Sebuah startup asal Virginia, Amerika Serikat, berjulukan Operation Bluebird mencoba membangkitkan media sosial “burung biru” dengan meluncurkan Twitter.now, pada Senin (24/8). Perusahaan tersebut meyakini nama dan logo Twitter telah ditinggalkan oleh Elon Musk setelah mengakuisisi medsos tersebut pada 2022 dan mengganti nama menjadi X.
Operation Bluebird percaya perubahan nama X membikin kewenangan kekayaan intelektual atas nama dan identitas Twitter terbengkalai, sehingga dapat diklaim kembali. Namun, langkah ini tetap berhadapan dengan sengketa norma dengan X Corporation.
Di sisi lain, Twitter.now datang dengan tampilan nan menyerupai Twitter jenis lama dan membawa fitur baru berupa pemeriksaan kebenaran otomatis berbasis kepintaran buatan (artificial intelligence/AI) Gemini berjulukan Vera. Untuk sementara, platform tersebut baru digunakan oleh ratusan pengguna sebagai founding member dengan bayar sebesar 20 dollar AS untuk mendapatkan akses awal. Sementara untuk jenis gratis, tetap belum tersedia.
Stephen Coates, salah satu pendiri Operation Bluebird sekaligus penasihat norma utama Twitter.now, mengatakan perusahaan telah menunggu berbulan-bulan untuk meluncurkan platform tersebut.
“Kami adalah perusahaan kecil, kami mempunyai investor, dan kami mempunyai produk. Kami sudah menunggu berbulan-bulan untuk meluncurkannya, dan kami tidak bakal menunggu lagi,” kata Coates sebagaimana dikutip Ars Technica.
Gagasan menghidupkan kembali Twitter bermulai setelah Musk membeli Twitter pada 2022. Tidak lama setelah akuisisi, Musk mengganti nama perusahaan menjadi X. Coates dan timnya menilai keputusan tersebut membikin identitas dan kekayaan intelektual Twitter ditinggalkan. Kondisi itu membuka kesempatan bagi Operation Bluebird untuk menyatakan kembali merek jual beli Twitter.
Namun, X Corporation tidak tinggal diam. Perusahaan tersebut menggugat Operation Bluebird pada akhir 2025 dan meminta pengadil federal di Delaware mengeluarkan larangan sementara agar jenis baru Twitter tidak diluncurkan.
Perkembangan krusial terjadi dalam persidangan pada April 2026. Hakim Pengadilan Distrik AS, Colm Connolly, menyampaikan putusan sementara bahwa X tampaknya telah melepaskan klaim kekayaan intelektual atas kata “tweet” dan logo burung Twitter. Hakim apalagi menyebut kemungkinan perihal serupa bertindak untuk nama “Twitter”.
Meski demikian, hingga sekarang pengadil belum mengeluarkan putusan tertulis. Bagi Coates, pernyataan pengadil tersebut sudah cukup menjadi lampu hijau untuk melanjutkan rencana mereka.
“Menurut pendapat kami, X telah meninggalkan haknya atas merek jual beli Twitter dan tweet,” ujar Coates.
Bukan Bagian dari X
Meski mengusung kembali nama Twitter, Operation Bluebird berupaya menegaskan bahwa Twitter.now bukan bagian dari X Corporation. Di situsnya, perusahaan tersebut menyatakan bahwa Operation Bluebird mengambil nama nan telah ditinggalkan X Corporation dan membangunnya kembali dengan pendekatan berbasis kepercayaan.
Mereka juga secara definitif menyatakan: “Kami bukan X dan tidak berafiliasi dengan X Corp.”
X Corporation, Elon Musk, maupun Andrew Mayo nan merupakan salah satu pengacara X, belum memberikan tanggapan mengenai peluncuran Twitter.now ini. Untuk sekarang, Twitter.now tetap berada dalam tahap awal dan baru mempunyai ratusan pengguna.
Secara tampilan maupun fungsi, jejaring sosial tersebut dibuat menyerupai Twitter sebelum era X. Pengguna dapat membalas unggahan alias melakukan retweet, dua fitur nan sudah menjadi karakter unik Twitter.
Bawa Fitur Cek Fakta Berbasis AI
Salah satu fitur baru nan menjadi pembeda Twitter.now adalah sistem pemeriksaan kebenaran otomatis berjulukan Vera. Vera merupakan veracity engine alias mesin verifikasi berbasis AI Gemini nan dirancang untuk melakukan kajian secara real-time terhadap setiap unggahan.
Coates apalagi telah menguji keahlian Vera dengan mengunggah info salah, di antaranya klaim bahwa George Washington merupakan presiden kedua Amerika Serikat. Operation Bluebird mengatakan tujuan utama mereka adalah membangun kembali ruang publik digital nan lebih kondusif dan tidak terlalu rawan bagi pengguna.
“Kami mengatakan kebebasan berbicara, bukan kebebasan untuk menjangkau,” kata Coates.
Menurutnya, pengguna tetap kudu mempunyai kebebasan untuk menyampaikan pendapat. Namun, platform juga tidak mau berjuntai secara finansial pada konten viral nan rawan alias tidak akurat.
Di sisi lain, Josh Gerben, pengacara merek jual beli nan berbasis di Washington DC dan mengikuti kasus ini, mengatakan Operation Bluebird memang mempunyai teori norma nan memungkinkan mereka menyatakan bahwa X Corporation telah meninggalkan merek jual beli Twitter. Namun, menurutnya, persoalan tersebut tetap jauh dari kata selesai.
Gerben menilai keputusan Operation Bluebird meluncurkan Twitter.now menunjukkan keberanian lantaran X Corporation kemungkinan bakal memberikan perlawanan lebih lanjut.
“Ini satu perihal ketika mereka hanya mengusulkan permohonan merek dagang. Sekarang setelah mereka meluncurkannya, bakal ada respons lain dari X Corporation,” kata Gerben.
Menurutnya, peluncuran Twitter.now membikin sengketa antara kedua pihak memasuki babak baru dan meningkatkan tensi kasus tersebut.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·