari atas, melainkan kesadaran di akar rumput. Komunitas baca tumbuh di beragam daerah. Pemerintah mendorong program satu desa satu perpustakaan nan sekarang juga didukung bumi industri.
Dari sisi keluarga, semakin banyak orangtua nan mulai menyadari pentingnya mendampingi proses belajar dengan langkah mendengarkan, bukan sekadar mendikte. Simbiosis itulah berita baik bagi mutu literasi kita.
Walakin, kita juga kudu jujur bahwa tetap ada pekerjaan rumah nan belum selesai. Pendidikan kita tetap kerap menyamakan jumlah dengan mutu. Nilai ujian, ranking kelas, dan gelar akademik dikejar semata demi angka. Sementara itu, pembentukan karakter, keahlian berpikir aras tinggi, dan kepintaran emosional tetap diperlakukan sebagai kebutuhan sekunder. Padahal, sebagaimana mimpi Ki Hadjar sendiri, pendidikan sudah semestinya memanusiakan manusia.
PEKERJAAN RUMAH PENDIDIKAN
Pendidikan kita tidak lepas dari kesenjangan struktural. Ada dua Indonesia dalam satu sistem pendidikan. Ada anak-anak nan belajar di ruang kelas ber-AC dan mengakses perpustakaan digital, sementara di tempat lain ada anak-anak nan menempuh perjalanan berjam-jam menuju sekolah nan atapnya tetap bocor. Dua bumi itu merayakan Hardiknas seperti langit dan bumi.
Selain soal infrastruktur, ada krisis kecurangan dalam pertimbangan nan dianggap lumrah serta budaya asal naik kelas demi nomor kelulusan. Gejala itu menampakkan sistem kita sedang mengajarkan perihal nan keliru kepada generasi muda. Hasil menjadi lebih krusial daripada proses dan penampilan lebih krusial dari substansi. Jika dibiarkan, kita sedang membangun sumber daya manusia nan mahir berpura-pura.
Sinyal itu terkonfirmasi oleh hasil tes keahlian akademik (TKA) SMA 2025 menunjukkan tidak ada satu pun mata pelajaran wajib nan menembus rerata 60 dari skala 100. Rerata bahasa Indonesia secara nasional hanya 55,38, matematika 36,10, dan bahasa Inggris hanya 24,93. Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyatakan bahwa masalah ini berkarakter sistemis dan dimulai sejak pendidikan dasar. Itu cermin dari persoalan nan sudah lama dibiarkan berakar.
PENDIDIKAN ERA DIGITAL
Transformasi digital menjadi gelombang baru nan menuntut respons bijak. Banyak pihak tetap memahaminya lebih sebagai ancaman daripada peluang. Padahal teknologi mengubah paradigma. Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan dan pergeseran itu semestinya tidak ditakuti. Guru nan pandai memanfaatkan teknologi sebagai mitra pembelajaran nan memperluas jangkauannya, bukan pesaing nan menakut-nakuti eksistensinya.
Murid di Papua sekarang dapat mengakses materi nan sama dengan anak di Jakarta. Mereka bisa berganti pengalaman belajar lintas daerah, apalagi berkomunikasi dengan penutur asing nan dulu hanya bisa dijumpai secara langsung. Teknologi, jika digunakan dengan benar, memang mengubah wajah kelas.
Akan tetapi, transformasi digital kudu dibarengi dengan transformasi langkah berpikir. Memberi akses bebas gawai kepada siswa tanpa membekali mereka keahlian memilah info seumpama memberi kompas tanpa mengajarkan langkah membacanya. Kecerdasan tanpa adab adalah bahaya. Pendidikan era digital bukan hanya soal literasi digital, melainkan juga soal membentuk manusia nan bijak menggunakan kecerdasannya untuk kebaikan bersama.
GURU PENENTU ARAH
Di tengah hiruk-pikuk digitalisasi, kita kerap melupakan pembimbing sebagai salah satu variabel penentu pendidikan. Sayangnya, pekerjaan pembimbing di Indonesia tetap menghadapi ironi nan menyedihkan. Di satu sisi, pembimbing disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dengan nada penuh hormat. Di sisi lain, kesejahteraan mereka, terutama pembimbing honorer nan mengabdi di pelosok, tetap jauh dari kata layak.
Narasi pengabdian kerap dimanipulasi untuk menutupi ketidakadilan bayaran di lapangan. Label 'ikhlas' menjadi tameng atas kebenaran bahwa ada pembimbing nan menerima bayaran sangat rendah, apalagi menyentuh nomor nol rupiah. Bagaimana kita berambisi seorang pembimbing memberikan nan terbaik di kelas sementara kebutuhan dasarnya sendiri belum terpenuhi? Negara nan betul-betul menghargai pendidikan akan, pertama-tama, menghargai manusia nan menjalankannya.
Selain soal kesejahteraan, pengembangan ahli pembimbing kudu menjadi prioritas nan berkelanjutan, bukan sekadar program insidental nan muncul menjelang pertimbangan kebijakan. Guru nan terus belajar bakal melahirkan siswa nan juga tidak berakhir belajar. Guru nan mempunyai kemerdekaan mengajar bakal bisa mencurahkan energinya sepenuhnya ke dalam proses mendidik.
KURIKULUM YANG MEMBEBASKAN
Hampir setiap pergantian pemerintahan selalu diikuti pergantian kurikulum. Dewey (1938) mengingatkan bahwa pendidikan bukanlah persiapan untuk kehidupan, melainkan kehidupan itu sendiri. Mendikdasmen mengantisipasi kegelisahan itu melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 dengan menguatkan kurikulum nan sudah ada melalui pendekatan pembelajaran mendalam. Harapannya, stabilitas pendidikan bakal lebih berbobot daripada kebaruan.
Pembelajaran mendalam menekankan tiga aspek utama, ialah mindful (sadar), meaningful (bermakna), dan joyfulb (menyenangkan). Murid tidak lagi sekadar menghafal materi, tetapi juga didorong memahami secara utuh, menghubungkan antarkonsep, dan menerapkannya dalam konteks nan berbeda. Bentuk perlawanan terhadap banking system (Freire, 1968) nan mereduksi siswa sebagai tabungan kosong nan tinggal diisi pengetahuan oleh guru.
Bloom (1956) menguatkan bahwa menghafal hanyalah tangga paling bawah dari keahlian kognitif manusia. Tangga teratas, ialah menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta, justru nyaris tidak pernah dijangkau sistem kita selama ini. Hasil TKA membuktikan banking system dalam pendidikan telah membudaya.
Konsistensi penuh perlu dilakukan jauh melampaui satu periode jabatan. Vygotsky (1978) menekankan bahwa pembelajaran dapat berarti jika ada pendampingan nan tepat. Disparitas dua bumi pendidikan perlu dijembatani sehingga sekolah di perdesaan dapat berlari berbareng sekolah-sekolah di kota. Hasil TKA nan melorot tajam adalah luka nan kudu diakui, bukan disembunyikan, dan pengakuan itulah nan menjadi syarat pertama penyembuhan.
PENDIDIKAN SEBAGAI PROYEK KEBANGSAAN
Pada akhirnya, pendidikan adalah proyek kebangsaan nan paling panjang sekaligus paling menentukan. Infrastruktur jalan bisa dibangun dalam hitungan tahun. Infrastruktur manusia memerlukan generasi. Investasi pada pendidikan bukanlah pengeluaran biasa, melainkan tabungan peradaban nan hasilnya baru terasa jauh setelah kebijakan itu sendiri dilupakan. Layaknya orangtua menanam pohon jati nan bakal dipanen cucunya.
Tema Hardiknas 2026 tentang partisipasi semesta berarti jika dia bergerak dari semboyan menjadi tindakan nyata di lapangan. Guru nan sejahtera bukan kemewahan, melainkan prasyarat. Kurikulum nan stabil bukan kemewahan, melainkan keadilan bagi pembimbing nan sudah berulang kali dipaksa beradaptasi. Murid nan bisa berpikir kritis bukan kemewahan, melainkan kebutuhan peradaban.
Membaca arah pendidikan Indonesia hari ini mengharuskan kita jujur mengakui bahwa progres memang telah ada, tetapi tetap belum cukup. Kesenjangan tetap ada. Integritas sistem tetap rapuh. Guru tetap terdegradasi. Tantangan digital pun tetap menunggu respons aktif pemerintah.
Di kembali keriuhan itu, angan tetap hidup melalui guru. Guru rela mengajar di sekolah terpencil, mempunyai inisiatif bertumbuh, dan mulai mendengarkan, bukan lagi banyak mendikte. Hardiknas bukan sekadar seremoni masa lalu. Ia undangan terbuka untuk merumuskan arah kompas pendidikan Indonesia.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·