Awas Perang Arab! Trump 'Kompori' Negara Muslim Ini Invasi Pulau Iran

Sedang Trending 46 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah pejabat Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah mendorong Uni Emirat Arab (UEA) untuk merebut salah satu pulau milik Iran di Teluk Persia. Mengutip laporan media Inggris The Telegraph pada Minggu (17/05/2026), bocoran ini muncul di tengah membengkaknya biaya perang Washington dan menipisnya stok rudal mereka.

Pulau nan menjadi sasaran tersebut adalah Lavan, salah satu pusat ekspor minyak lepas pantai utama Iran nan menampung prasarana kilang, penyimpanan, dan pemuatan tanker nan terhubung ke beberapa lapangan minyak mentah besar. Wilayah strategis ini diketahui juga berada di atas persediaan gas alam nan sangat besar.

Rencana provokatif ini dikabarkan datang langsung dari lingkaran dalam kekuatan utama di Washington, nan menyarankan agar UEA segera mengambil alih kendali pulau milik Iran tersebut pada Sabtu.

"Ambil saja pulau-pulau itu! Itu bakal menjadi pengerahan tentara UEA di lapangan, alih-alih tentara AS," kata seorang mantan pejabat senior keamanan era Presiden Donald Trump nan dikutip oleh media tersebut.

Proposal nan dilaporkan ini mencerminkan tekanan nan lebih luas di Washington untuk mengurangi keterlibatan militer langsung Amerika Serikat seiring dengan perang melawan Iran nan sekarang telah memasuki bulan ketiga.

Pejabat Pentagon apalagi telah menyampaikan laporan mengejutkan kepada Kongres AS pada bulan ini mengenai besarnya biaya nan telah dihabiskan untuk mendanai pertempuran tersebut. Pentagon mengungkapkan bahwa perang ini telah merugikan AS sekitar US$ 29 miliar (Rp 507,5 triliun), nan sebagian besar mengenai dengan pengeluaran rudal dan operasi pertahanan udara.

Sementara itu, para analis pertahanan AS dan publikasi militer telah memperingatkan bahwa serangan intensif selama berminggu-minggu nan melibatkan pencegat THAAD, sistem Patriot, dan rudal jelajah Tomahawk telah secara signifikan menghabiskan persediaan persenjataan milik Amerika Serikat.

Pentagon sejak saat itu langsung mempercepat upaya untuk mengisi kembali inventaris mereka dengan senjata bermassa murah nan diproduksi oleh perusahaan pertahanan baru, daripada hanya mengandalkan kontraktor militer tradisional.

Dorongan nan dilaporkan untuk keterlibatan Emirat nan lebih besar ini juga muncul di tengah keengganan nan meluas di antara sekutu-sekutu AS lainnya untuk memperdalam partisipasi langsung mereka dalam bentrok tersebut. Meskipun Washington telah menekan para mitranya untuk keterlibatan militer nan lebih besar melawan Iran, termasuk operasi angkatan laut di Selat Hormuz, beberapa personil NATO di Eropa seperti Jerman, Spanyol, dan Inggris secara terbuka menjauhkan diri dari perang.

Di sisi lain, UEA justru muncul sebagai salah satu negara area nan bergerak paling dekat dengan Washington dan Israel selama perang berlangsung. Pihak Teheran pun menuduh Abu Dhabi berfaedah sebagai pangkalan musuh untuk operasi AS dan Israel, serta membalas dengan menyerang target-target di wilayah Emirat.

Pasukan Emirat sendiri dilaporkan telah melakukan serangan rahasia terhadap target-target Iran selama bentrok ini membara, termasuk serangan ke Pulau Lavan pada bulan April lalu.

Arab Saudi dikabarkan juga telah melakukan serangan terbatas terhadap Iran, namun sekutu Riyadh tersebut memilih menolak upaya Emirat untuk mengorganisir kampanye militer Teluk nan terkoordinasi melawan Republik Islam tersebut.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News